Tukarkan Virus ke Ibu-ibu Rumah Tangga

DYAH CHANDRADINI

Wakil Ketua Umum Keluarga Batik Betawi

Tularkan Virus ke Ibu-ibu Rumah Tangga

Walau mengaku baru mengenal batik Betawi sejak 2011, namun Dyah Candradini sudah berani menyebarkan virus industri kerajinan batik Betawi ke kalangan ibu-ibu rumah tangga. Mereka dilatih dalam kelompok-kelompok usaha bersama (KUB) melalui wadah Keluarga Batik Betawi (KBB). Pelajarannya, mencanting dan mewarnai dengan kain putih berukuran 2 x 1,15 m2. Bagi yang mengikuti pelatihan, lamanya tiga bulan.

Awalnya, dikumpulkanlah ibu-ibu penghuni kluster B rumah susun (rusun) Marunda dan ditawari belajar membatik. Pelatihan diadakan secara cuma-cuma. Pelajarannya, mencanting dan mewarnai kain. Mula-mula yang ikut baru 25 orang, belakangan mencapai 60 orang. Pelatihan massal di rusun Marunda diadakan sekaligus memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober.

Bagi yang mempunyai bakat, mereka ditantang untuk membuat kreasi batik yang bagus. Dan KBB siap membelinya Rp 50 ribu per lembar. ”Saya lihat ada beberapa peserta yang punya potensi sebagai pebatik yang baik. Mereka kami ajak memproduksi batik. Sejak itu, warga lain tertarik untuk belajar membatik karena tahu usaha ini potensial dan menghasilkan,” kata Shanda, sapaan akrab perempuan pemilik Shan’s Studio di Bekasi ini.

Di KBB sendiri, dia ditunjuk menjadi wakil ketua umum mendampingi Azaria Zakiah. Kini, KBB mengelola Laboratorium dan Pelatihan Pengrajin Batik (LPPB). Sekretariatnya di Kebon Kosong, Kemayoran dan workshop-nya di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Bekasi. Saat ini KBB membina 11 KUB yang tersebar di wilayah Jakarta. Rata-rata satu KUB mempunyai anggota sekitar 25 orang. Baru tiga KUB yang sudah mapan, lainnya masih perlu pendampingan.

Begitu prospeknya KBB, cukup banyak pihak yang ingin membantu. Di antaranya Walikota Jakarta Utara Bambang Sugiyono, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, maupun Wakil Ketua Umum Kadin DKI Rainer Prakuso Tobing.

Gubernur Jokowi bersedia membantu menyiapkan tempat khusus untuk studio, workshop, beserta prasarananya. Bahkan KBB akan diberi tempat di Gedung UKM di Tanah Abang sebagai pusat pemasaran batik Betawi. Walikota Jakarta Utara bahkan memilihkan Rusun Marunda sebagai salah satu ikon batik Betawi. Klop, Marunda akan dijadikan sebagai wisata budaya. Di sana ada bekas peninggalan pendekar Betawi ‘si Pitung’.

Sedangkan, Rainer akan menyiapkan space khusus untuk peragaan mencanting dalam ‘Jakarta IKM Expo 2013’ yang akan diadakan awal Desember ini. “Kami setiap acara musyawarah atau rapat pimpinan, selalu mengenakan seragam batik bercorak Betawi,” kata dia saat menerima kunjungan Shanda ke kantor Kadin DKI belum lama ini.

Penjual yang Piawai

Shanda bercerita, kendati belum lama mengenal batik Betawi, namun dirinya langsung mempelajari sejarah dan seluk belum batik Betawi. Dia menjelaskan, awalnya batik Betawi dirintis oleh Hj. Emma Amalia Agus Bisrie. Dia cucu dari Guru Madjid Pekojan, mantan Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Pusat batik betawi dulu ada di kawasan Karet Tengsin, Palmerah, Kebon Kacang, dan Bendungan Hilir.

Namun kegiatan itu dilarang karena limbah dari proses pencelupan atau pewarnaannya diduga bisa mencemarkan lingkungan. “Itu sebabnya kalau proses pembatikannya dilakukan di sentra-sentra batik, tapi pencelupannya di luar Jakarta,” ujar Shanda.

Bahkan perempuan kelahiran Sei Gerong, Sumsel, 14 Desember itu pun berobsesi ingin mengorbitkan batik Betawi agar lebih terkenal dibandingkan batik Pekalongan, hingga ke manca negara. Bagi pemilik gerai Obong Steak & Timbel Mami di Bekasi Square ini, batik Betawi juga akan dijadikan brand bagi produk fashionnya. “Maklum, saya bergerak di bidang fashion designer, jadi ya pas,” kata dia.

Itu sebabnya, ke manapun dia pergi, Shanda selalu mengenakan baju rok lengan pendek dari batik Betawi. Dia juga menjadi penjual yang piawai. Setiap bepergian atau saat bertamu atau ketamuan, dia selalu mengeluarkan berlembar-lembar kain batik Betawi dengan sejumlah corak yang berbeda-beda. Alhasil, berlembar-lembar rupiah berwarna merah masuk ke dompet kulitnya.

Harga kain batik Betawi bervariasi. Tergantung corak gambar dan warnanya. Makin rumit gambar dan makin banyak warnanya, tentu makin mahal harganya. Kisarannya mulai dari Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah. Kain dasarnya biasa memakai kain jenis Primissima. Tapi batik tulis juga cocok di atas kain sutera. (saksono)

Related posts