Meningkatkan Rasa Cinta Generasi Muda Kepada Tanah Air - Ratusan Siswa SMP Kunjungi Musium

NERACA

Nilai-nilai kebangsaan menjadi unsur utama dalam membangun karakter kebangsaan dalam bernegara. Hal ini membuat Indonesia akan dikenal sebagai bangsa yang memiliki jati diri, bangsa yang bermartabat, bangsa yang rela berkorban demi bangsa dan negaranya.

Memang harus diakui bahwa bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis karakter, Indonesia seolah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki prinsip ideologi kebangsaan yang eksklusif, berkebudayaan tinggi, memiliki tata krama, sopan santun, toleransi, gotong royong, semangat juang, dan nasionalisme.

Nilai-nilai luhur yang berakar dari pengkajian kebudayaan nenek moyang tersebut, saat ini telah mulai tergantikan oleh produk-produk perkembangan zaman yang memungkinkan masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing yang secara tidak sadar sesungguhnya mulai menggeser eksistensi budaya bangsa Indonesia sebagai karakter di kalangan masyarakatnya sendiri.

Oleh karena itu, untuk menanamkan rasa cinta Tanah Air dan menumbuhkan karakter jati diri bangsa, belum lama ini ratusan siswa SMP dan beberapa komunitas bersepeda di Kota Yogyakarta mengikuti kegiatan jelajah sejarah dengan mengunjungi sejumlah museum.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan dan menumbuhkan karakter kebangsaan serta meningkatkan rasa cinta Tanah Air generasi muda kepada Indonesia. Mereka adalah calon pemimpin bangsa. Jika mereka mencintai Indonesia, maka mereka tidak akan pernah melakukan perbuatan untuk merusak Indonesia," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Edy Heri.

Edy mengatakan, siswa yang mengikuti kegiatan tersebut memang hanya dikhususkan untuk siswa tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sederajat menyesuaikan kompetensi pembelajaran yang ada, khususnya sejarah Indonesia.

"Pertimbangan akademik juga menjadi salah satu pertimbangan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Banyak materi pembelajaran sejarah di tingkat SMP yang mempelajari sejarah Indonesia," kata dia.

Selain itu, Edy berharap, penyelenggaraan kegiatan tersebut dapat mengenalkan berbagai situs sejarah yang ada di Kota Yogyakarta, mulai dari sejarah kerajaan hingga sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Sementara itu, Kepala Museum Benteng Vredeburg Zaimul Azzah yang mewakili Direktorat Jenderal Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan, kegiatan tersebut dapat menangkal berbagai dampak negatif arus globalisasi.

"Selama ini, ada kekhawatiran bahwa jati diri bangsa akan semakin menipis seiring derasnya arus globalisasi dan generasi muda melupakan sejarah bangsa," ujar dia.

Padahal, lanjut dia, sejarah memiliki nilai yang sangat penting untuk menunjang kehidupan bangsa di masa yang akan datang.

Kegiatan jelajah sejarah tersebut dimulai dari halaman Museum Diponegoro dilanjutkan ke Taman Sari, Museum Perjuangan, Puro Pakualaman dan finish di Benteng Vredeburg. Di setiap tempat pemberhentian, peserta menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan oleh panitia dan di akhir kegiatan akan dipilih enam juara untuk memperoleh hadiah uang dengan nilai jutaan rupiah. Selain di Yogyakarta, kegiatan jelajah sejarah tersebut juga akan digelar di tiga kota lain di Indonesia yaitu Malang, Ternate dan di Siak.

Related posts