Perusahaan Tambang dan Perkebunan Harus Pakai BBG

Jakarta - Selain untuk penghematan, BBG merupakan salah satu sumber energi yang bersih dan minim emisi. Pemerintah mengharapkan agar truk-truk perkebunan dan pertambangan mengalihkan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar non subsidi ke bahan bakar gas (BBG).

"Sekarang sudah ada pelarangan penggunaan solar bersubsidi untuk truk-truk pertambangan dan perkebunan. Kita berharap ada contoh atau pilot project truk-truk tersebut menggunakan BBG," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro di Jakarta, Selasa (5/11/2013).

Ya, karena menggunakan BBG sebagai bahan bakar kendaraan, pengusaha perkebunan dapat menekan biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan. Konversi akan semakin mudah karena pada tahun ini pemerintah akan membangun SPBG di sejumlah wilayah khususnya di Kalimantan. Antara lain, Balikpapan sebanyak empat unit.

Selain truk-truk perkebunan dan pertambangan, lanjut dia lagi, kendaraan dinas pemerintah dan pemda serta BUMN dan BUMD, juga dapat memanfaatkan SPBG tersebut.

"Saya sendiri sudah merasakan manfaat menggunakan bahan bakar gas. Kalau biasanya untuk tiga hari harus membeli BBM non subsidi Rp600 ribu, dengan menggunakan gas, hanya Rp180 ribu," ujar Edy.

Tetapi, masalahnya program konversi dari Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) masih menemui kendala, salah satunya adalah penyediaan konverter kit. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan penyediaan alat konversi tersebut terkendala masalah distributor yang tidak terfokus di satu lembaga. “Distribusinya ada yang bersama-sama Kementerian Energi dan Kementerian Perindustrian," katanya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, saat ini Kementerian Energi tetap berfokus untuk pengadaan alat konversi untuk kendaraan bermotor. Pelaksanaan program konversi gas tersebut akan dilakukan bertahap dengan melibatkan swasta. Sebab, pasokan gas untuk konversi telah tersedia.

Sekadar diketahui, Kementerian Energi berencana membagikan 4.000 unit konverter untuk kendaraan umum, taksi, dan kendaraan dinas tahun ini. Alat tersebut didistribusikan di tiga wilayah yakni Jabodetabek sebanyak 2.000 unit, Palembang (1.000), dan Surabaya (1.000). Kementerian Perindustrian juga menargetkan membagi 3.000 unit konverter untuk kendaraan umum sebelum akhir tahun.

Tahun depan, Kementerian Energi mengalokasikan anggaran Rp 2,1 triliun untuk program konversi BBG. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek BBG di sejumlah kota, di antaranya 8 SPBG di Jabodetabek dan jaringan pipa sepanjang 165 kilometer. Namun anggaran tersebut masih menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. (ahm)

Related posts