Sejarah Arsitektur Eropa

Meskipun desain atap rumah bergaya Eropa dapat dengan mudah dikenali, karena ciri khasnya hampir tak pernah berubah sejak lama. Ya, mereka biasanya membuat perbedaan cukup menonjol pada gaya atap hunian mereka. Bentuknya yang tinggi menjulang dan agak sempit menjadi ciri khas arsitektur mereka.

Desain atap rumah bergaya Eropa ini mulai populer seiring dengan kolonialisme yang terjadi di negara – negara Eropa dan Amerika. Meskipun yang sering kita lihat adalah rumah–rumah kolonial Belanda, namun pada dasarnya desain arsitektur Eropa dimulai dari Amerika.

Seperti diketahui, Amerika adalah negaranya para imigran. Mereka (bangsa Eropa) yang mendiami Amerika pertama kali kebanyakan masih membawa identitas serta perilaku dari daerah asal mereka. Untuk itu, hunian yang mereka bangun juga kebanyaka menggunakandesain asal negara mereka. Namun, ketika mereka kesulitan menemukan material bangunan, mereka mulai beradaptasi dan menyesuaikan desain arsitektur rumah mereka dengan lingkungan dan kondisi alam di Amerika.

Hal ini bukan berarti mereka mengganti semua gaya arsitektur khas mereka. Karena sebagian warga Eropa tetap ada yang mempertahankan desain arsitektur khas negara asal mereka. Yang pasti, mereka harus sepakat untuk membuat hunian yang sesuai dengan kondisi iklim di Amerika yang berangin.

Nama Garrison Colonial Homes mungkin sudah tak asing lagi di dunia arsitekur, khususnya arsitektur khas Eropa. Era tersebut adalah cikal bakal arsitektur Eropa di era berikutnya. Cirinya, biasanya memiliki dinding yang menjulang tinggi dari lantai pertama hingga lantai atas, pada lantai atas terdapat serambi yang menjorok keluar. Bangunan juga biasanya dibuat dengan dua lantai dengan dua atap yang masing – masing menjulang tinggi dan di tengahnya terdapat cerobong asap.

Hunian khas Amerika bagian selatan pada dasarnya memiliki karakter dasar yang hampir sama. Hanya saja terdapat perbedaan pada bagian cerobong asap. Di sini, terdapat dua cerobong asap dan menjadi salah satu ekstensifikasi dari rumah tersebut. Kedua cerobong tersebut tidak dibuat berdampingan, melainkan bersebrangan satu sama lain.

Sementara itu, sesain arsitektur Eropa yang banyak ditemui di Indonesia adalah model – model arsitektur kolonial Belanda. Desain ini sedikit banyak memilki perbedaan dan ciri khusus, terutama pada atapnya. Atap kolonial Belanda memiliki kemiringan yang tidak terlalu menjorok, dengan puncak yang sedikit melengkung.

Sedangkan desain atap ala Prancis, cenderung memiliki garis – garis sederhana yang dilengkapi dengan kubah. Negara Eropa lainnya, Spanyol, memiliki ciri atap berbentuk cenderung datar dengan genteng – genteng berbahan terakota.

Bangunan – bangunan model bergaya Eropa sekarang ini, sedikit banyak terinspirasi dari model arsitektur kolonial di jaman dulu dan berusaha mengkombinasikannya untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Buktinya, kini, hunian bergaya Eropa telah dipadukan dengan sentuhan-sentuhan modern pada atapnya. Misalnya dengan menghilangkan keberadaan cerobong asap, karena cerobong asap tidaklah menjadi hal penting untuk beberapa negara seperti Indonesia. Karena cuaca tropisnya, membuat perapian tidak terlalu dibutuhkan.

Related posts