Krisis Petani Indonesia Sudah Didepan Mata - Data BPS Menyusut 2,08%

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara swasembada pangan, rupanya hanya akan menjadi impian belaka. Pasalnya, selain minimnya keterbatasan lahan produksi sawah juga dipengaruhi langkanya profesi petani, sehingga mengalami kekurangan petani dalam negeri.

Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin mengatakan, Indonesia makin kekurangan petani dari dalam negeri. Hal ini disebabkan, karena sebagian masyarakat di desa lebih memilih bekerja di perkantoran atau pabrik ketimbang menjadi petani, “Masyarakat lebih memilih kerja di kantor disbanding menjadi petani. Kendatipun demikian, hal ini dinilai positif sebagai kemajuan pembangunan ekonomi,”ujarnya di Jakarta, Rabu (6/11).

Berdasarkan data BPS, selama setahun terakhir sektor pekerjaan di lingkungan perkantoran mengalami peningkatan. Bahkan hingga Agustus 2013 ini tercatat sektor keuangan mengalami oeningkatan sebanyak 250 ribu orang atau 9,4%. Lalu disusul oleh sektor perdangan sebanyak 580 ribu orang atau 2,5% dan sektor jasa kemasyarakatan sebanyak 1,1 juta orang atau 6,49%.

Namun, ada juga sektor-sektor yang mengalami penurunan, di antaranya sektor pertanian sebesar 2,08%, sektor konstruksi sebanyak 7,51%, dan sektor industri sebanyak 3,19%. “Meskipun sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja namun sekarang sudah menjadi lapangan kerja yang mengalami penurunan. Jumlah pekerjanya hingga Agustus 2013 ini ada 18,07 juta jiwa. Sedangkan pada periode yang sama di tahun 2012 masih di kisaran 38,88 juta jiwa,” tambah Suryamin.

Lanjut, Suryamin menilai turunnya penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor jasa bisa dianggap sebagai sinyak kemajuan. Pasalnya dengan begitu bisa dilihat ada kemajuan kualitas pekerja di dalam negeri dengan beralih dari pekerja kasar menjadi pekerja kantoran. “Bisa jadi masyarakat sudah mulai melihat tidak perlu waktu berjam-jam untuk mendapat hasil yang sama besarnya dengan bekerja di sektor jasa. Ini merupakan sinyal kemajuan bagi pembangunan perekonomian,”tandasnya.

Namun begitu Suryamin juga tidak menafikan bahwa para pekerja di Indonesia umumnya juga masih didominasi orang berpendidikan SD ke bawah. Bahkan porsentasi sebanyak 46,95% atau 52 juta orang. Sedangkan penduduk yang bekerja dengan pendidikan Diploma sebanyak 2,9 juta orang atau 2,64%. Dan penduduk bekerja dengan pendidikan Universitas hanya sebanyak 6,83%.“Tapi juga sudah mulai ada perubahan kualitas penduduk yang bekerja kok. Hal ini ditunjukan oleh kecenderungan menurunnya penduduk bekerja dengan pendidikan SMP ke bawah. Bahkan penduduk bekerja dengan pendidikan Diploma dan Universitas justru mengalami peningkatan,” ungkap Suryamin.

Secara rinci Suryamin memaparman dalam setahun terakhir penduduk bekerja dengan pendidikan rendah mengalami penurunan dari 74,1 juta orang atau 66,87% pada Agustus 2012 menjadi 72,5 juta orang atau 65,42% pada Agustus 2013. Sementara itu, penduduk bekerja berpendidikan tinggi meningkat dari 10 juta orang atau 8,99% pada Agustus 2012 menjadi 10,5 juta orang atau 9,47% pada Agustus 2013. “Artinya pengurangan pekerja tani memang ada hubungannya dengan meningkatnya jumlah penduduk berpendidikan di Indonesia,” tukasnya. (lulus)

Related posts