Merpati Ditutup, Rugi Buat Negara

TERBELIT UTANG Rp 6,5 TRILIUN

Kamis, 31/10/2013

Jakarta – Keputusan pemerintah untuk tidak lagi menyelamatkan BUMN yang sakit, ternyata bukan sebatas gertakan belaka tetapi nyata dan tegas. Hal ini dibuktikan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang tetap serius akan menutup maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) lantaran selalu mengalami kerugian. Pemerintah sepertinya sudah matang untuk menutup maskapai penerbangan nasional ini, karena dalam perjalanannya seperti "benalu" yang selalu menggerogoti keuangan negara.

NERACA

Menurut mantan Sekretaris Menteri BUMN Said Didu, jika pemerintah menginginkan Merpati tetap ditutup, maka dipastikan kerugian akan ditanggung oleh pemerintah karena keadaan utang yang semakin membengkak membuat pemerintah lebih mengeluarkan banyak dana untuk pelunasan utang.

“Kalau ditutup, maka sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk membayar utang-utangnya Merpati. Inilah yang akan menjadi beban buat pemerintah karena harus membayar utang Rp6,5 triliun,” kata Said Didu kepada Neraca, kemarin (30/10).

Hal ini diakuinya sangat dilematis. Tetapi jika diselamatkan, kata Said Didu, pemerintah hanya menyuntikan modal Rp 1 triliun dan Merpati bisa bangkit lagi. “Sebenarnya pada 2008, Merpati pernah meminta agar disuntik modal sebesar Rp1 triliun, akan tetapi sampai sekarang dana tersebut tidak sampai. Yang ada, kondisi sekarang Merpati terus terbelit utang,” imbuhnya.

Menurut dia, dengan disuntik modal bisa melalui neraca dan cash flow dari Merpati. “Misalnya dari neraca, bisa masuk ke bursa saham dan mengalihkan dari utang menjadi saham. Sementara dari cash flow, dengan tambahan dana tersebut membuat Merpati bisa membeli pesawat baru sehingga meningkatkan kinerja Merpati itu sendiri,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, bisa juga menyerahkan nasib Merpati ke BUMN investasi dan kelola aset yaitu PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Nantinya PPA mempunyai kewenangan sepenuhnya untuk merestrukturisasi maskapai penerbangan nasional tersebut.

Sementara pengamat penerbangan Chappy Hakim menjelaskan, seharusnya Merpati diselamatkan karena posisinya sebagai maskapai penerbangan perintis. Namun lantaran penumpukan utang yang banyak akibat dari pemetaan transportasi udara yang berantakan, “Harus dipertahankan, tetapi diawali dengan pemetaan yang jelas. Utang Merpati yang menumpuk akibat pemetaan tidak jelas, karenanya banyak maskapai perang tarif”, ujar dia.

Dia mencontohkan, Garuda Indonesia yang seharusnya menjadi penerbangan rute besar, memiliki rute-rute domestik dengan anak usahanya Citilink yang juga menyediakan pesawat-pesawat besar. Sementara Merpati yang seharusnya melayani penerbangan perintis, ikut-ikutan melayani jasa penerbangan domestik dengan pesawat besar.“Ini yang membuat terlalu banyak maskapai tumbuh yang disebabkan peraturan yang tidak jelas. Dulu, penerbangan perintis untuk mempertahankan NKRI. Agar daerah terpencil yang membutuhkan dokter, guru atau lainnya dapat terpenuhi”, jelasnya.

Dia menambahkan, seiring pertumbuhan teknologi dan kebutuhan penerbangan khususnya domestik semakin tinggi, semua maskapai penerbangan memberi jasa ini. Sehingga yang terjadi adalah banyaknya penerbangan domestik dibandingkan perintis,”Jika ditanya apa perlu Garuda Indonesia akuisisi Merpati, bukan lagi persoalan. Yang paling utama adalah mempertahankan penerbangan perintis itu sendiri,”tegasnya.

