Ekspor Non Migas Ditaksir US$5 Miliar - Perdagangan Luar Negeri

NERACA

Jakarta – Ekspor non migas menjadi tumpuan dalam memperkecil defisit neraca perdagangan yang telah mencapai US$6,26 miliar. Defisit neraca perdagangan masih lebih banyak disumbangkan dari impor migas yang selama Januari-September 2013 telah mencapai US$9,74 miliar, sementara non migas mengalami surplus mencapai US$3,48 miliar.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan bahwa pihaknya optimis ekspor non migas bisa mencapai US$5 miliar sampai dengan akhir tahun. Hal itu didorong oleh beberapa faktor yaitu adanya mekanisme perdagangan dan proses pencatatan yang masuk dalam tahap akhir.

“Di November dan Desember nanti, ekspor non migas akan ada tambahan yang bisa mencapai US$1 miliar. Kalau sekarang ekspor non migas ada dikisaran US$3,5 miliar, artinya akhir tahun bisa mencapai US$4,5-5 miliar,” kata Bayu di kantornya, Jakarta, Rabu (6/11).

Ia menjelaskan bahwa beberapa produk manufaktur masih menjadi andalan untuk ekspor non migas. Nilai ekspor ke beberapa negara selama Januari-September 2013 mengalami kenaikan yang signifikan yaitu Singapura dengan kenaikan mencapai US$329,5 juta. Disusul urutan berikutnya yaitu Amerika Serikat, Myanmar, India, Filipina, Turki, Rusia, Nigeria, Ukraina dan Selandia Baru yang mengalami kenaikan sebesar US$63,8 juta sampai dengan US$210,3 juta.

Sementara itu, beberapa produk manufaktur memberikan kontribusi peningkatan ekspor yang signifikan selama Jan-Sep 2013 antara lain Kapal Laut meningkat US$546,7 juta atau naik 164,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya dan produk alas kaki ekspornya meningkat sebesar US$274,1 juta atau mengalami kenaikan 10,7%, serta pakaian jadi yang meningkat sebesar US$112,0 juta atau naik 3,9%.

Bayu mengatakan impor migas masih menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan. Maka dari itu, Ia meminta kepada Kementerian terkait untuk menggencarkan diversifikasi energi ke energi terbarukan. Ia mencontohkan seperti biodiesel. “Di tahun depan, sudah ada pembahasan kontrak pembelian sebesar 6,5 juta ton biodiesel yang akan dibeli dari produsen. Ini adalah bentuk diversifikasi energi, kita berharap agar ada diversifikasi lainnya,” ujarnya.

Sejauh ini, kinerja impor pada September mengalami kenaikan sebesar 18,9% atau mencapai US$15,5 miliar. Peningkatan impor tersebut terjadi akibat peningkatan impor non migas sebesar 26,3% menjadi US$11,8 miliar. Komoditas non migas yang mengalami peningkatan impor yang cukup besar antara lain, antara lain mesin-mesin yang naik 25,2%, peralatan listrik naik 38,1%, besi baja naik 43,5%, plastik dan barang dari plastik naik 37,7%, ampas/sisa industri makanan naik 53,0% dan kapas naik 54,3%.

Sedangkan, nilai impor non migas dari beberapa negara yang mengalami peningkatan yang signifikan antara lain, Malaysia mengalami kenaikan 65,0% , Perancis naik 32,7%, China juga mengalami kenaikan 38,4%, Taiwan naik 63,9% dan Singapura naik 28,3%. Secara kumulatif, total impor selama Januari-September 2013 mencapai US$140,3 miliar atau turun 1,2%, terdiri dari impor non migas sebesar US$106,7 miliar atau turun 3,9% dan impor migas US$ 33,6 miliar atau naik 8,5%.

Kenaikan impor migas selama Januari-September 2013 disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak mentah yang meningkat sebesar 29,3%. Sementara itu, komoditas nonmigas yang mengalami penrurunan impor signifikan, antara lain kapal terbang dan bagiannya dengan penurunan sebesar 56,5% atau senilai US$1,8 miliar; kendaraan dan bagiannya turun 18,3% sebesar US$1,4 miliar; dan mesin-mesin/pesawat mekanik turun 5,2% sebesar US$1,1 miliar.

Selama Januari-September 2013, struktur impor masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 76,1% dan barang modal sebesar 16,9%. Sedangkan impor barang konsumsi turun sebesar 2,0% (YoY) menjadi USD 9,8 miliar. Impor bahan baku/penolong naik 3,2% menjadi USD 106,8 miliar, sedangkan impor barang modal turun 16,8% menjadi US$23,7 miliar atau lebih rendah dari pada impor tahun lalu yang naik sebesar 23,9%.

IHPB Naik

Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS), padan bulan oktober 2013, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Non Migas adalah 207,27 atau naik 1,00% dari IHPB September 2013 sebesar 205,22.

Kepala BPS, Suryamin mengatakan, pada bulan Oktober 2013, kenaikan tersebut terjadi pada semua sektor dan kelompok barang. Dimana sektor industri merupakan penyumbang terbesar pada perubahan IHPB Non Migas, sebesar 0,44%. “Sektor pertanian menyumbang andil 0,26%, sektor pertambangan dan penggalian 0,02%, kelompok barang impor non migas 0,12% dan kelompok barang ekspor non migas 0,16%,” terang Suryamin.

Suryamin menyebutkan, IHPB bahan baku non migas pada bulan Oktober 2013 naik 1,04% dibanding dengan bulan sebelumnya yaitu dari 209,17 pada September 2013 menjadi 211,34 pada Oktober 2013.

Kenaikan IHPB bahan baku non migas, utamanya disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku lokal yang menyumbangkan andil sebesar 0,85%. Kenaikan harga bahan baku lokal adalah kenaikan harga komoditas pada sub sektor pertanian tanaman perkebunan dan subsektor industri bahan kimia dan barang-barang dari bahan kimia.

“Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan oktober 2013 antara lain adalah kelapa sawit, sapi, kambing dan domba, daging sapi, beras, makanan hewan impor, perlengkapan dan pengaturan listrik impor, kopi ekspor dan logam dasar bukan besi ekspor,” papar dia.

Related posts