Grup Bakrie Terancam Gulung Tikar - AKIBAT KERUGIAN TERUS MEMBENGKAK

NERACA

Jakarta – Musim laporan keuangan kuartal tiga telah tiba, namun bagi perusahaan Grup Bakrie tahun ini mendapatkan raport merah. Pasalnya, dari ketiga bisnis anak usahanya masih mencatatkan rugi hingga triliunan rupiah. Alhasil, sepanjang tahun ini akan diperkirakan akan terjadi perlambatan dan tidak tertutup kemungkinan ancaman gulung tikar sudah di depan mata.

Pengamat pasar modal dari UI Budi Frensidy mengatakan, kerugian yang dialami anak usaha Bakrie sudah diprediksi sebelumnya. Dimana beberapa perusahaan Bakrie akan mengalami kerugian dan bahkan kerugiannya makin membengkak, “Dengan adanya kerugian ini maka kelompok usaha Bakrie akan melakukan upaya mengambil utang untuk menutupi kerugian tersebut, “ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (5/11).

Bahkan menurut dia, strategi bisnis Bakrie dengan gali lubang tutup lubang bisa berujung pada kebangkrutan. Tentunya, dengan adanya beberapa perusahaan yang merugi, maka Grup Bakrie akan mempunyai utang baru sehingga utangnya akan terus menumpuk.

Ke depannya, kata Budi, kinerja keuangan Bakrie tidak akan mengalami perubahan yang signifikan dalam sisa triwulan sampai akhir tahun nanti. Bahkan beberapa perusahaan milik Grup Bakrie, diyakini akan mengalami kerugian yang lebih besar lagi dibandingkan dengan kinerja di triwulan III-2013,”Apabila melihat indikasi beberapa perusahaan-perusahaan Bakrie yang mengalami kerugian maka hal ini sudah diprediksi oleh beberapa pengamat dan investor bahwa perusahaan Bakrie akan bisa mengalami kebangkrutan, “tandasnya.

Dia menegaskan, dengan banyaknya utang yang dialami oleh Grup Bakrie maka akan banyak lagi anak perusahaan Bakrie yang akan dijual untuk menutupi utangnya dan bahkan beberapa aset grup Bakrie sudah dijual untuk menutupi utang seperti penjualan aset tanah dan jalan tol. Alhasil, penjualan anak perusahaan Bakrie untuk menutupi utang akan membuat nilai kepemilikan Grup Bakrie atas beberapa anak perusahaannya menjadi berkurang. Lebih tepatnya, perusahaan Bakrie tidak hanya mengalami kebangkrutan tetapi akan kehilangan anak perusahaannya.

Sebagai informasi, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mencatat rugi rugi Rp 1,52 triliun hingga September 2013 atau bengkak 53% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 988,3 miliar. Penyelenggara layanan telekomunikasi dengan brand Esia ini hanya mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 1,596 triliun di triwulan ketiga 2013 atau turun 10% dibandingkan posisi sama tahun lalu Rp 1,779 triliun.

Kerugian yang sama juga dialami perusahaan energi Grup Bakrie ini mencatat laba Rp 2 triliun di triwulan III-2013, laba ini naik tajam dibandingkan laba tahun lalu periode yang sama Rp 140 miliar. Omzet perusahaan tercatat Rp 5,76 triliun di akhir September, bandingkan dengan posisi sebelumnya tahun lalu Rp 4,34 triliun. Laba meningkat tajam setelah perseroan menjual anak usahanya senilai Rp 1,63 triliun.

Terakhir, perusahaan tambang Grup Bakrie ini mencatat rugi Rp 3,72 triliun di akhir September 2013, namun dalam laporan kinerja tahun sebelumnya perseroan hanya memberi perbandingan dengan akhir Desember 2012 yaitu sebesar Rp 6,41 triliun. Selain laba, pendapatan perseroan juga turun dari akhir Desember 2012 sebesar Rp 27,6 triliun menjadi Rp 26,5 triliun di akhir September tahun ini. Anjloknya pendapatan dan laba diakibatkan turunnya produksi dan harga jual batubara.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, potensi kebangkrutan bisnis Bakrie memang ada dan potensi tersebut bisa dilihat dalam beberapa tahun terakhir, “Potensi kebangkrutan secara ratio memang ada, hal ini akibat miss manajemen dan hal itu tidak kunjung ada perbaikan, “tegasnya.

Meski begitu Reza melihat manajemen perusahaan-perusahaan Bakrie akan tetap melakukan berbagai macam upaya strategis untuk menyelamatkan perusahaan. Namun dia melihat tidak perlu langkah yang berlebihan. Selain itu, pihak Bakri juga jangan sampai gegabah dalam mengambil keputusan, “Cukup kerja sama dengan pihak lain untuk menopang permodalan sementara. Dengan begitu kendala kerugian yang sedang menggerogoti modal perusahaan dapat terbantu. Setidaknya itu langkah strategis awal yang bisa dilakukan perusahaan,”kata Reza.

Lebih dari itu Reza menekankan agar perusahaan juga segera membenahi manajemennya. Karena akar dari persolalan ini ada di kurang baiknya kinerja manajemen. Dengan begitu dia melihat kejadian seperti ini tidak terulang lagi, “Memang akar persoalannya ada di manajemen. Jadi itu lah yang pertama kali harus dibenahi. Tapi saya optimis kalau manajemen perusahaan juga akan segera melakukan evaluasi,” ujarnya.

Sementara pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satri Utomo menuturkan, indikasi bangkrut terhadap bisnis Grup Bakrie kemungkinan tidak. Hanya saja menjual beberapa aset perseroan tentunya akan dilakukan karena hal tersebut merupakan jalan satu-satunya menutupi utang dan kerugian yang dialami anak usaha Grup Bakrie, “Diindikasikan bangkrut mungkin tidak, tapi menjual beberapa asetnya pasti iya,”tandasnya.

Adapun untuk prospek perusahaan Bakrie kedepan makin sulit berkembang dengan utang yang menumpuk, kondisi perusahaan-perusahaannya yang terus merugi membuat ancaman Bakrie makin sulit survive di tahun-tahun mendatang. “Diprediksikan kinerja dari perusahan Bakrie sampai dengan akhir tahun akan mengalami perlambatan,” pungkasnya. mohar/agus/lulus/bani

Related posts