Awal Pekan, Pelemahan IHSG Belum Beranjak

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Jum’at akhir pekan kemarin ditutup melemah. Aksi jual pelaku pasar sejak pembukaan perdagangan hingga penutupan pasar menjadi pemicunya. Tercatat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup anjlok 78,042 poin (1,73%) ke level 4.432,589. Sementara Indeks LQ45 ditutup terjun bebas 15,523 poin (2,06%) ke level 739,284.

Menurut Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, selain derasnya aksi jual pelaku pasar juga dipicu inflasi yang lebih rendah, tetapi perdagangan Indonesia masih mengalami defisit, “Inflasi Oktober Indonesia menunjukkan hasil yang positif atau lebih rendah dari yang diekspektasikan. Namun, neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit sebesar US$ 657 juta menjadi sentimen negatif di pasar saham," katanya di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, defisit neraca perdagangan Indonesia dinilai cukup tinggi sehingga mendorong pelaku pasar terutama asing melakukan aksi jual saham. Dalam data perdagangan saham BEI, tercatat pelaku pasar asing mencatatkan jual bersih (foreign net buy) sebesar Rp539,626 miliar pada Jumat ini.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan, diperkirakan akan kembali melemah menyusul belum adanya sentimen positif baru. sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas Christandi Rheza Mihardja memperkirakan, IHSG Senin awal pekan bakal bergerak berfluktuasi di kisaran 4.403--4.461 poin, “Perdagangan awal pekan depan akan dipengaruhi oleh spekulasi bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan memotong tingkat suku bunga yang menandakan pertumbuhan di Eropa mulai melambat,”ujar dia.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, sentimen dari melemahnya bursa AS dan regional, ditambah dengan The Fed yang diprediksi akan mulai mengurangi program stimulusnya membuat pelaku pasar was-was. Sementara Badan Pusat Statistik (BSP) melaporkan tingkat inflasi selama bulan Oktober 2013 sebesar 0,09%. Inflasi tahun kalender (Januari-Oktober 2013) sebesar 7,66% dan inflasi tahunan (yoy) tercatat 8,32%.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 156.513 kali pada volume 4,071 miliar lembar saham senilai Rp 4,801 triliun. Sebanyak 70 saham naik, sisanya 189 saham turun, dan 93 saham stagnan. Bursa-bursa regional menutup perdagangan akhir pekan dengan mixed. Pelaku pasar banyak menahan diri karena ada sentimen negatif yang beredar dari pasar global.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 12.000 ke Rp 182.000, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 4.500 ke Rp 364.500, Astra Agro (AALI) naik Rp 1.000 ke Rp 19.600, dan Sona Topas (SONA) naik Rp 700 ke Rp 3.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Nipress (NIPS) turun Rp 1.350 ke Rp 8.000, Indocement (INTP) turun Rp 900 ke Rp 20.000, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 850 ke Rp 66.050, dan Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 36.100.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 50,666 poin (1,12%) ke level 4.459,965. Sementara Indeks LQ45 jatuh 9,142 poin (1,21%) ke level 745,665. Mayoritas indeks sektoral di lantai bursa terkena koreksi, hanya satu sektor yang masih bisa menguat. Saham-saham unggulan dan lapis dua jadi sasaran aksi jual investor.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 92.477 kali pada volume 2,533 miliar lembar saham senilai Rp 2,804 triliun. Sebanyak 52 saham naik, sisanya 176 saham turun, dan 88 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih bergerak mixed hingga sesi pertama dengan kecenderungan melemah. Hanya bursa saham China yang sudah berhasil menguat. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 5.000 ke Rp 175.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 650 ke Rp 19.250, Jakarta International (JIHD) naik Rp 130 ke Rp 1.970, dan Chandra Asri (TPIA) naik Rp 125 ke Rp 3.425.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 700 ke Rp 66.200, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 700 ke Rp 36.200, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 600 ke Rp 11.550, dan Matahari (LPPF) turun Rp 400 ke Rp 11.900.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka terkoreksi 36,90 poin atau 0,82% menjadi 4.473,73. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 6,51 poin (0,86%) ke level 748,29. Disebutkan, indeks BEI kembali mengalami pelemahan seiring dengan tekanan di pasar uang domestik. Dimana pelaku pasar saham sedang mewaspadai hasil data ekonomi dalam negeri yang dipublikasikan Jumat akhir pekan.

Analis Sinarmas Sekuritas, Tessa Mulia menyebutkan, indeks BEI akhir pekan bergerak berfluktuasi di level 4.450-4.540 poin. Bursa regional Jum’at akhir pekan, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 24,72 poin (0,11%) ke level 23.181,65, indeks Nikkei-225 turun 73,12 poin (0,51%) ke level 14.255,37, dan Straits Times melemah 10,44 poin (0,33%) ke posisi 3.200,91. (bani)

Related posts