Mobil Listrik Cocok Untuk Angkutan Jarak Pendek - Infrastruktur Belum Tersedia

NERACA

Jakarta - Produksi massal mobil listrik yang dicetuskan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan digadang-gadang menggantikan mobil berbahan bakar minyak di kota besar seperti Jakarta. Bahkan Dahlan menyebut jika semua mobil di Jakarta diganti mobil listrik maka Jakarta akan sangat bersih.

Pengamat kelistrikan, Fabby Tumiwa, berpendapat lain. Menurutnya mobil listrik hanya cocok untuk dijadikan angkutan jarak pendek seperti mobil angkutan kota (angkot). Hal ini karena infrastruktur pendukung mobil listrik seperti pengisian ulang baterai belum tersedia. Jika dijual ke masyarakat maka akan sangat menyusahkan.

"Mobil listrik ini bagusnya untuk kendaraan umum yang jarak tempuh terbatas dan rute terbatas. Misalnya angkutan cluster perumahan dan mikrolet. Paling perjalanannya 10 kilometer, dan satu trayek. Bisa diperhitungkan dibangun satu pengisian ulang baterai. Ini sangat bagus," kata Fabby di Jakarta, Rabu (6/11).

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Sudirman, melihat penggunaan mobil listrik untuk mikrolet ini justru akan menyusahkan angkutan umum. Pasalnya, pihaknya menyangsikan pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dapat terus ada."PLN saja saat ini masih byar pet," ujarnya.

Segi infrastruktur juga menjadi sorotan Sudirman. Menurutnya, penggunaan mobil listrik untuk angkutan umum idealnya harus sejalan dengan penyediaan infrastruktur stasiun pengisian ulang di berbagai lokasi oleh pemerintah.

Meski begitu, Sudirman menyambut baik jika pemerintah ingin menjadikan angkutan umum sebagai pilot project pengembangan mobil listrik. Pihaknya mendukung apapun kebijakan untuk menekan beban anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM)."Selain itu mobil listrik juga ramah lingkungan," tuturnya.

Sementara itu, para ilmuwan dan peneliti di Indonesia telah mampu menciptakan mobil listrik. Sebut saja para peneliti LIPI atau Dasep Ahmadi, seorang ilmuwan dari Depok, Jawa Barat. Namun sayangnya, industrialisasi mobil listrik di Indonesia masih banyak menemui kendala.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Indonesia (LIPI) Lukman Hakim menjelaskan, orang Indonesia mampu menciptakan prototipe, namun ketika akan memasuki tahap produksi massal, kendala permodalan menjadi hambatan.

"Kita tidak ada capital, skema khusus, sistem penjaminan, itu semua belum kondusif. Perlu ada terobosan, misalnya ada skema khusus, tingkat bunga yang khusus. Itu sudah lama dibincangkan," kata Lukman.

Masalah permodalan tentu berkaitan dengan adanya investasi yang masuk dari investor yang tertarik. Lukman mengatakan, saat ini tahap pendekatan kepada investor masih sedang dilakukan, agar nantinya mobil listrik tak hanya berhenti di tahap pembuatan prototipe saja."Kita kampanye, supaya orang-orang tahu dan membuka kemungkinan itu (investasi)," katanya.

Selain itu, Lukman menambahkan, perlu adanya peranan dari pemerintah untuk memajukan industri ini. Pemberian insentif bisa menjadi pendorong bagi para investor untuk menanamkan modalnya."Pemerintah harus menjembatani. Perlunya insentif, di mana pemerintah melakukan intervensi untuk hal tertentu," lanjutnya.

Saat ini jumlah peneliti di Indonesia masih terbilang sangat kurang. Jika dibandingkan dengan negara maju seperti di Amerika Serikat (AS), dari sisi kuantitas peneliti, Indonesia masih kalah jauh."Selain itu SDM (sumber daya manusia). hitungan kita peneliti di Indonesia 100 per sejuta penduduk. Negara lain Amerika 6.000 per sejuta penduduk. Kita butuh 200 ribu penelitian sekarang ini," tegasnya.

Menteri Perindustrian MS Hidayat menjelaskan Indonesia masih menghadapi kendala dalam mengembangkan mobil listrik itu seperti penyediaan teknologi baterai yang ringan dan mampu bertahan dalam waktu yang lama, serta alat untuk men-"charge" baterai dalam waktu singkat.

Selain itu, juga ada masalah dalam penyediaan listrik. Jika program itu jalan maka kebutuhan daya listrik makin besar, sementara listrik masih disubsidi negara.Karena itu, katanya, kemungkinan pengembangan mobil listrik dilakukan secara bertahap dan dilaksanakan pada kawasan tertentu seperti cluster-cluster perumahan.

Related posts