BI Targetkan 15% Marketshare Perbankan Syariah

​NERACA

Jakarta – Masih kecilnya penetrasi pasar perbankan syariah di dalam negeri, memaksa Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral untuk terus memicu industri perbankan syariah untuk lebih giat meningkatkan pasar. Bahkan, guna meramaikan pasar industri syariah, BI berjanji akan terus membuka dan menawarkan peluang pasar tersebut.

Direktur Perbankan Syariah BI, Ahmad Buchori mengatakan, perbankan syariah saat ini sudah diangka 5%. Angka tersebut masih kecil dibandingkan negara tetangga, namun BI siap akan meningkatkan angkat tersebut,“Jika kita bicara share perbankan syariah, memang angkanya sudah 5% di tahun 2012 dan sudah tercapai sebenarnya. Tetapi sebenarnya posisi kita di 4,58%, kalau dibulatkan 5%, angka ini memang dinamis agak susah kalau berbicara marketshare,”paparnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, belum pulihnya kondisi perekonomian global serta tekanan pada perekonomian Indonesia memang berdampak terhadap perbankan syariah. Dimana kenaikkan BI Rate beberapa waktu lalu juga ikut mempengaruhi bank syariah dari sisi peningkatan risiko kredit dan likuiditas.

Selain itu, Ahmad mengaku, BI siap meningkatkan pertumbuhan perbankan syariah kedepannya. Disamping itu, BI juga siap memberi dukungan ekstra, yakni mendukung dari sisi regulasi dengan harapan marketshare perbankan syariah bisa meningkat 15% dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.“Harapannya perbankan syariah minimal bisa 15% 10 tahun mendatang, tapi tidak bisa dipungkiri perlu pembenahan dari berbagai aspek,” jelas dia.

Salah satu pembenahannya yakni, penguatan struktur dari perbankan syariah, lalu peningkatan daya saing dan ketahanan dari sisi keuangan, pembangunan infrastruktur yang memadai dan eksplorasi untapped areas. Dia juga menjelaskan, berbagai hambatan yang ada saat ini memang perlu diselesaikan dengan baik. “Namun walaupun ditengah kondisi perekonomian yang sedang tidak pasti seperti ini, secara umum kondisi perbankan Indonesia masih tetap solid,” imbuh Ahmad.

Playing Of Field

Sementara itu, menyikapi masyarakat yang masih melihat kelebihan dan kekurangan dalam hal mengakses perbankan, Ahmad menilai, bank syariah perlu ikut menerapkan playing of field dengan bank konvensional. Menurut dia, perubahan BI Rate turut mendorong perubahan dan penyesuaian di industri perbankan.

Lebih lanjut dia menjelaskan, saat ini masyarakat Indonesia hidup dalam dua sistem perbankan. “Kita hidup dalam dua sistem perbankan, konvensional dan syariah, dalam hal ini, jika suku bunga naik dan diikuti suku bunga di perbankan, maka masyarakat akan melihat mana yang lebih menguntungkan dari kedua sistem tersebut,” kata dia.

Disebutkan, pada riset BI yang dilakukan tahun 2008, masyarakat Indonesia saat ini terbagi dalam 5 segmen, terkait penggunaan industri perbankan di Indonesia. Pertama, masyarakat memang sejak awal menggunakan layanan perbankan syariah. Kedua, masyarakat yang hanya ikut-ikutan menggunakan layanan syariah.

Lalu ketiga, masyarakat yang memperhatikan, mana yang lebih menguntungkan, apakah bank syariah atau konvensional. Ke empat, masyarakat yang memang terpaksa menggunakan perbankan syariah. Terakhir masyarakat yang memilih perbankan konvensional. “Nah, masyarakat kita sekarang ini lebih mayortias yang di tengah (masyarakat yang melihat mana yang menguntungkan mana yang tidak). Kalau masyarakat seperti ini, tentu perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat”, jelas Ahmad.

Dalam konteks ini, Ahmad melihat, perlu adanya penerapan playing of field di perbankan syariah. Soalnya, bank syariah perlu menyamakan price yang sama dengan perbankan konvensional, service harus sama dengan perbankan konvensional dan peningkatan pelayanan yang mumpuni. Hal ini penting agar masyarakat melihat bahwa perbankan syariah memang menguntungkan. (sylke)

Related posts