Lunasi Utang, IATA Konversi Saham Rp 460 Miliar

NERACA

Jakarta – PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) berencana untuk melunasi sebagian hutangnya dengan skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (Non HMETD) dengan target dana mencapai Rp460 miliar. Perseroan memiliki hutang pada 2 kreditur yaitu PT Sendilifa Bergerak dan Oxley Capital Investment LTD senilai Rp457,86 miliar. Sampai dengan bulan Oktober 2013, perseroan memiliki saldo hutang sebesar Rp855,48 miliar. Dengan adanya rencana Non HMETD ini, menjadi salah satu cara perseroan untuk meningkatkan struktur permodalannya.

Direktur Keuangan PT Indonesia Air Transport Tbk David M Soetiarto mengatakan, perseroan akan menggunakan skema konversi hutang ke saham atau debt to equity swap untuk melunasi sebagian hutangnya.“Maksimal dana yang diharapkan dan NON HMETD sekitar Rp460 miliar, dengan harga persaham Rp96”, ujarnya di Jakarta, Kamis (7/11).

Dia menambahkan, kedua kreditur tersebut nantinya akan membentuk satu konsorsium untuk menjadi pemegang saham dalam perseroan. Dengan skema ini, nantinya menjadi pemegang saham mayoritas di tubuh Indonesia Air Transport.“Dimana sekitar 51,1% kepemilikan saham pemegang saham lama akan terdiliusi, digantikan oleh masuknya konsorsium tersebut”, katanya.

Dalam mengambil langkah ini, perseroan telah disetujui para pemegang saham. Selain itu perseroan juga mengganti namanya menjadi PT Indonesia Transport dan Infrastruktur untuk meningkatkan ekuitas perseroan. Jumlah ekuitas perseroan sampai dengan bulan Oktober 2013 tecatat sebesar Rp114,09 miliar dan berpotensi menjadi Rp574,09 miliar.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indonesia Air Transport Tbk Syafril Nasution mengatakan, perseroan berencana akan membangun pelabuhan batubara di wilayah Kalimantan dan Sumatera Selatan pada tahun 2014. Adapun nilai investasi yang terkandung didalam proyek ini ditaksir mencapai US$25 juta dan berasal dari dana perseroan.“Dari poyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap pendapatan konsolidasian”, katanya.

Selain itu, dia menyebutkan pihaknya akan mengembangkan bisnis private jet, yang akan dimulai dengan 1 unit pesawat jet seharga hampir US$11 juta dan didatangkan dari Brazil. Perseroan menargetkan jet tersebut datang pada akhir bulan ini atau paling lama pada awal bulan depan.“Jika ditanya soal klien, dari grup sendiri sudah ada karena memang kebutuhan transportasi udara makin meningkat”, ujarnya.

Mengenai struktur pendanaan ekspansinya, dia mengaku belum ditentukan. Hal ini tergantung total nilai investasinya. Ada kemungkinan dari pemegang saham atau eksternal dan juga belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini.“Dana ekspansi 2014 dari konversi hutang, capex tahun depan belum bisa disebutkan tetapi akan lebih kecil karena sudah banyak melakukan aksi pada tahun ini”, katanya.

Asal tahu saja, kuartal ketiga tahun ini, kinerja keuangan perseroan menurun dengan adanya peningkatan rugi perseroan menjadi Rp78,19 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tetap merugi Rp43,65 miliar. Peningkatan rugi bersih perseroan sejalan dengan penurunan pendapatan pada kuartal ketiga tahun ini. Tercatat pendapatan perseroan turun 1,06% menjadi Rp201,13 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp203,3 miliar. (nurul)

Related posts