Penjualan SUN Ditargetkan Rp7 Triliun

Penjualan SUN Ditargetkan Rp7 Triliun

Jakarta—Lagi, pemerintah terus keruk dana masyarakat dengan menerbitkan 6 Surat Utang Negara (SUN) untuk membiayai APBN 2011. Adapun penjualan 6 SUN tersebut diharapkan pemerintah meraup dana sekitar Rp7 triliun.

Rencana Lelang Surat Utang Negara dalam mata uang Rupiah yakni SPN20111020 (new issue), SPN20120706 (reopening), FRO055 (reopening), FK0053 (reopening), PRO058 (new issue) dan FRO057 (reopening) sendiri akan dilakukan pada 19 Juli 2011.

Sementara, untuk settlement akan dilaksanakan pada 21 Juli 2011. Berdasarkan siaran pers yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang menunjukkan penjualan SUN itu guna mengejar target. Jumlah indikatif yang dilelang sebesar Rp7 triliun untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2011.

Total alokasi pembelian nonkompetitif untuk dua SUN seri SPN20111020 dan SPN20120706 adalah maksimum sebesar 30 persen dari target indikatif. Sedangkan alokasi pembelian nonkompetitif untuk FR0055, FR0053, FRO058 dan FRO057 adalah masing-masing sebesar 20 peresn dari total yang dimenangkan.

Berdasarkan data tersebut tercatat kepemilikan asing per tanggal 13 Juli 2011 menjadi Rp241,27 triliun, dari sehari sebelumnya sebesar Rp242,03 triliun. Artinya, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mengalami penurunan sebesar Rp760 miliar. Hal tersebut tercantum pada Kepemilikan SBN yang Dapat diperdagangkan yang dikeluarkan oleh Ditjen Pengelolaan Utang (DJPU).

Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengaku penurunan tersebut merupakan hal yang wajar dan biasa. "Itu dinamika pasar. Harga Surat Utang Negara (SUN) sudah cukup tinggi sehingga investor lakukan profit taking," paparnya.

Selain itu, tambah Rahmat, adanya sentimen negatif dari krisis utang di Eropa dan Amerika Serikat (AS) diduga menjadi salah satu penyebab asing menarik kembali SBN-nya. "Sebagian kecil investor menjual SUN dan pegang dana rupiah. Pembelianya investor institusi domestik," ujarnya.

Namun demikian, Rahmat membantah jika dengan adanya penurunan SUN maka akan terjadi pembalikan arus modal masuk. "Tidak ada capital reversal karena nilai tukar Rupiah masih cenderung menguat," tandasnya.

Seperti diketahui kepemilikan asing di SBN tercatat terus mengalami peningkatan selama enam bulan terakhir. Pada Januari, tercatat kepemilikan asing di SUN sebesar Rp194,97 triliun, untuk Februari sebesar Rp200,40 triliun, Maret Rp211,57 triliun, April Rp221,42, Mei Rp225,32 triliun dan Juni Rp234,99 triliun. **cahyo

BERITA TERKAIT

Sistem Validasi IMEI Ponsel Ditargetkan Beroperasi April 2018 - Tekan Produk Ilegal

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika serta operator telepon seluler (ponsel) akan melakukan langkah sinergi untuk…

Intiland Targetkan Penjualan Rp 3,3 Triliun - Mengandalkan Proyek Mixed Use

NERACA Jakarta – Geliat bisnis properti di tahun politik diyakini masih berpeluang tumbuh, menjadi sentimen positif bagi PT Intiland Development…

BJB Bukukan Laba Rp1,6 triliun

  NERACA Jakarta - Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) membukukan laba bersih sebesar Rp1,6 triliun…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Proyek Kereta Cepat Diperkirakan Rampung 2020

      NERACA   Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan waktu pengerjaan…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…