Perkuat Modal, WOMF Terbitkan Obligasi Rp1 Triliun 2014 - Antisipasi Kondisi Pasar

NERACA

Jakarta- PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I WOMF tahap pertama 2014 sebesar Rp 1 triliun. Langkah ini dilakukan untuk mendukung target pembiayaan di tahun 2014 mendatang. “Sebenarnya untuk kuartal IV tahun ini. Tapi karena melihat marketnya kurang tepat, kita undur awal tahun depan. Obligasi tahap I kita terbitkan senilai Rp1 triliun.” kata Presiden Direktur WOMF, Djaja S. Sutandar di Jakarta, Senin (11/11).

Menurut dia, nilai Obligasi berkelanjutan tahap pertama yang akan diterbitkan perseroan pada tahun depan sebanyak-banyaknya hingga Rp1 triliun, dari total rencana obligasi berkelanjutan sebesar Rp2,5 triliun. Dengan penerbitan obligasi ini diharapkan dapat mendukung target pembiayaan WOMF sebesar Rp6 triliun di tahun 2014.

Angka tersebut, kata dia, meningkat sekitar 9% jika dibandingkan dengan target pembiayaan hingga akhir tahun ini yang sebesar Rp5,5 triliun. Selain dana yang diperoleh dari obligasi, pihaknya juga akan mendapatkan dana dari induk usahanya, Bank BII sebesar 60% dari total dana yang dibutuhkan atau sekitar Rp3,6 triliun. “Sisanya, akan didapatkan dari pinjaman bank lain.” ujarnya.

Meski demikian, untuk saat ini dia masih enggan menjelaskan secara detail berapa kisaran kupon yang akan ditawarkan perseroan dalam penerbitan obligasinya tersebut. Juga perusahaan sekuritas yang akan bertindak sebagai penjamin emisi (under writer), serta wali amanat untuk penerbitan obligasi ini. “Kita lihat kondisi market. Kupon bunganya kemungkinan akan di bawah 10%,” ucapnya.

Selain pasar saham, ekspektasi kenaikan inflasi yang lebih tinggi di akhir tahun berimbas pada kinerja pasar obligasi. Salah satunya, permintaan imbal hasil (yield) yang akan terus bergerak naik sehingga penerbit mau tidak mau harus membayar biaya lebih mahal akibat suku bunga (kupon) yang diminta investor mengalami kenaikan signifikan.

Analis obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, kenaikan yield tidak hanya pada obligasi korporasi, namun juga obligasi pemerintah. “Investor akan meminta kenaikan yield yang diminta pada setiap lelang. Secara historis, untuk seri SPN ada kenaikan 5-10 bps untuk yield yang dimenangkan. Sementara untuk seri FR itu bervariasi mulai dari 30-70 bps.” katanya.

Menurut dia, hal tersebut disebabkan investor sudah berekspektasi angka inflasi masih akan mengalami peningkatan, apalagi kemudian BI rate juga naik. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kupon sehingga dapat terserap pasar dengan baik. “Kalau dari sisi demand saat ini belum ada masalah sehingga yang dilakukan penerbit adalah dengan menaikkan kuponnya sehingga tetap menarik.” ucapnya.

Salah satu perusahaan yang lebih dulu menawarkan obligasi antara lain PT Duta Anggada Realty Tbk. Perseroan menerbitkan obligasi berkelanjutan tahap I dengan jumlah pokok obligasi senilai Rp 500 miliar. “Kupon obligasi berkisar antara 11,75% hingga 12,25%,” kata Direktur Utama Duta Anggada Realty, Ventje Suardana.

Obligasi yang diterbitkan ini berjangka waktu lima tahun dengan bunga yang dibayarkan setiap tiga bulan. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberi peringkat A minus single untuk PT Duta Anggada Realty. Rencananya, dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk pendanaan biaya pembayaran utang jangka pendek perbankan. “Utang perbankan yang jatuh tempo jangka pendek sejumlah Rp 250 hingga Rp 300 miliar.” jelasnya. (lia)

Related posts