Akuisisi Lahan, Summarecon Siapkan Dana Rp 1,7 Triliun - Cari Dana Lewat Penerbitan Obligasi

NERACA

Jakarta – PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menerbitkan surat utang atau obligasi dan sukuk senilai Rp600 miliar dengan bunga 10-11% dan jatuh tempo pada 5 tahun mendatang. Alasan perseroan menerbitkan sukuk karena pasar modal dinilai masih kekurangan produk syariah.

Selain itu menurut Presiden Direktur Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas Andri rukminto, obligasi konvensional sudah biasa dalam pasar modal, sehingga dengan addanya penerbitan sukuk oleh pihak perseroan menambah daya tarik obligasi ini, “Dari awal kami, pihak penjamin emisi memang telah meminta kepada pihak Summarecon untuk menerbitkan sukuk juga dalam obligasi ini. Porsinya yaitu obligasi Rp450 miliar dan sukuk Rp150 miliar dengan tangga jatuh tempo 5 tahun sejak tanggal emisi”, jelas dia di Jakarta, Rabu (6/11).

Selain itu, dia juga mengakui bahwa menerbitkan obligasi saat kondisi fluktuasi indeks memang beresiko. Namun, dia menjelaskan bahwa dalam menerbitkan obligasi ataupun penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) selalu memiliki resiko. Sehingga yang dilakukan adalah meminimalkan resiko tersebut.

Perseroan berencana menerbitkan obligasi dan sukuk berkelanjutan I Summarecon Agung tahap I tahun 2013 senilai Rp600 miliar. Namun, perseroan menargetkan memperoleh total dana obligasi dan sukuk ini mencapai Rp2 triliun untuk dipergunakan sebagai pengembangan usaha properti dan modal kerja.

Sementara Direktur utama PT Summarecon Agung Tbk Johanes Mardjuki menjelaskan bahwa perseroan akan menggunakan sekitar 70% atau Rp1,4 triliun dari target perolehan obligasi berkelanjutan tersebut untuk akuisisi lahan dan pengembangan di 4 titik pembangunannya. Sisanya sekitar Rp600 miliar atau 30% akan digunakan untuk modal kerja perseroan, “Sekitar Rp1,4 triliun unutk akuisisi dan pembangunan secara bertahap 4 tempat yaitu Bekasi, tangerang, Bogor dan Bandung. Namun, untuk total keseluruhan membangun kawasan tersebut belum dapat diungkapkan. Tetapi kami akan menambah permodalan dari perbankan dan kas internal,”ungkapnya.

Sementara itu, terkait aturan terbaru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) mengenai pengetatan kebijakan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) atau Loan to Value (LTV), bagi perseroan hanya memberi sedikit dampak kepada permintaan properti perseroan.“Dampak peraturan BI terkait LTV berpengaruh terhadap demand kami, tetapi bagi kami ada keuntungannya karena target kami end user. Yang diatur dalam peraturan BI adalah untuk pembeli kedua, ketiga dan seterusnya”, ujar dia.

Dia menambahkan, pemilik pertama yang membeli tidak dapat langsung menjual atau memindah tangankan rumah atau properti lain yang dibeli dari Summarecon. Karena perseroan memberikan waktu minimal untuk mmenjual lagi dalam 1 tahun, sementara untuk rumah toko (ruko), perseroan akan mengenakan pinalti 6-11% dari harga ruko jika langsung memindah tangankan.

Belanja Modal

Sementara itu, hingga kuartal ketiga 2013 perseroan telah menghabiskan belanja modalnya (capital expenditure/capex) sekitar Rp1,3 triliun untuk pembelian tanah di berbagai wilayah dan pembangunan properti, seperti perumahan (township). Capex untuk pembelian lahan Rp600 miliar dan capex properti Rp765 miliar.“Belanja modal untuk properti sebesar Rp765 miliar dialokasikan untuk pembangunan Summarecon Bekasi Mal sebesar Rp220 miliar, pembangunan hotel di Kelapa Gading, Hotel Haris di Bekasi Rp120 miliar. Selain itu perseroan membangun hotel berbintang lima di bali dan baru terpakai Rp30 miliar karena baru memulai pembangunannya”, jelasnya.

Sementara itu, untuk target marketing sales sepanjang tahun ini sebesar Rp4,5 triliun atau naik 16% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,87 triliun. Dari target tersebut, telah dicapai perseroan Rp3,3 triliun dengan Serpong menjadi kontributor terbesar mencapai hampir 50%.

Perseroan membukukan pendapatan neto hingga kuartal ketiga 2013 mencapai Rp3,04 triliun, jumlah ini meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,19 triliun. Sementara untuk laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk mencapai Rp879,87 miliar naik dari periode yang sama tahun lalu Rp462,10 miliar.

Total aset hingga September 2013 Rp13,03 triliun dibandingkan periode 31 Desember 2012 Rp10,87 triliun. Sementara liabilitas mencapai Rp8,65 triliun dari periode 31 Desember 2012 Rp7,06 triliun. Ekuitas perseroan juga naik dari Rp3,18 triliun per 31 Desember 2012 menjadi Rp4,37 triliun hingga kuartal ketiga 2013.

Diakui pihak perseroan terdapat kenaikan liabilitas dari periode 31 Desember 2012 ke 30 September 2013 sebesar22,63% atau sekitar Rp1,6 triliun akibat adanya kenaikan utang bank. Kenaikan tersebut sebagian besar disebabkan adanya fasilitas pinjaman baru dari Bank Mandiri yang dicairkan pada periode berjalan. (nurul)

Related posts