Menurut dia, jika pemerintah tidak bisa menata ulang transportasi udara ini, kemungkinan akan semakin tidak jelas. “Jika tidak mampu mengelola, sebaiknya mendelegasikan swasta untuk mengaturnya. Karena perlu satu wadah yang mengatur semua transportasi udara”, ujarnya.

Gotong Royong

Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Revrisond Baswir, pemerintah tidak seharusnya menutup maskapai penerbangan Merpati akibat kegagalan restrukturisasi utang senilai Rp6,5 triliun. Terlebih maskapai penerbangan ini memberikan pelayanan kepada masyarakat, yaitu menjembatani daerah-daerah terpencil di Indonesia, khususnya bagian Timur. “Karena jasanya diperlukan, antara lain memasuki daerah-daerah terisolir sehingga ada baiknya dilakukan penyelamatan.” ucapnya.

Apalagi, kata dia, kalau permasalahan yang membelit Merpati hanya persoalan struktur keuangan seperti halnya informasi yang muncul ke permukaan. Jumlah utang yang ditanggung Merpati dan armada yang berkurang dapat ditolong dengan melakukan kerja sama, “Kalau permasalahan struktur keuangan masih ada peluang ditolong. Salah satunya dengan mengundang masuknya pihak swasta yang terbukti sukses.” ujarnya.

Namun, kata dia, harus dicari akar permalahan sebenarnya yang membelit maskapai penerbangan yang notabene berada di bawah Kementerian BUMN sehingga merugi terus-menerus. Diketahui, selain menjadi jembatan penting di daerah-daerah terpencil atau terisolir, perusahaan penerbangan ini juga memiliki jumlah karyawan yang tidak sedikit.

Sebaliknya, menurut pengamat penerbangan Dudy Sudibyo, jalan yang terbaik untuk memecahkan permasalahan maskapai Merpati adalah dengan pembekuan sementara. Pasalnya dengan begitu perusahaan tidak akan menambah beban operasional yang justru akan menambah hutang juga. Tapi kemudian pada pemegang kepentingan juga harus segera ambil peran.“Itu harus segera kumpulah, BUMN, Perhubungan, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Kalau sekarang kan jadinya terlihat diabaikan sedangkan perusahaan tetap harus jalan terus. Kalau mau tutup ya silahkan tutup, kalau mau lanjut ya cari penyelesaiannya. Tapi sebaiknya segera dibekukan untuk sementara,” kata Dudi.

Lanjut, Dudi mengatakan para pemangku kepentingan termasuk pemegang saham Merpati memang tidak pernah serius untuk memcahkan masalah ini. Padahal manajemen internalnya sudah tidak baik sejak lama.

Sementara Ferrari Romawi, anggota DPR RI Komisi VI minta Kementerian BUMN menilai, salah satu jalan untuk menyelamatkan Merpati Nusantara Airlines adalah dengan restrukturisasi seluruh utangnya. Misalnya utang yang ada sekarang diperpanjang secara mencicil, dengan tenggat waktu yang ditentukan agar pihak manajemen berpikir untuk menyelamatkan perusahaan. “Untuk menyelamatkan Merpati hanya ada satu cara yaitu dengan restrukturisasi utang yang ada,” katanya.

Karena semua pihak tahu, bahwa maskapai MNA merupakan pionir dalam dunia penerbangan Indonesia. “Secara nasionalisme harusnya kita mempertahankannya, karena memang Merpati yang membuka gerbang penerbangan Nasional,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Meneg BUMN Dahlan Iskan membantah bahwa dirinya pernah menyampaikan ide untuk menutup operasional maskapai penerbangan MNA. "Saya tidak pernah menyimpulkan akan menutup Merpati. Tetapi itu penutupan Merpati merupakan kesimpulan dari kebijakan restrukturisasi menteri sebelumnya," kata Dahlan. lia/nurul/agus/bari/bani