Permintaan Produk IKM Bakal Semakin Melonjak - Industri Nasional Bersiap Hadapi AEC

NERACA

Jakarta - Pintu gerbang ASEAN Economic Community (AEC) 2015, tidak lama lagi akan dibuka, namun beberapa kalangan pengusaha dan pengamat ekonomi, meragukan kesiapan dari industri kecil dan menengah untuk menghadapi kerjasama ekonomi tersebut, karena sejumlah masalah yang belum terselesaikan.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) , Euis Saedah memaparkan, sektor industri kecil dan menengah mempunyai potensi yang besar untuk berkembang dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. “Selama ini, IKM mampu bertahan di saat krisis ekonomi. Dengan jumlah penduduk yang besar, maka permintaan produk IKM nasional akan semakin tinggi,” jelas Euis saat dihubungi Neraca, Kamis (31/10).

Lebih lanjut Dirjen IKM ini memaparkan, ada tiga sektor industri kecil menengah (IKM), seperti fashion, makanan dan kerajinan yang mempunyai potensi yang besar untuk berkembang dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. “Selama ini, IKM mampu bertahan di saat krisis ekonomi. Dengan jumlah penduduk yang besar, maka permintaan produk IKM nasional akan semakin tinggi,” paparnya.

Strategi Khusus

Disisi lain, Wakil Ketua Kadin bidang UKM Erwin Aksa mengatakan, untuk menghadapi AEC 2015, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mempunyai strategi khusus, terutama yang berkaitan dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Koperasi.

Setidaknya, Kadin mempunyai dua cara untuk meningkatkan kualitas UMKM Indonesia menghadapi AEC. Pertama, Kadin akan bekerjasama dengan Kementrian Koperasi dan UKM untuk mendirikan sebuah lembaga keuangan yang dikhususkan untuk pelayanan dan fasilitas para UMKM dan Koperasi di seluruh Indonesia.

“Dengan ini nantinya ada satu pintu atap yang akan mendorong pelayanan usaha, pendampingan, konsultasi yang diharapkan nantinya Kadin Daerah akan terlibat secara langsung dalam program tersebut. Saya kira pertumbuhan UKM ini semakin besar dan pengisaha mikro menjadi pengusaha kecil, yang mengah skilling up menjadi besar,” ujarnya.

Menurut dia, pada 2015 mendatang akan ada setidaknya 591 juta pasar yang akan menjadi peluang bagi para pengusaha di seluruh ASEAN. Dari total penduduk negara ASEAN sebanyak 80% merupakan penduduk di bawah 45 tahun. “Peluang ini tentu kita tangkap sebagai peluang usaha yang nanti bisa menjadi bagian dari bisnis dinikamti UKM, jangan sampai nanti kita menjadi penonton,” kata dia.

Sementara untuk langkah yang kedua, Kadin akan menjadikan sistem transaksi perdagangan UMKM dan Koperasi secara elektronik. “Disamping itu kadin UKM juga dalam hal pemasaran yang selama ini menjadi salah satu pengembangan UKM, akan mendorong pengembangan E-Commers. Ini merupakan tren kedepan yang akan mengglobal,” ujar Erwin.

Peluang e-comners menurut Erwin masih sangat besar. Dia mencontohkan di China. Berdasarkan data tahun 2012 menunjukkan total perdagangan e-commerce sebesar Rp 2.000 triliun dengan total perdagangan 58 juta pengusaha UMKM.

Sedangkan di Indonesia, perdagangan e-commerce baru mencapai Rp 3 triliun dengan total pengusaha UKM yang terlibat tidak lebih dari 100 ribu pengusaha. “Tahun 2015 e-commerce akan kita harapakan menjadi 1 juta dan transaksi menjadi Rp 10 triliun,” tutup Erwin.

Ditempat berbeda, Pakar Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Sri Adiningsih mengatakan partisipasi dan daya saing ekonomi sektor UMKM dalam perekonomian masih rendah, dan ini salah satunya terlihat dari minimnya UMKM yang dapat mengakses skim pembiayaan.

Menurutnya, masih banyak kebijakan yang belum berpihak kepada dunia usaha, sehingga daya saingnya berkurang, antara lain bunga bank yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain.

“Selama ini diskon yang diberikan skim pembiayaan hanya dapat diakses oleh perusahaan berskala besar, prosedur yang diberikan untuk memanfaatkannya juga cenderung sulit, serta sosialisasinya terhadap UMKM belum masksimal,” tuturnya.

Dijelaskannya, sekarang ini pemerintah dan UMKM belum siap menghadapi AEC 2015 maupun AFTA 2015. “Dari sekitar 55 juta pelaku UMKM se-Indonesia, dan 15 juta di antaranya berada di Jateng, belum siap untuk menghadapi pasar bebas ASEAN 2015 mendatang,” tuturnya.

Related posts