Kepincut Udang, Kadin Gelontorkan Rp20 Milliar - Perikanan Budidaya

NERACA

Karawang – Tingginya permintaan ekspor dan tingginya harga udang saat ini menjadi magnet para investor untuk bisa berinvestasi di perikanan budidaya jenis Udang, tidak terkecuali Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Kelautan dan Perikanan. Dalam jangka pendek ini akan berinvestasi sebesar Rp 20 milliar untuk budidaya udang.

“Melihat potensi perikanan budidaya terutama udang, kami dari kadin berencana untuk dapat berinvestasi sebesar Rp 20 milliar,” kata Yugi Prayanto, Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin, saat melakukan kunjungan yang didampingi Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Balai Layanan Usaha (BLU) Produksi Perikanan Budi Daya (PPB) Karawang, Jawa Barat, Sabtu (9/11).

Investasi ini sambung Yugi merupakan tahap awal bagi Kadin untuk berinvestasi di perikanan budidaya, dan untuk sementara baru udang saja mengingat saat ini permintaan dan harga udang yang lagi tinggi. Namun demikian jika hasilnya bagus tidak menuntut kemungkinan untuk investasi perikanan budidaya lain melihat perkembangannya.

“Ini kami baru star up, dan boleh dibilang sebagai gerbang pertama dalam investasi diperikanan budidaya terutama udang, dan kami tidak menuntut kemungkinan untuk invest diperikan budidaya lain melihat perkembangan yang ada,” imbuhnya.

Adapun dalam tahap awal ini, merupakan program yang berlangsung selama 1 tahun yang akan dimulai per-Januari tahun 2014 nanti, rencananya akam mengelola sekitar 10 hektar tambak yang ada di Karawang, Jawa Barat ini dengan dana sekitar 15 milliar sampai dengan 20 milliar. “hari ini kunjungannya kesini untuk meilhat dan memantapkan akan investasi yang akan dikeluarkan dalam tahap awal ini,” sambungnya.

Untuk itu, dari kunjungan ini nantinya akan menjadi bahan untuk lebih memantapkan khususnya untuk para anggota Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan agar dapat turut serta dalam investasi perikanan budidaya ini. “Kami akan dorong agar para anggota mau berinvestasi disini,” pungkasnya.

Sedangkan menurut Harry Lukminto, Head of Permanent Commitee for Business Development of Aquaculture, Processing and International Relations, mengatakan, diprediksikan pasar ekspor setiap tahun akan meningkat, karena sesuai dengan data dari WHO produksi udang dunia pada tahun 2030 akan berkurang. “Inilah kesempatan bagi para petambak nasional untuk bisa menguasai pasar udang International,” katanya.

Kompetitor untuk pasar udang, seperti Thailand saat ini ada penurunan produksi sekitar 50%, dari sini menjadikan peluang besar bagi Indonesia untuk dapat menjaring pasar International lebih besar lagi dari sekarang. “Harapannya kedepan Indonesia mampu memproduksi lebih besar lagi, sehingga ekspor juga bisa diperbanyak dan diperluas lagi,” ujarnya.

Asing Dibatasi

Diakui oleh Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), saat ini invetasi perikanan budidaya masih tergolong minim, padahal potensi yang ada masih sangat luas, dari data sekitar 1,2 juta hektar tambak yang ada di Indonesia, baru 30% yang bisa digarap. Maka dari itu, saat ini perlu menjaring investor baik dari lokal maupun investor asing. “Saat ini banyak investor baik lokal maupun asing yang berminat untuk investasi di perikanan budidaya, namun begitu lebih kami perioritaskan dari lokal, makanya kami menggandeng Kadin agar mau berinvestasi disini,” kata Dirjen.

Adapun untuk investor asing, masih akan diberikan kuota untuk investasi hanya untuk ikan-ikan ekspor saja itu pun dibatasi karena memang harapannya investor lokal yang dapat merajai perikanan nasional.

Karena memang dengan adanya program-program yang telah dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan bisa menggugah dan menjadi spirit para investor lokal dapat dan mau berinvestasi di perikanan. “Semoga ada pelaku usaha lokal baru yang terus bermunculan disektor perikanan,” harapnya.

Karena memang tidak dipungkiri ,elihat potensi perikanan nasional saat tinggi, sekarang sudah banyak investor asing seperti dri China, Thailand, yang sudah masuk dan sudah berjalan dibebrapa daerah daerah Jawa Barat, dan Jawa Tengahj mereka sudah menggarap kurang lebih 10 hektar buat awalan. “Asing saja mau investasi disini, harusnya para investor lokal jangan mau kalah,” tutupnya.

Related posts