Divisi Healtcare Menopang Kinerja Lippo Karawaci - Bukukan Pendapatan Rp 4,78 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) bukukan pendapatan tumbuh 25% untuk sepanjang sembilan bulan di tahun 2013. Dimana pendapatan mencapai Rp 4,78 triliun atau tumbuh dibandingkan priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,81 triliun.

Presiden Direktur LPKR Ketut Budi Wijaya dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (31/10) mengatakan, peningkatan pendapatan terbesar berasal dari Divisi Healthcare yang meningkat sebesar 47% menjadi Rp 1,83 triliun dari Rp 1,24 triliun, “Kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai target kami di tahun 2013. Kuartal keempat tampak menjanjikan dan kami tetap fokus dan terus mengoptimalkan sumber daya dalam membangun berbagai proyek kami seperti rumah sakit, mal, ritel, serta pengembangan properti,”ujarnya.

Dirinya juga menambahkan, perseroan memiliki struktur permodalan yang kuat karena profil pinjaman yang berjangka panjang serta posisi kas yang sehat, hal ini memungkinkan perseroan untuk mengatasi berbagai tantangan dan terus melaksanakan rencana bisnis. Sementara untuk pendapatan recurring LPKR terus berkembang dan mencatat pertumbuhan yang kuat sebesar 38% YoY menjadi Rp 2,71 triliun serta memberikan kontribusi sebesar 57% dari total pendapatan. Hasil ini sejalan dengan strategi perseroan untuk mempertahankan keseimbangan basis pendapatan antara pendapatan pengembangan properti dengan pendapatan recurring.

Dengan demikian, EBITDA meningkat sebesar 16% YoY menjadi Rp 1,32 triliun dari Rp 1,13 triliun. Selanjutnya, laba bersih meningkat dengan sehat 24% YoY menjadi Rp 913 miliar. Divisi Residential dan Urban Development masih menjadi kontributor utama bagi EBITDA dan laba bersih, masing-masing sebesar 57% dan 61%. Terkait hutang, tercatat rasio hutang bruto terhadap ekuitas 0,59X dan rasio hutang bersih terhadap ekuitas 0,33X. Kini per 30 September 2013, LPKR tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 25 triliun atau US$ 2,3 miliar.

Sebagai informasi, belum lama ini perseroan memperluas fasilitas lindung nilai (hedge) yang mencakup semua obligasi dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp11.500 menjadi Rp12.500. Kata Ketut, hal ini dilakukan mengingat adanya pelemahan nilai tukar rupiah yang lebih lama dari perkiraan semula, “Kami memutuskan untuk memperluas fasilitas lindung nilai kami sebagai upaya tindakan pencegahan dari Rp11.500 menjadi Rp12.500,”tandasnya.

Menurutnya, langkah ini sebagai bagian dari tata kelola keuangan yang cermat dan hati-hati. Perseroan telah melindungi seluruh nilai pokok sejak penerbitan obligasi sampai dengan masa jatuh tempo. Selain itu, perseroan juga ingin meyakinkan para pemegang obligasi dan investor agar terus memantau perkembangan. “Langkah ini diambil sebagai pencegahan pelemahan lanjutan dari nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujarnya.

LPKR adalah perusahaan properti dengan divisi usaha yang terdiri dari residensial atau township, mal ritel, rumah sakit, hotel dan manajemen aset. Per Juni 2013, utang obligasi perseroan tercatat sebesar Rp 6,26 triliun. Sementara sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan mencatatkan total pendapatan semester pertama meningkat 27%, menjadi Rp3,067 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,406 triliun.

Related posts