Ekspor Turun, Laba TIMAH Tergerus 62%

NERACA

Jakarta – PT TIMAH Tbk (TINS) mencatatkan penurunan ekspor timahnya menjadi sekitar 786 ton di bulan September dari periode bulan Agustus 2013 yang mencapai 6.525 ton atau. Penurunan ini tercatat sebagai yang terendah dalam beberapa tahun ini. Sekretaris Perusahaan Agung Nugroho dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (31/10) menjelaskan, penurunan penjualan tersebut sangat mempengaruhi terhadap performa kuartal tiga 2013.

Namun perseroan memperkirakan harga logam timah akan bergerak ke US$ 25.000/mton serta penjualan akan kembali pulih dan meningkat pada kuartal empat 2013,”Seiring dengan bertambahnya jumlah customer kami yang menjadi anggota bursa di BKDI, stok logam timah kami mencukupi akibat adanya perbaikan produksi dan sistem perdagangan yang baru dari bursa timah”, ujar dia.

Terhitung sejak 30 Agustus 2013 lalu, perseroan melakukan penjualan logam timah melalui mekanisme Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) sebelum di ekspor. Hal ini sesuai dengan Permendag Nomor 32 Tahun 2013 tentang ekspor logam timah.

Pada periode berjalan, perseroan telah melakukan penyesuaian bentuk kerja sama dengan para customer dengan menerbitkan force majeure guna menyesuaikan isi kontrak penjualan agar sesuai dengan Permendag Nomor 32.“Selama penyesuaian kontrak, terjadi penurunan volume penjualan selama bulan juli, Agustus dan terutama pada september karena masih sedikitnya anggota bursa”, jelasnya.

Dia menambhakan, pemberlakuan Permendag nomor 32 ini, dalam jangka panjang dimaksudkan untuk memperbaharui dan mengatur sistem perdagangan timah di Indonesia sehingga dapat menjadi referensi harga timah dunia. Hingga kuartal tiga 2013, harga rata-rata logam timah dunia di LME adalah US$22.086 per mton, dengan volume persediaan pada awal tahun tercatat 12.675 mton menjadi 13.240 mton pada akhir september 2013.

Sementara harga rata-rata logam timah yang diterima perseroan sampai dengan triwulan ketiga 2013 sebesar US$22.455 per mton atau 4% lebih tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata pada periode yang sama tahun 2012 sebesar US$21.523 per mton. Selain itu, di kuartal ketiga 2013, harga saham perseroan juga berfluktuasi pada posisi tertinggi di harga Rp1.610 dan terendah pada posisi Rp950 per lembar saham. Selanjutnya, harga saham perseroan ditutup sebesar Rp1.610 atau masih lebih rendah dibandingkan harga pembukaan pada awal Januari sebesar Rp1.680.

Laba Turun

Selain harga sahamnya yang mengalami fluktuasi akibat harga komoditas dunia tidak stabil, perseroan juga mengalami penurunan laba bersih pada kuartal ketiga 2013 hingga 62% menjadi Rp141 miliar dari Rp369,9 miliar diperiode yang sama tahun 2012.“Penurunan laba bersih diakibatkan menurunnya pendapatan usaha 54,42% menjadi Rp3,89 triliun dari sebelumnya Rp6,01 triliun”, kata Agung Nugroho.

Sementara beban pokok pendapatan perseroan pada periode ini sebesar Rp3,25 triliun dan beban usaha sebesar Rp436,49 miliar dan rugi dari selisih kurs sebesar Rp270 juta turut menekan perolehan laba bersih perseroan. Volume penjualan logam timah per September 2013 sebanyak 15.227 metrik ton (mton) atau 43% lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2012 sebesar 26.921 mton.

Untuk laba bersih per saham juga ikut turun menjadi Rp28 dari sebelumnya Rp73 per saham pada periode kuartal ketiga tahun lalu. Lalu total aset perseroan meningkat Rp6,59 triliun dari sebelumnya Rp6,13 triliun diakhir Desember 2012. Produksi bijih timah pada periode kuartal ketiga tahun ini turun 29% menjadi 17.264 ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012 sebesar 24.357 ton.

Produksi logam timah mencapai 16.088 mton atau turun 31% dibandingkan dengan produksi logam pada periode yang sama tahun 2012 yaitu 23.255 mton. Volume penjualan logam timah hingga kuartal ketiga 2013 turun 43% menjadi 15.227 mton atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2012 sebesar 26.921 mton. (nurul)

Related posts