“Big Kampoeng” - Pasar Seni Ala IA ITB

NERACA

Jakarta - Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Jakarta menggelar acara budaya yang diberi nama Pasar Seni Jakarta selama tiga hari dari tanggal 3 hingga 5 November di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Pasar Seni ini mengangkat tema "Big Kampoeng". Tema dipilih dikarenakan Jakarta merupakan kota majemuk, banyak suku bangsa yang bertemu di Jakarta untuk kepentingan yang berbeda-beda.

"Dengan adanya pasar seni ini kami harap IA ITB bisa ikut memberikan solusi," kata Ketua IA ITB Hendry Harmen dalam acara Pasar Seni Jakarta, Minggu (3/11).

Tidak hanya itu, lanjut dia, acara ini juga menjadi wadah untuk mempertemukan para seniman dengan masyarakat. Hal ini, sejalan visi IA ITB Jakarta, yang berniat membangun sebuah budaya bagi masyarakat kota. "Yaitu bahwa masyarakat kota itu tidak melulu bisnis tapi juga mengapresiasi seni," imbuh Hendry.

Kemudian Hendry menjelaskan Pasar Seni Jakarta ini merupakan peristiwa seni dan budaya, yang melibatkan banyak seniman, budayawan, pengrajin dan masyarakat umum. "Sejalan dengan visi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota seni dan festival, kami bertekad menjadikan Pasar Seni Jakarta menjadi ajang festival seni budaya tingkat nasional dan internasional," jelas dia.

Hendry menuturkan bahwa Jakarta sebagai kota metropolitan, merupakan tempat berkumpulnya berbagai budaya (kampung-kampung) dari seluruh penjuru nusantara. Dari tema yang diusung, Hendry ingin menjadikan Jakarta sebagai Big Kampoeng dengan ciri khas pluralisme. Keberagaman inilah yang menjadi semangat diselenggarakannya Pasar Seni Jakarta.

Selain menikmati berbagai sajian pertunjukan seni budaya, kita juga bisa membeli produk-produk kesenian seperti lukisan dan karikatur. Kerennya lagi, Pasar Seni Jakarta juga menampilkan kreasi seni dari sekira 20 delegasi seni rupa dan kreatif perguruan tinggi seperti Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Trisakti (Usakti), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Paramadina, Universitas Mercu Buana (UMB), Universitas Budi Luhur (UBL), STISI Telkom, Itenas dan STSI Bandung.

Dia berharap, Pasar Seni Jakarta dapat menjadi jembatan antara seniman, industri kreatif dan masyarakat umum serta memberikan inspirasi bagi kemajuan peradaban bangsa Indonesia. "Kami bertekad menjadikan Pasar Seni Jakarta menjadi ajang festival seni budaya tingkat nasional dan internasional. Keberagaman inilah yang menjadi semangat diselenggarakannya Pasar Seni Jakarta,"tambah Hendry.

Dia menjelaskan, digelarnya Pasar Seni Jakarta 2013 agar seni dan budaya Indonesia dapat semakin diapresiasi oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta."Dengan adanya ajang seni dan budaya tersebut akan membuat warga Jakarta lebih beretika, beradab dan berbudaya," kata Hendry.

Hendry juga menuturkan, Pasar Seni Jakarta ini menampilkan berbagai wahana atraksi dan karya seni yang akan dibagi dalam empat zona kehidupan, yaitu zona angin, api, air dan tanah. Empat zona tersebut menjadi simulasi dari kehidupan masa lalu Jakarta yang dahulu bernama Sunda Kelapa, tempat persinggahan pedagang dari berbagai etnis dan bangsa dunia. Empat zona unsur kehidupan tersebut dipersatukan oleh Zona Antara. "Di dalamnya akan ditampilkan Kapal Samudera Raksa, kapal kebanggaan yang mengarungi lautan hingga ke Madagaskar dan Pasifik," tandas dia.

Didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Direktorat MICE dan Wisata Minat Khusus Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hendry berharap, Pasar Seni Jakarta dapat menjadi agenda rutin Ibu Kota.

Adapun seniman yang akan tampil dalam Pasar Seni Jakarta 2013 di antaranya adalah AD Pirous, Ahdiyat Nur Hartarta, Biranul Anas, Eko Nugroho, Yani Mariani, Heyi Makmun, Titarubi, FX Widayanto, Krisna Murti, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Agus Pandega, Eddie Prabandono, Andy Dwi Tjahjono dan Wayan Suklu dan lain sebagainya.

Related posts