DPR Sebut Industri Nasional Belum Mandiri - Laju Impor Barang Konsumsi Sangat Tinggi

NERACA

Jakarta - Meningkatnya pertumbuhan industri di dalam negeri, akan berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan bahan baku untuk proses produksi. Akan tetapi, secara fundamental industri masih lemah, sehingga ketergantungan bahan baku dan barang modal dari impor terbilang cukup tinggi. Bahkan, menurut data dari Kementerian Perdagangan impor bahan baku dan penolong untuk industri dan usaha lainnya di dalam negeri mencapai 92% dari total impor Indonesia.

Anggota Komisi Keuangan DPR RI Ecky Awal Mucharam menilai pertumbuhan industri nasional masih melempem. Hal itu dikarenakan laju pertumbuhan impor barang konsumsi masih lebih tinggi dibandingkan bahan baku dan bahan modal. “Kondisi industri Indonesia masih semu. Industri kita di dalam negeri belum menjadi industri yang mandiri,” jelas Ecky saat dihubungi Neraca, Kamis (31/10).

Menurut Ecky, kebijakan terhadap industri dalam negeri masih lemah dan tidak mandiri. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan terhadap impor yang masih tinggi. “Dilema perindustrian Indonesia sangat rumit. Dari persoalan buruh sampai kepersoalan kebijakannya. Bangsa Indonesia masih menderita dari segala objek,” ujar dia.

Dia mengaku, Indonesia menjadi surga bagi investor dan industri-industri besar dari luar. Saat ini, investor asing banyak masuk dan berinvestasi di Indonesia. “Sayangnya industri besar yang masuk belum mendorong industri kecil dan menengah kita untuk naik kelas, “ jelas Ecky.

Saat ini kata dia, semua segmen industri tanah air hampir dipegang oleh pihak luar. Bangsa Indonesia hanya sebagai bangsa buruh saja. Kondisinya semakin merugikan Indonesia karena benefit atau value yang didapat dari industri-industri besar tersebut masih semu. “Kenyataannya kita masih sulit mendapatkan bahan baku, sehingga bahan baku masih di import dari luar,” jelas dia.

Sehingga invasi industri yang dilakukan oleh orang-orang asing ke Indonesia terkesan hanya ingin mendapatkan manpower yang murah dan ingin mendapatkan pasarnya saja di Indonesia. “Belum lagi bicara mengenai alih teknologi, yang sudah sering dibicarakan dari jaman orde baru. Sebagai salah satu contoh saja, industri otomotif misalnya. Kalau kita mau blusukkan akan kita temui bahwa dari kondisi pra dan pasca industry otomotif semuanya dipegang oleh pihak luar. Kalaupun ada industri menengah yang ditempelkan ke main industrinya paling hitungannya masih sedikit sekali,” ujar Ecky.

Untuk itu kata dia, Indonesia membutuhkan kemandirian industri. Pemerintah harus segera membuat blue print yang kuat dan jelas. Pemerintah harusnya memiliki rencana dan grand design yang kuat dan malestone atau langkah-langkah yang jelas. “Jelasnya kita Indonesia ini ingin kuat di industry apa,” kata Ecky.

“Potensi Indonesia itu besar kalau saat ini kita sudah banyak tertinggal maka kita harus melakukan lompatan-lompatan. Agar industry yang tumbuh di kita juga punya daya saing dan mendunia. Apalagi setelah adanya kesepakatan di APEC kemarin, dengan semakin terbukanya liberarilasi. Jangan sampai kebijakan dan langkah yang dibuat menjadi problem baru bagi bangsa ini, “tutup Ecky.

Kurangi Impor

Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan industri nasional diperkirakan bisa mengurangi ketergantungan impor bahan baku pada 2014. Setidaknya, dibutuhkan waktu dua tahun untuk memperkuat struktur industri di dalam negeri. "Fokus saya adalah memperkuat struktur industri. Saya berharap, pada 2014, kita sudah bisa menekan ketergantungan impor," kata Hidayat.

Menurut Hidayat, hampir 50% kebutuhan barang modal dan bahan baku industri di dalam negeri masih didatangkan melalui diimpor. Padahal idealnya, kebutuhan itu harus dipenuhi di dalam negeri.

Untuk mendorong pemenuhan bahan baku di dalam negeri, menurut Hidayat, diperlukan berbagai insentif fiskal agar pelaku usaha berminat menginvestasikan dananya. Pemenuhan insentif tersebut telah disadari oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan diharapkan dapat mendorong pengembangan industri bahan baku di dalam negeri.

Di sisi lain, dia mengakui, ketergantungan impor barang modal dan bahan baku yang tinggi juga menjadi salah satu kelemahan struktur perdagangan nasional. Importasi barang modal dan bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah. Untuk itu, pemerintah akan terus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar.

Menteri Kooridinator Ekonomi Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah mendorong peningkatan produksi bahan baku (raw material) dan bahan penolong (component) dari dalam negeri. "Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan bahan baku dan penolong impor, salah satunya dengan cara mempermudah aturan untuk mendirikan industri bahan baku atau penolong di dalam negeri," katanya.

Menurut Hatta, tujuan dari pemberian kemudahan tersebut terkait industri Indonesia yang sedang tumbuh. Namun, tentunya industri harus dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku dan penolong impor.

Related posts