MP3EI Dikebut untuk Menghadapi AEC

NERACA

Jakarta - Sejumlah investor infrastruktur baik dalam maupun luar negeri kumpul membahas masalah proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Perhelatan ini juga digelar untuk menjawab tantangan persiapan mengahdapi pelaksanaan Asean Economic Community (AEC) 2015. Pasalnya kebutuhan untuk hal itu sudah dianggap mendesak.

“Dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia, ini adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh semua pemangku kepentingan terkait pembiayaan dan investasi dalam proyek-proyek infrastruktur. Untuk itu diperlukan diskusi mendalam untuk mengenali tantangan, peluang, dan hambatan terkait tren ekonomi makro saat ini yang terkait langsung dengan pembiayaan dan investasi proyek-proyek infrastruktur,” kata Pemimpin Konfrensi Infrastructure Leaders Forum (ILF), John Scott Younger, dalam jumpa pers di sela-sela acara 2013, di Jakarta, Kamis (31/10).

John menambahkan target ILF 2013 fokus pada tantangan menghadapi upaya pemerintah Indonesia dalam mempromosikan pola kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Karena ia melihat memang ada persoalan dalam hal pendanaan.

“Keterbatasan dana pemerintah untuk proyek-proyek infrastruktur menjadi kendala pembangunan saat ini. Contohnya, untuk proyek di bawah Kementerian Pekerjaan Umum sebagai kementerian teknis di sektor infrastruktur. Dari total kebutuhan dana Rp110,1 triliun pada 2014, dalam PAGU anggaran APBN 2014 hanya tersedia senilai Rp74,9 triliun. Artinya, terdapat kekurangan dana sebesar Rp35,2 triliun,” papar John.

Bahkan John melihat Bappenas membuat perhitungan untuk membangun infrastruktur dalam kurun lima tahun ke depan butuh dana sebesar US$140 miliar. Dari total tersebut, kemampuan keuangan pemerintah hanyalah sekitar 35%. Selebihnya diharapkan akan diperoleh melalui kerjasama pemerintah dan Swasta (KPS). Dari total 79 proyek yang ditawarkan bernilai US$53 miliar saat ini, ada 34 proyek unggulan senilai US$38 miliar. Dari situ, hanya satu proyek di Jawa Tengah yang sudah meloloskan pemenang.

Pada kesempatan yang sama Director PwC Indonesia, Agung Wiryawan mengatakan, pihaknya sebagai firma anggota jaringan global tertarik terlibat dalam ILF 2013. Keterlibatan firma PwC ini merupakan yang kedua kalinya sejak pelaksaaan ILF perdana pada 2012.

“Kami melihat pembangunan infrastruktur merupakan prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Hal ini tentunya membuka peluang investasi yang sangat besar di sektor infrastruktur di Indonesia. Tentu saja kami sebagai firma dengan jaringan global akan terlibat dalam aktivitas investasi yang terjadi. Dalam hal ini, kami akan memberikan jasa konsultasi disektor ini dengan pendekatan yang terintegrasi,” kata Agung. [lulus]

Related posts