Optimalisasi SDA Perkuat Sektor Pangan

NERACA

Padang - Ketahanan pangan saat ini memang selalu menjadi fokus perhatian kebijakan pemerintah Indonesia. Apalagi dengan harga pangan dunia yang cenderung berfluktuasi, maka dari itu berbagai kebijakan, program, dan investasi mulai lebih banyak diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Harapannya swasembada dan kemandirian pangan nasional dapat terealisasi. Caranya dengan mengoptimalisasikan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada.

“Sistem pangan dan kemandirian pangan yang kuat dapat dilakukan melalui optimalisasi SDA nasional sebagai pondasi utama dalam memperkuat kedaulatan bangsa dan negara di bidang pangan,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat membuka peringatan Hari Pangan Sedunia ke 33 Tahun 2013 di Padang, Sumatera Barat.

Untuk itu, peringatan Hari Pangan Sedunia ke 33 Tahun 2013 ini sebagai momentum untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. Dan saat ini, hampir 870.000.000 orang di seluruh dunia menghadapi kekurangan gizi, antara lain akibat model pembangunan yang tidak berkelanjutan. Boleh dikata di dunia ini setiap 10 orang, satu orang di malam hari tidak bisa tidur nyenyak karena perutnya lapar. “Kondisi ini agar supaya seluruh bangsa di dunia dapat bekerja sama untuk meningkatkan kecukupan pangan secara global agar tidak ada lagi kelaparan,” tegasnya.

Ungkapan senada dilontarkan oleh Menteri Pertanian, Suswono. Dia berharap agar Indonesia mampu meningkatkan pembangunan dan kemandirian pangan melalui pola konsumsi pangan beragam atau yang dikenal sebagai diverifikasi pangan. Hal ini karena setiap daerah memiliki pangan lokal dimana dengan pemenuhan pangan lokal beragam tersebut, Indonesia tidak akan kekurangan pangan.

”Hendaknya konsumi pangan beragam ini dapat dijadikan budaya. Untuk itu, pejabat daerah diminta untuk terus menggiatkan sosialisasi mulai dari diri sendiri untuk mengkampanyekan agar pangan pokok tersebut bukan hanya beras. Jadi, diversifikasi pangan tidak hanya dari beras ke non-beras tetapi juga dengan meningkatkan konsumsi terhadap buah, sayur, serta protein hewani," kata Mentan saat menutup secara resmi peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 33 Tahun 2013 di Padang Sumatera Barat pada Minggu (3/11).

Lebih lanjut Mentan menjelaskan, Hingga saat ini, lahan yang tersedia untuk meningkatkan produksi pangan masih cukup banyak terutama untuk lima bahan pokok. Misalnya saja, lahan di Kalimantan Timur yang tersedia cukup luas dimana sekitar 155 ribu ha lahan transmigrasi direncanakan akan ditanami kedelai.

“Selain lahan untuk tanaman 5 komoditas, kita juga punya potensi lahan pekarangan sekitar 10 juta ha yang bisa dimanfaatkan. Perlu diketahui, jika kita manfaatkan lahan pekarangan ini maka pengeluaran keluarga bisa dihemat antara Rp 150 ribu hingga Rp 800 ribu/ per bulan,” ujarnya.

Lebih lanjut Mentan mengatakan, kemandirian pangan dapat disediakan secara baik oleh petani. Untuk itu, petani yang sudah menyediakan kebutuhan pangan untuk masyarakat luas ini harus disejahterakan. “Harapannya dengan adanya pengelolaan yang lebih baik maka para petani menjadi sejahtera dan swasembada pangan terpenuhi,” tuturnya.

Masih terkait sektor pangan, sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Natsir Mansur meminta agar kementerian teknis yang menangani masalah pangan seperti Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar dikenakan sanksi lantaran tidak becus dalam mengelola kebijakan pangan sehingga menyebabkan beberapa komoditas bahan pangan naik tidak wajar.

Menurut dia, manajemen pangan nasional masih sangat lemah apabila dilihat dari aspek produksi, distribusi dan perdagangannya. Pasalnya, kebijakan pangan yang dikelola oleh Pemerintah pusat masih sentralistik yang mana Kemendag, Kemenperin, dan Kementan tidak ikhlas menyerahkan kebijakan tata niaga pangan ke Pemerintah Daerah yang sebenarnya lebih mengetahui kebutuhan di daerahnya.

Tiga Aspek

Sementara itu, FAO sebagai organisasi pangan dunia, pada sambutannya yang diwakili oleh Dr. Mustafa Amir, menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas keterlibatan yang sungguh-sungguh dan kepemilikan penuh atas hari perayaannya secara nasional.

Lebih lanjut, Mustafa menjabarkan bahwa sistem pangan terdiri dari lingkungan, masyarakat, institusi dan proses produk pertanian mulai dari produksi, pengolahan dan transportasi hingga sampai ke konsumen juga tak kalah penting.

“Ada tiga aspek penting dalam sistem pangan yaitu pertama, Gizi yang baik tergantung pada diet yang sehat, Diet yang sehat memerlukan sistem pangan yang sehat bersama dengan faktor pendidikan, kesehatan, sanitasi dan faktor lainnya. Kemudian, sistem pangan yang sehat dapat terwujud dengan kebijakan insentif dan tata kelola yang tepat," kata Mustafa.

Terkait perbaikan gizi, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terintegrasi dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 dalam percepatan perbaikan gizi masyarakat pada 1000 hari pertama kehidupan yaitu sejak janin dalam kandungan ibu hingga anak berusia dua tahun.

Related posts