Garap Bisnis Properti, Astra Telan Dana Rp 7 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Astra Internasional Tbk (ASII) berencana menjajaki bisnis properti dengan membangun gedung setinggi 50 lantai dan 3 residensial di kawasan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat dengan nilai investasi sekitar Rp7 triliun. Perseroan akan membangun menara Astra dan residensial diatas lahan 2,4 hektar yang saat ini ditempati PT Toyota Honda Motor.

Rencananya, menara Astra akan dibangun di depan dan residensial sebanyak 3 gedung berada di belakangnya. Menara Astra tersebut nantinya akan digunakan sendiri dan rencananya tidak akan dijual, sementara untuk residensial akan dijual ke masyarakat. Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Prijono Sugiarto mengatakan bahwa rencana perseroan tersebut sudah memasuki masa penjajakan dan berjalan dengan baik. Selain itu, dia juga menegaskan bahwa perseroan masuk ke bisnis properti bukan tanpa tujuan karena kelas menengah di Indonesia terus tumbuh dengan pesat, “Menara akan kita gunakan sendiri, sementara residensial akan kita coba jual ke masyarakat. Jika semuanya berjalan lancar, dalam 4 tahun akan selesai pembangunannya. Rencana ekspansi perseroan yang tengah dijajaki ini, juga telah dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK)”, jelasnya di Bandung, Jawa Barat (8/11).

Dia menambahkan saat ini proyek tersebut menuju proses pemancangan tiang pertama (groundbreaking) dan akan digarap bersama dengan perusahaan properti asal Hongkong, Hongkong Land Group. Perseroan membuktikan keseriusannya dalam bisnis properti dengan membentuk satu tim yang bertugas menjajaki peluang di sektor properti.“Meski memulai bisnis baru di sektor properti, perusahaan akan tetap mengandalkan bisnis intinya seperti otomotif, perkebunan, pertambangan dan jasa keuangan untuk menjadi andalan pada tahun depan”, katanya.

Sementara itu, untuk belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan menargetkan capex mencapai Rp17,8 triliun pada 2014. Jumlah ini lebih besar dibandingkan target 2013 sebesar Rp15 triliun.“Capex secara combine termasuk asosiasi dengan join venture mencapai Rp17,8 triliun pada 2014. Target termasuk perusahaan terkonsolidasi maupun asosiasi”, ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa target capex 2013 sebesar Rp15 triliun akan tercapai, karena hingga periode ini hampir mendekati Rp10 triliun.“Capex 2013 memang kita turunkan karena faktor depresiasi rupiah. Capex itu untuk pembangunan pabrik, karena rupiah terdepresiasi sementara capex untuk membuat pabrik ke 4 dengan mata uang asing. Sehingga dengan adanya kondisi ini, ada beberapa yang dinegoisasi ulang”, jelasnya.

Laba Bersih

Hingga September 2013, perseroan membukukan laba bersih Rp13,5 triliun atau turun 8% dari Rp14,7 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Laba bersih per saham juga ikut turun 8% menjadi Rp333 per saham.Penurunan ini disebabkan adanya penurunan pendapatan dari Rp143,14 triliun pada September 2012 menjadi Rp141,84 triliun pada September 2013.

Beban Pokok perseroan mengalami kenaikan dari Rp115,85 triliun menjadi Rp116,47 triliun. Beban Usaha perseroan mengalami kenaikan dari Rp12,04 triliun menjadi Rp12,91 triliun. Rincian pendapatan perseroan berdasarkan segmen operasi pada September 2013 yaitu Otomotif Rp80,68 triliun, Jasa Keuangan Rp10,42 triliun, Alat Berat dan Pertambangan Rp37,30 triliun, Agribisnis Rp8,32 triliun, Infrastruktur dan Logistik Rp5,65 triliun, Teknologi Informasi Rp1,46 triliun dan Eliminasi Antar Segmen rugi Rp1,96 triliun. Dia menjelaskan, meskipun volume penjualan otomotif dalam kondisi baik, pendapatan perseroan masih dipengaruhi ketatnya kompetisi pada pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, serta menurunnya harga komoditas. Diperkirakan, kondisi bisnis hingga akhir 2013 ini tidak akan terlalu banyak berubah. (nurul)

Related posts