Bikin Anak Usaha, BCA Suntik Modal Rp 70 Miliar

Garap Bisnis Asuransi Jiwa

Kamis, 31/10/2013

​NERACA

Jakarta – PT Bank Central Asia (BCA) berencana mendirikan anak perusahaan yang bergerak di segmen asuransi jiwa tahun 2014 mendatang. Direktur Consumer Banking BCA, Henry Koenaifi menjelaskan, pendirian perusahaan tersebut dilakukan untuk memperkuat jaringan bisnis konsumer perusahaan.

Lebih lanjut, Henry juga menjelaskan, anak perusahaan asuransi ini sedang diajukan,“Baru di ajukan, izinnya juga belum keluar, semuanya masih dalam proses, ini masih tertunda hingga tahun depan, karena tidak mungkin izinnya keluar dalam jangka waktu dua bulan ini,” imbuh Henry di Jakarta, Rabu (30/10).

Henry juga menilai, bisnis asuransi dianggap bisa diselaraskan dengan bisnis perseroan. Hal ini, yang mendasari BCA membuat perusahaan asuransi dengan modal awal Rp70 miliar, yang akan ditingkatkan menjadi Rp100 miliar.

Sebelumnya, perseroan telah menyiapkan dua skema dalam upaya memiliki bisnis asuransi jiwa, skema pertama adalah membuat perusahaan asuransi sendiri, skema kedua melakukan joint venture (perusahaan patungan) dengan perusahaan asuransi yang sudah ada. "Banyak yang nawarin joint venture, tapi kita tidak mau. Modalnya Rp100 miliar, sekitar itu lah," kata Henry.

Perseroan mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp10,36 triliun per akhir September 2013, tumbuh 25,2% dibanding Rp8,27 triliun pada akhir September tahun lalu. Perseroan mencatat pendapatan operasional sebesar Rp24,48 triliun pada September 2013, tumbuh 23,63% dibanding Rp19,8 triliun pada September 2012. Sedangkan beban operasional tercatat naik 12,2% dari Rp9,52 triliun menjadi Rp10,68 triliun.

Dari sisi penyaluran kredit, perseroan mencatat pertumbuhan 25,8% dari Rp237,69 triliun menjadi Rp298,95 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) naik 11,9% dari Rp357,81 triliun menjadi Rp400,35 triliun. Sementara total aset tumbuh 14,1% dari Rp427,01 triliun menjadi Rp487,13 triliun.

Adapun rasio keuangan lainnya tercatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 15,8%, marjin bunga bersih (NIM) 6%, beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 62,8%, rasio kredit terhadap DPK 73,9%, rasio kredit bermasalah (NPL) gross 0,5%, return on equity (ROE) 26,6% dan return on assets (ROA) 3,7%. (sylke)