Ramai Aksi Beli, IHSG Bergerak Menguat

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 34,996 poin (0,78%) ke level 4.441,724. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 6,433 poin (0,86%) ke level 743,149. Meski banyak sentimen positif yang beredar, derasnya aksi jual investor belum mampu mengangkat indeks BEI di zona hijau.

Analis PT Anugerah Securindo Inddah, Bertoni Rio mengatakan, depresiasi rupiah menjadi salah satu pendorong indeks BEI kembali melemah, “Spekulasi pasar terhadap suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang diperkirakan meningkat menambah sentimen negatif bagi IHSG BEI,”katanya di Jakarta, Senin (11/11).

Dia menuturkan, melihat fluktuaktifnya nilai tukar rupiah serta data neraca perdagangan berjalan Indonesia yang mengalami defisit sebesar US$ 660 juta, BI rate berpotensi naik sebesar 25 bps menjadi 7,50%. Pasalnya, jika hal itu terjadi maka akan dapat memberatkan pertumbuhan emiten pada kuartal IV 2013.

Bertoni Rio menambahkan, pemberat menguatnya indeks BEI pada Senin awal pekan ini juga dipicu dari pelaku pasar asing yang kembali mengambil posisi jual. Tercatat pelakua pasar asing membukukan jual bersih (foreign net sell) mencapai Rp870 miliar.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat. Pada perdagangan kemarin, aksi jual dilakukan oleh investor asing dan domestik. Tujuh sektor pun melemah dengan koreksi rata-rata lebih dari satu persen. Tiga sektor masih bisa naik, yaitu tambang, manufaktur, dan aneka industri.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 163.708 kali pada volume 4,343 miliar lembar saham senilai Rp 5,158 triliun. Sebanyak 82 saham naik, sisanya 159 saham turun, dan 104 saham stagnan.

Bursa-bursa regional menutup perdagangan awal pekan dengan kompak menguat di jalur hijau. Bursa saham Hong Kong dan Jepang melonjak hingga lebih dari satu persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.250 ke Rp 36.850, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 850 ke Rp 30.550, Siantar TOP (STTP) naik Rp 350 ke Rp 1.950, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 350 ke Rp 12.550.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 6.500 ke Rp 175.500, Lion Metal (LION) turun Rp 1.000 ke Rp 13.000, Mayora (MYOR) turun Rp 550 ke Rp 28.450, dan Unilever (UNVR) turun Rp 350 ke Rp 29.800.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 34,704 poin (0,78%) ke level 4.442,016. Sementara Indeks LQ45 anjlok 6,340 poin (0,84%) ke level 743,242. Pergerakan fluktuatif indeks pun tak berjalan lama. Aksi jual langsung menekan indeks sampai jatuh ke titik terendahnya di 4.433,212.

Saham-saham komoditas masih bertahan positif. Indeks sektor agrikultur dan tambang masih menghijau. Sayangnya delapan sektor lain melemah sehingga indeks sulit bergerak ke atas. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 96.578 kali pada volume 2,334 miliar lembar saham senilai Rp 2,6 triliun. Sebanyak 68 saham naik, sisanya 134 saham turun, dan 97 saham stagnan.

Pergerakan bursa-bursa regional masih sama seperti diawal, rata-rata melenggang di zona hijau. Hanya pasar saham China dan Indonesia yang masih melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 250 ke Rp 29.950, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 200 ke Rp 12.400, United Tractor (UNTR) naik Rp 150 ke Rp 19.500, dan Waran Inovisi (INVS-W) naik Rp 150 ke Rp 1.310.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Lion Metal (LION) turun Rp 1.000 ke Rp 13.000, Matahari (LPPF) turun Rp 450 ke Rp 11.050, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 350 ke Rp 5.100, dan Unilever (UNVR) turun Rp 300 ke Rp 29.850.

Pada pembukaan perdagangan, indeks BEI dibuka turun 3,32 poin atau 0,07% ke posisi 4.480,04. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,73 poin (0,10%) ke posisi 748,86. Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, laju IHSG cenderung melemah seiring dengan bursa saham Asia yang mayoritas masih di area negatif, “Masih adanya transaksi jual asing diiringi beredarnya spekulasi percepatan pengurangan (tappering-off) stimulus keuangan The Fed membuat IHSG tidak kuasa menahan pelemahan," kata dia.

Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga menahan diri menjelang pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur BI pekan ini yaitu 12 November 2013. Oleh karena itu, dirinya memperkirakan, indeks BEI Senin awal pekan akan berada di posisi 4.460-4.498. Secara teknikal IHSG dapat menguat dengan asumsi, laju IHSG mampu keluar dari batas atas garis tren pelemahan yang berada di kisaran 4.480-4.485.

Sementara itu, Tim Analis Teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa indeks BEI masih berpotensi mengalami penguatan pada awal pekan dengan bergerak di kisaran 4.454-4.508. Dari dalam negeri semua sentimen negatif diyakini telah terakumulasi oleh pasar. Investor kini berpusat pada isu 'tapering' stimulus keuangan the Fed yang kabarnya akan dilakukan pada Desember mendatang. Sementara itu bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 44,19 poin (0,09%) ke level 22.700,20, indeks Nikkei-225 naik 176,85 poin (1,26%) ke level 14.263,65, dan Straits Times melemah 0,52 poin (0,02%) ke posisi 3.176,73. (bani)

Related posts