Cermat Memilih Perusahaan Asuransi

NERACA

Banyak perusahaan asuransi mengklaim mereka adalah yang terbaik. Ini dapat dilihat jika ada produk asuransi yang ditawarkan kepada masyarakat melalui iklan-iklan, nyaris tidak ada yang kurang. Demikian pula dengan kinerja yang mereka lakukan, jarang manajemen perusahaan asuransi mengutarakan kelemahan-kelemahan yang mereka alami.

Meski demikian, ada beberapa faktor yang seharusnya dipertimbangkan oleh para investor sebelum memilih suatu perusahaan asuransi, khususnya asuransi jiwa. Hal tersebut adalah kemampuan keuangan perusahaan tersebut untuk memenuhi janjinya jika keadaan membutuhkan. Hal ini penting diketahui, karena tidak sedikit perusahaan asuransi yang tampak di luarnya mentereng, namun ketika terjadi klaim dari nasabah, perusahaan tersebut tidak mampu membayar.

Dalam hubungan ini perlu dipertanyakan, apakah perusahaan asuransi ini mereasuransikan pada reasuransi yang keamanannya kelas satu. Ini bisa dilihat dari laporan tahunannya. Hal ini penting diperhatikan, karena bila perusahaan tersebut tidak di-back up oleh reasuransi, besar kemungkinan perusahaan tersebut bersifat spekulatif dalam menerima premi.

Masalah biaya adalah seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi dalam operasionalnya. Kalau lebih besar biaya dibanding pemasukan, maka jelas perusahaan tersebut tidak efisien. Kalau sudah tidak efisien, maka ujung-ujungnya akan mengalami kerugian. Dan kalau terus-menerus rugi, pasti tidak sehat. Dalam hubungan ini bisa juga dilihat harga preminya. Bandingkan harga premi asuransi yang sama dengan asuransi yang lain. Mana yang kualitasnya betul-betul baik.

Praktisi Keuangan, Maria Elvida Rita Dewi menuturkan, pemerintah sudah menentukan salah satu tolok ukur kesehatan asuransi (bukan satu-satunya) yaitu melalui mekanime RBC (risk base capital). Kalau angka RBC-nya besar, ini berarti perusahaan tersebut dinilai dalam kondisi baik.

“Tetapi kita tidak boleh terpaku semata-mata dengan angka RBC, apakah perusahaan asuransi itu sehat atau tidak. Dalam hal ini yang juga patut diperhatikan adalah kinerja perusahaan tersebut dalam dua atau tiga tahun terakhir. Seberapa besar keuntungan yang diperoleh tiap tahun, berapa besar premi bruto yang mereka terima tiap tahun, seberapa besar penambahan modal dan aset setiap tahun,” kata dia.

Ini bisa dilihat dari laporan neraca keuangan. Liabilitas (kemampuan melunasi kewajiban) akan terlihat di neraca, bagaimana utangnya, bagaimana dia memenuhi kewajiban membayar klaim, dan lain sebagainya. Indikator liabilitas antara lain net equity (modal sendiri) dibagi net premi (premi bersih) minimal 50%. Modal sendiri dibagi gross premi (premi kotor) minimal 20%. Batas tingkat solvabilitasnya, yang terlihat dari modal sendiri dibagi premi bersih minimal 10% dan dana investasi dibagi cadangan teknik minimal 100%. Di neraca dan laporan tahunan juga akan terlihat bahwa asuransinya masih untung, atau mengalami pertumbuhan laba. Ini berarti underwiting polcy-nya bagus.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana perilaku manajemen perusahaan tersebut selama ini. Adakah manajemen perusahaan itu selama ini ingkar janji? Pernahkah manajemen perusahaan ini mengalami wanprestasi, dan lain sebagainya.

Related posts