Menjual Indonesia

Menjual Indonesia

Oleh Bani Saksono

(wartawan Harian Ekonomi Neraca)

Sudah sejak 418 tahun silam, orang dari negeri lain dagang ke Indonesia untuk berdagang. Banyak komoditas yang bisa diperoleh dari bumi Nusantara, seperti rempah-rempah dan hasil bumi lainnya. Begitu subur makmurnya tanah Indonesia, memancing kongsi dagang Belanda, VOC namanya, bernafsu menguasai dan memonopoli perdagangan.

Selama 350 tahun kaum imperialis Belanda menguasai Indonesia. Sebanyak-banyaknya kekayaan Indonesia dikeruk dan diangkut ke luar negeri. Kini, 418 tahun kemudian, apa bedanya? Banyaknya potensi sumber daya alam di Indonesia telah memicu adanya pergerakan ekonomi di tingkat lokal, maupun lintas sektoral.

Pengusaha penyedia barang dan jasa pun mempunyai dua pilihan. Memproduksi sendiri dengan muatan atau produk lokal, atau mengimpor dari negara lain tanpa banyak risiko, termasuk gagal panen atau tuntutan kenaikan gaji buruh.

Kegiatan impor barang dari luar negeri dilakukan jika barang atau jasa yang ditawarkan tidak tersedia sesuai yang dibutuhkan. Bagi yang nyaman dan untung dengan kegiatan impor, tentu akan berusaha keras menciptakan ketergantungan pada impor.

Bagaimana jika mampu diadakan di dalam negeri? Dari segi positifnya, memproduksi sendiri tentu akan menyerap banyak tenaga kerja kreatif, mendatangkan pemasukan ke kas negara atau kas daerah, serta menghidupkan sentra-sentra produksi.

Seperti diungkapkan para pengusaha yang tergabung di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), mereka tengah berlomba-lomba mencetak wirausaha baru di bidang industri kreatif seperti kuliner, event organizer (EO), information and communication (IT), dan jasa lainnya. Semua bisa dijual ke negeri seberang atau dikemas dalam bentuk, misalnya wisata belanja, karena pusat perbelanjaan di Jakarta terlengkap di dunia dan empat kuliner Indonesia masuk 20 besar kuliner pilihan dunia. []

Related posts