Pemerintah Klaim Harga Daging Mulai Turun

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengklaim harga daging mulai turun. Hal itu terjadi lantaran telah datangnya sapi-sapi impor. Ia mengatakan harga daging telah normal yaitu dikisaran Rp85.000, sementara harga daging impor beku di kisaran Rp 70.000-80.000. “Minggu lalu baru dipotong, sudah bergulir terus. Kalau yang beku, diimpor Rp 70.000 sampai Rp 80.000. Pasar tradisional turun ke Rp 85.000, kita dulu bilang segitu,” ujarnya di Jakarta, Senin (11/11).

Gita menjelaskan kapal yang mengangkut sapi-sapi impor telah datang di Indonesia sehingga sudah masuk proses pemotongan dan mulai di distribusikan. Kapal sudah tiba sejak 1-2 hari lalu. Impor sapi sudah mulai ngalir, harga mulai turun, kita mau turunin terus dan kita akan datangkan (daging impor) lebih banyak lagi,” jelasnya.

Hingga akhir tahun ini, pihaknya mengaku telah memberikan izin impor 75.000 ekor sapi siap potong yang didatangkan dari Australia. Walaupun harga sudah mulai normal, Gita akan tetap mencoba meningkatkan pasokan daging dan sapi bakalan yang impor. “Ini sudah mulai bergulir dan harga sudah mulai turun tapi kita akan coba tingkatkan lagi,” jelasnya.

Gita beralibi, impor tetap diberlakukan lantaran pasokan daging dari dalam negeri masih kurang. Tidak hanya Australia, daging impor juga bisa didatangkan dari negara lain. “Siapa saja boleh, distribusi juga, siapa saja biasa. Suplai masih kurang, harus tingkatkan suplai kita,” tegasnya.

Meski pemerintah menyatakan harga daging mulai mengalami penurunan, akan tetapi penjual daging sapi di Pasar Minggu masih menjual harga daging di kisaran Rp100 ribu per kilogram (kg). Para penjual daging sapi tidak mau dianggap mendapat untung besar seiring masih tingginya harga daging sapi yang hingga kini bertahan pada harga Rp 100 ribu per kilogram (kg).

“Harganya masih tetap Rp 100 ribu per kg, untung yang kami dapat juga tetap sama, paling nggak lebih dari Rp 5.000 per kg. Sama saja walaupun harganya turun jadi Rp 75 ribu, atau naik jadi Rp 130 ribu, ya untung kami segitu-segitu saja,” kata pedagang daging, Wajid.

Hal senada dikatakan Surdi. Menurut dia, harga daging sapi cenderung bertahan lama dan sulit untuk turun bila harganya sudah naik. Masih tingginya harga daging sapi ini dikatakan merupakan bentuk kegagalan dari pemerintah dalam menjaga harga daging sejak awal. “Kalau daging harganya sudah naik ya memang susah turun lagi. Mestinya dari awal pemerintah jaga pasokan. Jadi dari dulu harganya nggak naik. Kalau sudah naik, baru mau diturunin, ya susah,” tambah dia.

Surdi mengaku tidak masalah jika harga daging harus turun. Asalkan harga dari pemotongan juga turun. “Kita kan ambil untungnya juga nggak banyak. Kalau mau turun ya dari pemotongan juga harus turun. Malah bagus kalau turun, jualnya lebih gampang, kalau mahal-mahal kan pembeli juga enggak mau,” tandas dia. Berdasarkan data Kemendag, harga daging belum terlihat tren penurunan. Harga daging masih dikisaran Rp93.000 per kg. Data terakhir pada 8 November, harga mencapai Rp93,375 per kilogram.

Sementara itu, Asosiasi Pedagang Pasar (APP) mengatakan harga daging yang saat ini masih melambung tinggi bukti ketidakmampuan pemerintah dalam menstabilkan harga. Padahal, pemerintah telah memberlakukan kebijakan impor. “Yang saat ini terjadi bukan karena kami tidak mengusahakan agar daging tersebut turun. Ini juga disebabkan adanya permainan kartel. Ini tanggung jawab pemerintah seharusnya,” ujar Ketua APP, Ngadiran.

Pemerintah sebetulnya sudah berjanji akan menurunkan harga daging sapi pasca Lebaran Idul Adha. Kenyataannya hingga saat ini harga tak jua turun. “Menteri kan sudah berjanji harga daging turun sampai sekitar Rp 65.000 sampai Rp 70.000. Nyatanya sudah hampir setahun belakangan ini, harga komoditas itu masih tetap melambung tinggi, yakni sekitar Rp 95.000 bahkan Rp 110.000 per kilo,” kata Ngadiran.

Ngadiran menegaskan praktik kartel daging ini sudah merugikan semua pihak. Pasalnya, selisih harga ideal dan jual saat ini sangat tinggi. “Jika harga stabil itu kisarannya Rp 70.000 sampai Rp 75.000 per kilo, berarti selisihnya cukup besar. Bayangkan jika di kalikan ribuan ton, siapa yang menikmati, rakyat atau bukan,” tambahnya.

Related posts