Kunci Sukses Berinovasi

Kunci Sukses Berinovasi

Riset yang dilakukan CIC PPM Manajemen telah mempelajari aktivitas perusahaan dalam melakukan inovasi untuk menghadapi era pasar bebas. Hasilnya, inovasi perusahaan tersebut tak terpengaruh secara signifikan oleh ada tidaknya lembaga litbang. Lagi pula, lembaga litbang di internal perusahaan juga bukan penentu keberhasilan inovasi.

Yang justru berpengaruh secara signifikan bagi perusahaan untuk berinovasi, adalah tingkat kolaborasi perusahaan dengan pihak konsumen, pemasok, maupun pihk eksternal lainnya. Dari hasil investigasi terhadap faktor-faktor penentu inovasi, yang berpengaruh antara lain adanya pelatihan bagi karyawan dalam rangka pengembangan inovasi perusahaan, adanya rotasi pekerjaan bagi karyawan ke departemen lain, adanya pelatihan bagi karyawa tentang bagaimana mengembangkan ide dan kreatifitas, adanya proses evaluasi, adanya proses untuk menindaklanjuti hasil proses , serta adanya proses mengevauasi dan mempelajari kegagalan.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inovasi, CIC PPM mencatat ada 16 hal. Di antaranya adalah pemberian penghargaan dalam bentuk finansial kepada kayawan yang mengembangkan inovasi maupun penghargaan non finansial bagi karyawan yang mengembangkan yang ide dan kreativitas.

Yang terang, level kepemimpinan dalam organisasi diyakini cukup berpengaruh dalam menentukan tingkat inovasi. Dari seluruh perusahaan yang diteliti, sebanyak 86,7% melibatkan manajemen puncak dalam berinovasi, 75,3% manajemen madya, yaitu level kepala unit dan manajer, dan 60,4% perusahaan yang melibatkan seluruh karyawannya. Namun, level pemimpin juga mempengaruhi ragam inovasi yang dikembangkan atau diimplementasikan dalam perusahaan, baik inovasi produk, proses, organisasi, dan pemasaran.

Artinya dengan restu dari manajemen puncak, generasi muda perusahaan akan lebih giat berinovasi demi terciptanya terobosan-terobosan baru di masa depan. Kini permasalahannya ada pada seberapa berani dan besar komitmen manajemen puncak dalam memberikan kesempatan di tingkat madya untuk memberikan ide-ide terbaiknya.

Karena makin besar peluang yang diberikan maka semakin luas pulalah peluang keberhasilan perusahaan dalam mencetak prestasi di bidang inovasi. “Yang terang, perusahaan yang melibatkan manajemen puncak dan madya, memiliki ragam tipe inovasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan yang tidak melibatkan kedua level pemimpin tersebut,” kata Erlinda.

Selain faktor penunjang, tentu ada faktor penghambat hingga dilakukannya inovasi. Antara lain biaya inovasi yang tinggi, sulitnya mencari mitra kerjasama, pasar sudah dikuasai atau didominasi perusahaan, biaya inovasi yang tinggi maupun kurangnya personal yang berkompeten, serta kurangnya dana yang disediakan perusahaan.

Faktor penghambat lainnya adalah kurangnya personel yang kompeten serta kurangnya informasi tentang teknologi. (saksono)

Related posts