Industri Pulp dan Kertas Indonesia Perkuat Kerjasama Regional ASEAN

NERACA

Jakarta - Semakin sengitnya pertarungan industri pulp and kertas di pasar global memang tidak dapat dielakan lagi. Apalagi, dalam waktu dekat Indonesia akan segera memasuki era perdagangan bebas. Untuk itu, sektor industri pulp dan kertas Indonesia berharap dapat memanfatkan momentum dengan membangun sinergi bersama industri sejenis di kawasan Asia Tenggara. Karena, keberadaan sebuah organisasi yang efektif dapat mewakili kepentingan seluruh industri selain untuk menjadi pemimpin pasar dunia, sekaligus mendorong industri pulp dan kertas berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Kemarin, Kamis (7/11), Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 31st Federation of ASEAN Pulp and Paper Industries (FAPPI) Conference 2013 yang diikuti oleh Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Selain itu juga dihadiri delegasi dari Korea Selatan, Jepang dan Taiwan. Selain konferensi yang dihadiri lebih dari 100 delegasi juga diadakan pameran pulp dan kertas.

Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbahul Huda mengungkapkan konferensi ini bertujuan untuk lebih memperkuat kerjasama regional ASEAN dalam industri pulp dan kertas secara lestari. Kerja sama ini mengupayakan terciptanya perlindungan lingkungan yang berkelanjutan, kemajuan ekonomi melalui pembangunan pedesaan dan penciptaan lapangan kerja, inovasi produk, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik sehingga tercapai manfaat kerjasama antar asosiasi yang lebih besar.

“Salah satu tujuan konferensi ini adalah untuk memperkuat Federasi Pulp dan Kertas ASEAN (FAPPI) yang mampu menyuarakan kepentingan industri pulp dan kertas di Asia Tenggara. Hal ini sangat relevan mengingat ASEAN adalah salah satu motor pertumbuhan ekonomi dunia yang di dalamnya terdapat sejumlah perusahaan pulp dan kertas besar dunia,” ujar Misbahul Huda dalam pembukaan 31st Federation of ASEAN Pulp and Paper Industries (FAPPI) Conference 2013 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Kamis (7/11).

Lebih lanjut, Misbahul Huda memaparkan penguatan Federasi Pulp dan Kertas ASEAN ini memiliki arti penting. Antara lain, sebagai forum dialog regional, koordinasi dan kerja sama antarasosiasi industri kertas yang bertujuan bekerja sama dengan masing-masing stakeholder seperti pemerintah, organisasi regional dan internasional, akademisi, pelanggan, produsen dan pemasok.

"Federasi ini nantinya juga akan menjadi ajang menarik bagi anggota asosiasi untuk membahas isu-isu seperti industri berbasis kehutanan termasuk standar pengelolaan hutan lestari, kebijakan dan isu-isu perdagangan serta investasi, perubahan iklim, dan produk-produk berbasis hutan yang ramah lingkungan. Dari sisi organisasi, nantinya diharapkan Federasi Pulp dan Kertas ASEAN bisa mewakili industri pulp dan paper ASEAN di tingkat organisasi internasional juga mengembangkan roadmap industri kertas untuk meningkatkan integrasi ekonomi di kawasan ASEAN,"jelas Huda.

Untuk itu, tambah Huda ,Selaku salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia, pihaknya merasa perlu mengambil sejumlah prakarsa seperti penguatan FAPPI, baik yang bersifat hubungan antar industri, maupun dalam hubungan dengan pemerintah beserta pemangku kepentingan terkait lainnya.

Dalam KTT APEC di Bali yang baru saja berlalu, pemerintah Indonesia berhasil memasukkan prakarsa baru guna mengembangkan perdagangan produk-produk unggulan yang berkontribusi tidak hanya terhadap pembangunan berkelanjutan dan inklusif, tetapi yang juga mendorong pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan, dimana produk berbasis kehutanan seperti pulp dan kertas termasuk di dalamnya. Jika prakarsa tadi berjalan sesuai rencana, produk pulp dan kertas asal Indonesia akan semakin kompetitif di pasar dunia.

Industri Strategis

Di tempat berbeda, Menteri Perindustrian, MS Hidayat mengungkapkan kalau saat ini, pemerintah menempatkan pulp dan kertas sebagai salah satu industri strategis, seperti yang tampak dari kebijakan kami selama ini. Mengantisipasi perdagangan bebas, kemampuan kita melindungi setiap komoditas andalan dari beragam hambatan maupun persaingan global menjadi semakin penting. Salah satu caranya adalah dengan bersinergi dan memperkuat jejaring di lingkup regional dengan negara-negara yang memiliki industri sejenis dan yang menjadi importir komoditas tersebut.

Di sisi lain, Mantan Ketua Kadin ini juga mendorong penerapan industri hijau (green industry) pada sektor pulp dan kertas untuk menggenjot daya saing produk lokal dibandingkan dengan produk luar. Pasalnya isu produk hijau telah menjadi permasalahan yang sering dibahas di sejumlah negara, terutama Eropa.Oleh karena itu, kondisi tersebut perlu disikapi dengan peningkatan peran bidang penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) di sektor industri tersebut.

Menurut dia, isu global tentang ramah lingkungan tersebut akan menjadi topik utama yang dibahas serta penerapan industri hijau sangat mendesak karena dinilai berpengaruh pada ekspor produk pulp dan kertas Indonesia ke sejumlah negara.

Beberapa waktu lalu, ujarnya, sektor pulp dan kertas domestik menghadapi masalah, yakni kampanye hitam salah satu organisasi nonpemerintah dunia (non-governmental organization/NGO) yang mengatakan kertas Indonesia diambil dari hutan yang tidak ramah lingkungan. "Padahal tidak demikianT kertas yang kita produksi itu diambil dari hutan tanaman industri (HTI). Ada sertifikat legalitas kayunya," katanya.

Related posts