Industri Berorientasi Ekspor Terancam Bangkrut - Ekonomi Global Belum Membaik

NERACA

Jakarta - Masih belum membaiknya perekonomian global, diprediksi oleh sebagian kalangan pengamat akan membuat industri berorientasi ekspor terancam koleps, apabila penurunan permintaan ekspor terus terjadi sepanjang satu tahun ke depan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance, Ahmad Erani Yustika mengaku, pesimistis terhadap perkembangan ekspor Indonesia hingga satu tahun yang akan datang. "Kita sudah mengalami penurunan ekspor dan saya khawatir akan terus terjadi dan sangat terasa di kuartal pertama karena ada pembatalan order dan penundaan pembayaran akan banyak terjadi," katanya saat dihubungi Neraca, Selasa.

Menurut Erani, pembatalan ekspor dan penundaan pembayaran akan menyebabkan risiko ekspor naik. Sehingga, bank akan enggan memberikan kredit atau menaikkan tingkat bunga dan premi untuk kredit ekspor yang akhirnya semakin menyulitkan bagi eksportir.

Kinerja ekspor nasional, lanjut Erani akan sangat tergantung pada pendapatan negara tujuan yang mempengaruhi permintaan mereka terhadap impor. "Kalau demikian, sektor yang bisa survive tahun depan atau dua tahun lagi itu industri yang orientasinya ke pasar domestik yang tidak terlalu tergantung pada eskpor dan kandungan impor. Sisanya akan mengalami perlambatan,"jelasnya.

Industri yang produknya bersifat low end (kualitas rendah) seperi tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki diperkirakan dapat menyesuaikan diri dengan situasi ekonomi yang melemah tahun depan. "TPT mungkin bisa lebih bertahan dari pada garmen, meski 10 tahun ke belakangan pertumbuhan industri garmen yang lebih bagus,"ujarnya.

Permintaan Naik

Sementara itu, akhir tahun menjadi periode waktu yang paling ditunggu oleh pemerintah. Pasalnya, kinerja ekspor di akhir tahun diprediksi menanjak seiring dengan tingginya permintaan barang produksi Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah optimistis di tahun ini kinerja ekspor pun akan kembali meningkat. Bukan tanpa alasan kerja ekspor akan melonjak di akhir tahun. Momen perayaan hari raya Natal serta perayaan tahun baru yang dirayakan oleh masyarakat dunia menjadi pendorong meningkatnya tingkat konsumsi. Alhasil, ekspor Indonesia ke berbagai negara tujuan pun bakal terdongkrak naik.

Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan, lazimnya kinerja ekspor Indonesia pada bulan Oktober dan November di setiap tahun mengalami kenaikan.

Begitu pula dengan prediksi di tahun ini. Pada akhir tahun ini, kinerja ekspor nasional diproyeksi naik, sehingga kondisi neraca perdagangan Indonesia akan membaik meski masih defisit. Sayangnya, Agus tidak dapat memberikan gambaran lebih detail seberapa besar peningkatan ekspor di akhir tahun mempengaruhi kondisi neraca dagang. "Intinya membantu mengecilkan defisit dan mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Agus.

Agus menjelaskan, kinerja ekspor akan mulai meningkat pada Oktober dan November. Dia bilang, satu atau dua bulan sebelum akhir tahun di mana tingkat konsumsi masyarakat untuk merayakan momen akhir tahun mulai meningkat.

Agus memberikan gambaran, biasanya 30% dari total produksi Indonesia dialokasikan untuk ekspor.Sementara sisanya untuk konsumsi domestik pada akhir tahun. Pada bulan-bulan biasanya, alokasi ekspor tidak mencapai 30%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kinerja ekspor Indonesia setiap akhir tahun memang mengalami peningkatan. Ambil contoh tahun 2011. Pada November 2011, kinerja ekspor naik 1,64% menjadi US$ 17,235 miliar. Sebelumnya pada Oktober 2011, nilai ekspor sebesar US$ 16,957 miliar. Di tahun 2012 pun demikian. Apabila di Oktober nilai ekspor US$ 15,324 miliar, pada November 2012 nilainya naik menjadi US$ 16,316.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih menilai, kinerja ekspor di akhir tahun ini akan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya alias terkoreksi menurun. Ada dua hal yang menjadi alasan. Pertama, karena kondisi perekonomian dunia sedang tidak bagus tahun ini. Amerika Serikat (AS) contohnya. Indeks Kepercayaan konsumen Amerika turun dari indeks 81,8 di Agustus 2013 menjadi 79,7 pada bulan berikutnya.

Di Oktober pun diperkirakan akan turun. Apalagi ada insiden penghentian layanan pemerintahan alias government shutdown di AS yang berlangsung selama 16 hari. Jelas ini akan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat paman sam karena 70% PDB AS disumbang oleh konsumsi masyarakat. "Ini membuat proyeksi perekonomian Amerika turun sekitar 0,2% pada kuartal IV," terang Lana. Imbasnya, ekspor Indonesia ke sana akan menyusut.

Padahal, AS termasuk salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Kedua, depresiasi rupiah. Seharusnya dengan pelemahan nilai tukar yang terjadi sekarang ini, ekspor non migas berbasis manufaktur mengalami keuntungan.

Tapi sebaliknya yang terjadi. Ekspor non migas manufaktur kita seperti industri tekstil tidak menjadi lebih murah karena bahan bakunya sendiri harus kita impor terlebih dahulu. Akibatnya, Indonesia kalah saing dengan barang sejenis dari Thailand yang lebih murah. Sedangkan di sektor komoditas sendiri tidak dapat diharapkan karena harga komoditas yang masih lemah.

Related posts