Bank DKI Bidik Dana IPO Rp 1,2 Triliun

Rencanakan Go Public Tahun 2015

Kamis, 31/10/2013

NERACA

Jakarta – Wacana Bank Pembangunan Daerah PT Bank DKI go public kembali menguak. Kali ini perseroan menyampaikan, bila rencana untuk melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) masih hidup. Hanya saja, rencana tersebut belum bisa dilakukan tahun depan karena tahun pemilu.

Direktur Utama PT Bank DKI, Eko Budiwiyono mengatakan, wacana IPO akan selalu ada dan saat ini masih mengkaji kondisi pasar yang tepat untuk IPO,”Kita pastikan IPO tidak tahun depan, tetapi tahun 2015 setelah pemilu,”ujarnya di Jakarta, Rabu (30/10).

Dia menjelaskan, masih tertunda-tundanya niatan Bank DKI untuk IPO bukan karena urusan politik, tetapi keinginan pemegang saham yaitu pemerintah provinsi DKI Jakarta yang ingin memperkuat modal terlebih dahulu. Alasannya, bila sudah masuk pasar modal, nantinya pemegang saham akan mahal untuk suntik dana.

Dirinya memperkirakan, dalam IPO nanti, Bank DKI akan membidik dana sebesar Rp 1,2 Triliun. Namun sayangnya, Eko belum mau menyebutkan porsi saham yang akan dilepas dan termasuk nilai saham perdana yang akan ditawarkan ke public. Selain itu, dirinya menargetkan tahun depan akan memberikan dividen kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 200 miliar, “Saya berharap, dividen kita tahun depan bisa capai Rp 200 miliar atau tumbuh dari tahun ini sebesar Rp 180 miliar,”ungkapnya.

Kemudian untuk memperkuat modal dan mengincar Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 15,3% tahun depan, Bank DKI masih mengharapkan pemegang saham menyuntikkan modal sebesar Rp 2 triliun. Dimana dana tersebut sudah termasuk carry over dari suntikan modal pemegang saham yang belum direalisasikan tahun ini sebesar Rp 550 miliar.

Pemerintah DKI sendiri telah menyuntikkan modal sebesar Rp500 miliar pada 2012, dan Rp450 miliar pada 2013, sehingga membuat modal disetor perseroan mencapai Rp1,58 triliun per September 2013. Namun, Bank DKI masih membutuhkan suntikan modal sebesar Rp550 miliar lagi.“Nah ini belum dipenuhi seluruhnya, jadi carry over (dibawa) ke tahun depan. Agar modal jadi Rp2 triliun,” tuturnya.

Sebagai informasi, September 2013, Bank DKI mencetak laba sebelum pajak sebesar Rp 615,59 miliar atau tumbuh melesat sebesar 95,24% disbanding priode yang sama tahun lalu. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit sebesar 33,60% year on year dari Rp 13,36 triliun pada priode September 2012 menjadi Rp 17,85 triliun pada priode September 2013.

Selanjutnya, dana pihak ketiga (DPK) Bank DKI tercatat sebesar Rp 24,11 triliun per September 2013 atau tumbuh sebesar 6,93% year on year dari priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 22,55 triliun. Untuk aset perseroan September 2013 berada di posisi Rp 30,64 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 12,67% dari Rp 27,20 triliun pada priode yang sama tahun sebelumnya.

Dijelaskan, peningkatan laba Bank DKI utamanya di dorong oleh pertumbuhan laba operasional sebesar 75,48% year on year dari semula sebesar Rp 306,52 miliar pada posisi September 2012 menjadi sebesar Rp 537,88 miliar per September 2013. (bani)