Pemerintah Lelang 80 PLTS - Industri Tenaga Listrik

NERACA

Jakarta - Pemerintah membuka lelang pembangunan sebanyak 80 unit pembangkit listrik tenaga surya yang berlokasi di seluruh Indonesia dengan kapasitas daya total 140 MW. Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pihaknya menargetkan pengumuman pemenang lelang bisa dilakukan pada Desember 2013.

"Selanjutnya, konstruksi PLTS selama enam bulan, sehingga pertengahan tahun depan sudah mulai beroperasi," katanya di Jakarta, Senin (4/11).

Menurut dia, sebagian besar PLTS berlokasi di Indonesia bagian timur yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi, dan NTT. Sedangkan, sebagian besar pembangkit berkapasitas satu MW per unit dan satu unit terbesar berlokasi di Jayapura, Papua yakni sebesar 6 MW. Lokasi PLTS yang berada di Indonesia bagian timur antara lain NTT sebanyak sembilan unit berkapasitas total 14 MW yang berada di Kupang, Atambua, Rote, Alor, Adonara, Sumba Timur, Larantuka, Maumere-Rope-Ende, dan Bajawa-Ruteng-Labuan Bajo.

Lalu, ada tujuh lokasi berkapasitas 14,5 MW di Papua serta enam lokasi masing-masing di Maluku Utara 7,5 MW, Maluku 9,5 MW, dan Sultra 13 MW. Wilayah lainnya seperti tiga lokasi PLTS di Aceh 4 MW, enam unit di Riau 8,5 MW, tujuh unit di Kalbar 9,5 MW, lima unit di NTB 17 MW, dan empat unit di Jatim 4 MW. Rida mengatakan, sejumlah investor baik lokal maupun asing seperti AS, Jepang, dan Afrika Selatan sudah menunggu pelaksanaan lelang tersebut.

Listrik Terbatas

Program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dipastikan hanya akan mengganti maksimal 20% beban listrik di wilayah bersangkutan. Dirut PLN Nur Pamudji mengatakan, keterbatasan tersebut dikarenakan program pembangunan PLTS yang direncanakan pemerintah, tidak memakai baterai. “Karena tidak memakai baterai, maka beban listrik masyarakat yang diganti PLTS maksimal 20 persen,” ucapnya.

Menurut dia, jika PLTS tanpa baterai dipaksakan mengganti beban listrik di atas 20%, maka pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang ada di wilayah tersebut akan rusak. Kalau tiba-tiba cuaca mendung, lanjutnya, maka otomatis PLTS tanpa baterai tidak bekerja dan beban listrik dialihkan ke PLTD. “Jika, kapasitas PLTS-nya besar dan tiba-tiba mati, maka kerja PLTD semakin berat dan akhirnya bisa mati juga. Ini berbahaya. Karenanya, kapasitas PLTS secara teknis dibatasi maksimal 20% saja,” ujarnya.

Nur menambahkan, PLN siap membeli listrik yang dihasilkan PLTS. Pemerintah akan melelang 72 lokasi PLTS berkapasitas daya 150 MW dengan target selesai Maret 2014. PLTS itu dikhususkan mengganti PLTD berbiaya mahal di sejumlah wilayah khususnya Indonesia bagian timur seperti Miangas, Sangir Talaud, dan pulau-pulau di Maluku.

PLTD tersebut masih dioperasikan karena tidak dimungkinkan atau tidak ekonomis dibangun pembangkit energi primer lainnya. PLTS dengan modul fotovoltaik tanpa baterai tersebut akan beroperasi hanya siang hari. Investasi PLTS diperkirakan sekitar Rp20 miliar per MW di luar lahan atau Rp3 triliun untuk kapasitas 150 MW.

Sedangkan, lahan yang dibutuhkan untuk membangkitkan satu MW sekitar 1,2 ha. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2013 tentang Pembelian Tenaga Listrik oleh PT PLN dari PLTS Fotovoltaik. Peraturan yang ditandatangani Jero Wacik pada 12 Juni 2013 menyebutkan, harga patokan tertinggi PLTS fotovoltaik hasil lelang sebesar 25 sen dolar AS per kWh.

Jika tingkat komponen dalam negara (TKDN) PLTS minimal 40%, maka diberikan insentif harga hingga 30 sen dolar AS per kWh. Harga jual listrik tenaga surya hasil lelang tersebut bersifat final dan akan langsung dibeli PLN. Penerbitan Permen ESDM 17/2013 diharapkan akan semakin banyak investor mengembangkan tenaga surya yang tercatat memiliki potensi besar di Indonesia. Selama ini, pengembangan tenaga surya terkendala investasi tinggi, namun harga jual ke PLN yang masih rendah.

Di sisi lain, PLN juga tidak berani membeli listrik dengan harga mahal, karena akan menambah beban subsidi. Kapasitas terpasang tenaga surya sekarang ini hanya 132 MW dibandingkan potensi yang mencapai lebih dari 50.000 MW. Kapasitas PLTS itu juga hanya 0,003% dari komposisi bauran energi nasional dengan total kapasitas 44.124 MW.

Pada akhir 2012, rasio elektrifikasi atau penduduk yang memperoleh aliran listrik baru mencapai 75,9% dan ditargetkan meningkat menjadi 79,3% di 2013. Sementara, kapasitas terpasang tenaga surya sekarang ini hanya 132 MW dibandingkan potensi yang mencapai lebih dari 50.000 MW. Kapasitas PLTS itu juga hanya 0,003% dari komposisi bauran energi nasional sekitar 44.000 MW.

Related posts