Pergerakan IHSG Masih Di bawah tekanan

NERACA

Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih jauh dari harapan akibat laju bursa saham Asia yang lebih banyak bergerak di zona merah. Pada perdagangan Rabu (6/11) diperkirakan IHSG masih berada di bawah tekanan.

Kepala riset Trust Securities reza Priyambada memperkirakan, IHSG akan berada pada support 4375-4412 dan resistance 4454-4468. dia menilai, belum adanya sinyal upreversal membuat IHSG kemungkinan masih akan tertekan kecuali ada imbas positif dari laju bursa saham global yang membuat laju IHSG dapat merubah arah, “Meskipun laju IHSG sempat tertekan di bawah target support (4415-4427), namun dapat kembali ke kisaran target support tersebut”, kata dia dalam keterangan resminya di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, jika dilihat secara intraday perdagangan, laju IHSG sempat bertengger di zona hijau namun, tidak lama IHSG kembali melemah hingga akhir sesi pada perdagangan Senin (3/11). Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4446,33 (level tertingginya) di awal sesi pertama dan menyentuh level 4403,40 (level terendahnya) di pertengahan sesi pertama dan berakhir di level 4423,29.

IHSG berakhir di 4.423,28 setelah turun 0,2% atau 9,3 poin pada perdagangan Senin (4/11). Volume perdagangan mencapai 3,1 miliar saham senilai Rp3,6 triliun. Investor melakukan aksi jual menjelang libur perdagangan pada Selasa (5/11). Sebanyak 156 saham melemah, 102 saham menguat dan 101 saham stagnan. Investor asing melakukan net sell Rp402,6 miliar.“Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun dengan investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual dan investor domestik mencatatkan nett buy. Selain imbas dari laju bursa saham Asia, pergerakan rupiah yang masih longsor di teritori negatif turut menahan laju IHSG”, jelasnya.

Menurut dia, adanya rilis indeks manufaktur AS yang di atas estimasi membuat laju nilai tukar AS masih menunjukkan kenaikan sehingga makin menekan laju nilai tukar rupiah yang masih memperpanjang pelemahannya.“Dolar AS bergerak naik dengan semakin gencarnya, spekulasi tappering off akan dipercepat. Di sisi lain, imbas dari rilis kembali defisitnya neraca perdagangan Indonesia masih mewarnai laju pelemahan rupiah yang semakin menjauhi target support Rp11389. Rp11415-11362 (kurs tengah BI)”, ujarnya.

Sementara itu, pada laju bursa saham Asia di awal pekan ini mendarat di zona negatif setelah merespon pernyataan dari Kepala The Fed Dallas, Richard Fisher, yang sangat menginginkan percepatan tappering off stimulus The Fed. Meski di akhir pekan kemarin, kenaikan non manufacturing PMI China dirilis namun, laju bursa saham China tidak langsung positif karena pelaku pasar lebih memilih wait and see terhadap rapat Partai Komunis pekan ini. (nurul)

Related posts