Cegah Porno Aksi Pelajar: seimbangKan Pendidikan Otak dan Watak - Sanksi Tegas

Pergaulan generasi muda masa kini sudah sangat permisif. Keberanian pelajar yang melakukan perbuatan cabul tanpa malu dan merekamnya dengan santai adalah indikasi hancurnya budaya ketimuran bangsa ini. Untuk itu, diperlukan keseimbangan antara kecerdasan otak dan watak pelajar untuk menjadi tameng yang kuat dalam membentuk pribadi pelajar yang baik.

NERACA

Perbuatan asusila yang dilakukan pelajar di salah satu SMP di Jakarta baru-baru ini telah memperlihatkan semakin rendahnya moral generasi muda bangsa ini. Arus modernisasi telah meluluhlantakkan pondasi moral anak bangsa. Bagaimana tidak? seorang siswa dan siswi melakukan tindakan asusila, sementara sejumlah siswa lainnya melihat secara langsung tindakan tersebut. Adegan tersebut juga direkam dengan menggunakan telepon selular.

Tokoh pendidikan Indonesia, Arief Rahman mengatakan bahwa ada empat faktor yang membuat seorang pelajar rentan terjerumus ke dalam tindak porno aksi, yakni faktor keluarga yang tidak membina dengan baik, berada di sekolah yang pendidikan etikanya tidak maksimal, sentuhan pergaulan di lingkungan dan arus penyalahgunaan media teknologi.

Tetapi, lanjut dia, tidak semua pelajar mau mengakses media porno dan menjerumuskan diri pada tindakan porno aksi. Pelajar yang memiliki benteng diri dan rambu-rambu yang kuat dari dalam dirinya sendiri, keluarga, sekolah dan lingkungan akan terhindar dari perbuatan tersebut.

"Pada anak-anak seperti itu ada saringan dari sisi agama, dari sisi psikologis sudah tertanam di benak mereka apakah sebuah tindakan yang diperbuat akan merugikan pribadi dan keluarga," tambah pria yang kini berusia 71 tahun.

Meskipun sudah beberapa kali beredar video porno pelajar, praktisi pendidikan ini mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan sistem pendidikan Indonesia. Untuk itu, menurut dia, keseimbangan antara pendidikan otak dan watak sebagai tameng pencegah tindak porno aksi di kalangan pelajar yang beberapa kali terjadi di Indonesia mutlak diperlukan.

"Sistemnya tidak salah, saya pikir. Sekolah sudah memberikan pendidikan karakter namun tidak semua, ada beberapa sekolah yang hanya menekankan keunggulan otak, tapi di sekolah yang bagus porno aksi tidak terjadi karena terdapat penekanan terhadap pendidikan watak untuk menyeimbangkan pendidikan otak. Kegiatan-kegiatan yang membuat mereka mempunyai kemampuan berpihak kepada kebaikan, sekolah model tersebut banyak di Indonesia, mereka menyeimbangkan pendidikan otak dan watak di sekolah mereka," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta ini.

Sanksi Tegas

Menanggapi kasus porno siswa SMP Negeri di kawasan Sawah Besar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyatakan perlunya sanksi tegas bagi para siswa yang melakukan aksi pornografi.

"Ya harus diberikan sanksi. Apalagi kalau dilakukan saat-saat pelajaran. Yang jelas harus diberikan sanksi. Berbeda dengan kasus kalau dia diperkosa, lain lagi," kata Nuh di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta belum lama ini.

Namun, terkait kasus yang terjadi di salah satu SMP Negeri di Jakarta tersebut, Nuh mengaku bahwa dirinya tidak bisa mencampuri secara langsung mengingat ada jenjang kewenangan dalam sekolah.

"Ada kepala dinasnya, ada kepala sekolahnya, sampai ada gubernurnya. Saya tidak bisa serta merta bisa masuk langsung begitu, oleh karena itu kita berikan kesempatan pada dinas yang bertanggung jawab di wilayah," kata dia.

Menurut dia lingkungan pergaulan di luar sekolah sangat mempengaruhi perilaku siswa didik. Oleh sebab itu, keluarga dan masyarakat juga diminta aktif untuk menjaga lingkungan yang ramah dan mencegah terjadinya hal-hal tak bermoral.

"Hal-hal begitu kan bukan penyebabnya dalam sekolah. Lingkungan juga, pergaulan, nah baru dia masuk di sekolah sebagai taruhlah bagian dari ekspresi dia. Itu penyakitnya dari luar. Orang sakit kepala di luar tapi muntahnya di situ," kata dia.

Ia menambahkan, pelajaran agama dan moralitas sangat diperlukan guna membekali siswa untuk meiliki kepribadian yang baik. "Itu lah mengapa dari awal, meski dikritik habis-habisan kenapa pelajaran agama dan budi pekerti itu kita terapkan yang tadinya dua jam jadi empat jam, karena kita merasakan itu," kata dia.

Related posts