Pengusaha pun Harus Berwawasan Kebangsaan

PERINGATAN 85 TAHUN SUMPAH PEMUDA

Pengusaha pun Harus Berwawasan Kebangsaan

Kalangan pengusaha muda yang terhimpun dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jaya merasa prihatin. Saat ini, bangsa Indonesia mengalami surplus pemimpin-pemimpin muda di segala sektor, legisatif, eksekutif, yudikatif, maupun di sektor lain.

Tidak sulit bagi kita untuk mencari para pemimpin muda. Namun, yang diprihatinkan adalah bangsa ini justru defisit para pemimpin yang berjiwa kenegaraan atau memiliki sikap nasionalisme. Bahkan, di saat para pemimpin muda itu memegang tampuk kekuasaan di level tertentu, banyak di antara mereka yang terjebak pada upaya pemenuhan kepentingan diri sendiri, orang lain dalam kelompok dan golongan tertentu.

“Agar tidak menjadi pemimpin seperti itu, para pengusaha perlu dibekali jiwa nasionalisme dan wawasan kebangsaan sejak dini,” kata M Randi Wibawa dalam acara Diklatda Hipmi Jaya 2013 di sebuah hotel di Jakarta, pekan ini. Bila tidak, kata dia, para pengusaha akan mudah terbawa arus globalisasi dan semangat pragmatisme yang bisa merugikan bangsa dan negara Indonesia.

Hipmi Jaya, kata Randi, ketua panitia Diklatda, memiliki tanggung jawab penuh untuk membentuk watak pengusaha nasional ke depan sejak usia muda. Hipmi Jaya, kata dia, juga prihatin dengan semakin maraknya semangat pragmatisme dan pencaharian keuntungan sesaat yang justru banyak merugikan kepentingan nasional. “Karena itu, Hipmi bertanggung jawab membentuk mindset kewirausahaan yang berwawasan kebangsaan,” tuturnya.

Wawasaan kebangsaan adalah jiwa bangsa Indonesia dan menjadi pendorong tercapainya cita-cita bangsa. Di dalam wawasan kebangsaan, terkandung butir-butir yang menjiwai dan memaknai wawasan kebangsaan yaitu, rasa kebangsaan, paham kebangsaan, dan semangat kebangsaan. Itu semua dapat digunakan sebagai alat pemersatu bangsa dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam latar belakang, suku, agama, ras, dan adat-istiadat. Wawasan kebangsaan merupakan pedoman yang sifatnya filosofis dan normatif.

Menurut wakil sekretaris umum Hipmi jaya ini, wawasan kebangsaan perlu digalakkan dengan maksud agar semua warga negara menyadari pentingnya hidup bersama sebagai bangsa atas dasar kesamaan hak dan kewajiban di depan hukum. Wawasan kebangsaan bertujuan menghidupkan kembali semangat kebangsaan yang mendorong terwujudnya hidup yang harmonis, menjaga keutuhan bangsa serta tercapainya cita-cita bangsa.

“Karena itu, para pengusaha muda perlu dibekali dengan pemahanan terhadap wawasan kebangsaan, karena saat ini wawasan kebangsaan generasi muda sudah mulai luntur,” ujar Randi lagi. Dia menambahkan, bila persoalan itu dibiarkan akan berimbas pada generasi berikutnya. Padahal, kata dia, dengan pemahaman dan kesadaran yang tinggi terhadap wawasan kebangsaan,. akan tumbuh semangat dan kesadaran bela negara dan cinta tanah air.

Memakai Produk Sendiri

Banyu Biru Jarot, direktur Ortus Group yang juga ketua Bidang Usaha Minyak dan Gas Hipmi Jaya mengungkapkan, wawasan kebangsaan adalah soal berkibarnya MerahPutih. “Artinya, seluruh elemen bangsa, termasuk para pengusahanya, harus bersatu padu dan bersinergi untuk membangun Republik Indonesia agar menjadi kuat dan lebih baik lagi,” kata putra tokoh perfilman Eros Jarot.

Sedangkan kata Baroto Ario Isman, wakil sekretaris umum Hipmi Jaya, pengusaha yang berwawasan kebangsaan itu juga harus mengembangkan perspektif global. “Artinya, jiwa berwawasan kebangsaan itu akan menjadi modal utama bagi kita untuk memasuki era globalisasi,” kata Baroto.

Karena itu, menurut Baroto, dengan tagline ‘pengusaha Merah putih’, pengurus Hipmi Jaya harus ikut membina para pengusaha muda (wira usaha). Dia berharap, para pengusaha nasional tidak terlibas oleh perusahaan multinasional. Baroto menyatakan, pengusaha yang berwawasan kebangsaan perlu bersatu pada agar bangsa ini tidak dijajah oleh sebuah perusahaan asing. “Syaratnya mudah, yaitu berupaya mencintai dan menggunakan produk lokal,” kata Baroto. (saksono)

Related posts