Saham Grup Bakrie Dinilai Tidak Likuid Lagi - Makin Sulit Survive

NERACA

Jakarta – Terus meruginya bisnis Grup Bakrie lantaran kinerja keuangan yang melorot, menjadi fase terburuk bisnis Grup Bakrie tahun ini. Bahkan kedepan, menurut pengamat pasar modal Lucky Bayu Purnomo, bisnis Grup Bakrie dinilai sudah tidak likuid lagi dan anak usaha yang terafiliasi didalamnya bakal terus mengalami tekanan. “Sektor sektor di Indonesia sedang berada dalam tekanan dengan sinyal melemahnya IHSG hingga akhir tahun. Mereka Grup Bakrie termasuk emiten-emiten yang kurang likuid, BNBR misalnya hanya 50 dan tidak kunjung bergerak, kemudian BUMI yang berada di bawah Rp500 per lembar,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, minimnya likuiditas yang ada tentunya menjadi sentimen negatif bagi saham-saham grup Bakrie. “Nilai saham-sahamnya kurang menarik. Tidak terkecuali Bakrie Telkom atau UNSP yang bergerak di sektor perkebunan sehingga menimbulkan tekanan pada kinerja saham Bakrie sendiri.” katanya.

Karena seyongyanya, menurut dia, dalam prinsip usaha, kondisi pasar akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. “Manajemen sudah melakukan upaya yang cukup baik, tapi kondisi pasar jadi kendala untuk perolehan laba. Kondisinya masih akan cenderung melemah sampai tahun depan.” ucapnya.

Apalagi, kata dia, pimpinan perusahaan tersebut tengah mengadu nasib di panggung politik sehingga menimbulkan spekulasi. “Sekitar 70% menghindar saham tersebut karena tidak ada sinyal yang jelas, sedang 20-30% berspekulasi.” ujarnya.

Sementara Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menilai, terus meruginya bisnis Grup Bakrie berpotensi pada kebangkrutan dan potensi tersebut bisa dilihat dalam beberapa tahun terakhir, “Potensi kebangkrutan secara ratio memang ada, hal ini akibat miss manajemen dan hal itu tidak kunjung ada perbaikan, “tegasnya.

Meski begitu, Reza melihat manajemen perusahaan-perusahaan Bakrie akan tetap melakukan berbagai macam upaya strategis untuk menyelamatkan perusahaan. Namun dia melihat tidak perlu langkah yang berlebihan. Selain itu, pihak Bakri juga jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan. Lebih dari itu Reza menekankan agar perusahaan juga segera membenahi manajemennya. Karena akar dari persolalan ini ada di kurang baiknya kinerja manajemen.

Sebaliknya, pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satri Utomo menuturkan, indikasi bangkrut terhadap bisnis Grup Bakrie kemungkinan tidak. Hanya saja menjual beberapa aset perseroan tentunya akan dilakukan karena hal tersebut merupakan jalan satu-satunya menutupi utang dan kerugian yang dialami anak usaha Grup Bakrie, “Diindikasikan bangkrut mungkin tidak, tapi menjual beberapa asetnya pasti iyah,”tandasnya.

Adapun untuk prospek perusahaan Bakrie kedepan makin sulit berkembang dengan utang yang menumpuk, kondisi perusahaan-perusahaannya yang terus merugi membuat ancaman Bakrie makin sulit survive di tahun-tahun mendatang. Sebagai informasi, T Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatat rugi rugi Rp 1,52 triliun hingga September 2013 atau bengkak 53% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 988,3 miliar. Penyelenggara layanan telekomunikasi dengan brand Esia ini hanya mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 1,596 triliun di triwulan ketiga 2013 atau turun 10% dibandingkan posisi sama tahun lalu Rp 1,779 triliun.

Kerugian yang sama juga dialami perusahaan energi Grup Bakrie ini mencatat laba Rp 2 triliun di triwulan III-2013, laba ini naik tajam dibandingkan laba tahun lalu periode yang sama Rp 140 miliar. Omzet perusahaan tercatat Rp 5,76 triliun di akhir September, bandingkan dengan posisi sebelumnya tahun lalu Rp 4,34 triliun. Laba meningkat tajam setelah perseroan menjual anak usahanya senilai Rp 1,63 triliun.

Terakhir, perusahaan tambang Grup Bakrie ini mencatat rugi Rp 3,72 triliun di akhir September 2013, namun dalam laporan kinerja tahun sebelumnya perseroan hanya memberi perbandingan dengan akhir Desember 2012 yaitu sebesar Rp 6,41 triliun. Selain laba, pendapatan perseroan juga turun dari akhir Desember 2012 sebesar Rp 27,6 triliun menjadi Rp 26,5 triliun di akhir September tahun ini. Anjloknya pendapatan dan laba diakibatkan turunnya produksi dan harga jual batubara. (lia)

Related posts