Jangan Abaikan Nyeri Tulang Belakang

Tulang belakang merupakan salah satu bagian terkuat dalam tubuh. Begitu tulang penopang utama tubuh ini terganggu, rasa sakit akan menyerang sehingga produktivitas terganggu. Itu sebabnya jangan abaikan keluhan nyeri tulang belakang.

NERACA

Sebagai makhluk berkaki dua yang berdiri tegak, tulang belakang manusia merupakan organ tubuh teramat vital karena berfungsi menopang berat badan. Tulang belakang meliputi tulang leher (cervical), bagian tengah belakang (thoracal), dan bawah belakang (lumbal/pinggang).

Struktur punggung yang rumit ini dapat digerakkan membungkuk, memutar dan menyangga beban yang dibawa manusia, sehingga juga rentan terkena masalah. Perubahan struktur atau keseimbangan sekecil apa pun bisa menimbulkan nyeri ketika bergerak.

Bila saraf spinalis yang berada di sepanjang tulang belakang sampai cedera, akan timbul risiko nyeri atau mati rasa pada sebagian tubuh. Sedangkan cedera punggung berat dapat menimbulkan kerusakan permanen pada saraf spinalis serta kelumpuhan.

DR. Dr. Luthfi Gatam, SpOT (K-Spine) menjelaskan, gangguan pada tulang belakang bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya gangguan otot, tulang yang hancur, gangguan pada sendi, infeksi, sampai tumor.

Namun sebagian besar orang dengan keluhan nyeri tulang belakang disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik, postur tubuh yang buruk, kegemukan, dan mengalami stres fisik dan mental.

Selain itu ada faktor risiko yang terkait dengan pekerjaan, termasuk kerja fisik yang berat, melakukan pekerjaan dengan posisi statis seperti berdiri diam atau duduk di satu tempat dalam waktu lama.

"Pada orang yang pekerjaannya sering menggerakkan leher, misalnya polisi atau sopir taksi, biasanya sering mengelami gangguan nyeri leher," katanya ketika ditemui dalam sebuah acara di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pengobatan

Dengan kemajuan teknologi, untuk menanganin permasalahan tulang belakang seperti yang telah disebutkan sebelumnya telah dikenal teknik pembedahan yang disebut Minimal Invasive Spain Surgery (MISS). Dengan cara ini pembedahan dapat dilakukan tanpa harus membuka jaringan otot.

Menurut Luthfi dalam perbincangan dengan tema “tingkatkan kualitas hidup penderita gangguan tulang belakang” beberapa waktu lalu di RS Premier Bintaro, teknik pembedahan ini telah ada sejak tahun 2011. Ada beberapa teknik MISS yang digunakan pada pembedahan tulang belakang termasuk di RS Premier Bintaro), yaitu True Minimal Invasive, dan Semi Open.

“Pada tahun 2001 RS Premier Bintaro telah memakai teknologi Minimal Acces Spine Surgery, yang dipakai untuk operasi tulang belakang yang patah. Operasi ini menggunakan jarum-jarum khusus yang dimasukan ke dalam tulang,” tuturnya.

Ia mengatakan setelah itu tulang yang patah disemen. Lalu seiring perkembangan, digunakanlah teknologi Endoskopik dengan alatnya yang bernama Teratoskopic Spine Surgery. “Endoskop digunakan ke daerah tulang punggung untuk kemudian dilakukan operasi di situ kita pernah menggunakannya pada kasus tumor tulang belakang,” ujar Luthfi.

Kemudian di tahun 2003, RS Premier Bintaro memakai teknik baru yang bernama Micro Endoskopik Disektomi yang dilakukan dengan Micro Endoskopic. Dengan cara ini dokter bisa melihat lewat monitor. Selain True Minimal Invasive yang telah dijelaskan, terdapat juga pembedahan dengan cara Semi Open. Dulu, cara ini dikenal dengan membuka jaringan otot dan jaringan lain yang akan berdampak kepada matinya jaringan otot pada tulang belakang.

Menurutnya dampaknya, pasca operasi bagian tulang belakang akan meninggalkan rasa nyeri. Saat ini teknik Semi Open telah berkembang dengan cara memfusi tulang belakang, dilanjutkan dengan memberi pen dan baut. “Pembedahan jaringan otot pun tidak perlu dilakukan, hanya ,meng-klip saja,” tuturnya.

Secara umum, tingkat keberhasilan operasi MISS bisa mencapai angka 90% hingga 98%. Begitu juga dilihat dari faktor keamanan operasi yang terbilang cukup aman karena tidak dilakukan pembukaan otot-otot tulang belakang.

Pasien juga mendapatkan banyak keuntungan, karena pasca operasi dengan MISS pasien tidak akan lagi mengalami rasa nyeri atau linu pada tulang belakang. Pasien pun tidak harus mengkonsumsi obat-obatan dengan dosis tinggi yang bisa berdampak pada ketergantungan. Dan yang terpenting, masa pemulihan menjadi lebih cepat sehingga pasien bisa segera pulang.

Related posts