PGN Cetak Untung US$641,61 Juta

Berkah Mata Uang Asing Melemah

Kamis, 31/10/2013

NERACA

Jakarta- Pelemahan mata uang asing terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) membawa berkah bagi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS). Sepanjang sembilan bulan tahun ini perseroan mencatatkan kenaikan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 3% menjadi US$ 641,61 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 621,28.

Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso mengatakan, penguatan nilai tukar mata uang dolar, tidak hanya berpengaruh terhadap pendapatan selisih kurs yang berasal dari translasi aset dan kewajiban dalam mata uang Yen ke dolar AS, namun juga mempengaruhi transaksi dari kegiatan usaha perseroan dalam mata uang asing. “Pelemahan mata uang asing terhadap mata uang US$ memberikan keuntungan selisih kurs (neto) sebesar US$ 58 juta.” katanya di Jakarta, Rabu (30/10).

Alhasil, kata dia, perseroan mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk periode sembilan bulan 2013 sebesar US$ 642 juta. Kenaikan tersebut seiring dengan pendapatan bersih yang diperoleh perseroan sebesar US$ 2,20 miliar, atau meningkat 20% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 1,83 miliar. Kenaikan ini juga diropang harga beli gas dari pemasok mulai 1 September-1 April 2013, yang berpengaruh terhadap kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 54% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pencapaian perseroan pada kuartal ketiga 2013 ini, menurut dia, antara lain diperoleh dari pendapatan distribusi dan transmisi perseroan serta kontribusi anak perusahaan. Pihaknya mencatat, pendapatan dari kegiatan usaha PGN selama sembilan bulan 2013 meningkat sebesar 20% dengan kenaikan volume distribusi menjadi 808 MMSCFD dari 801 MMSCFD pada periode yang sama tahun lalu. “Fluktuasi volume pasokan dari beberapa pemasok sejak triwulan kedua mempengaruhi kinerja penjualan gas selama periode sembilan bulan tahun ini.” ucapnya.

Fluktuasi volume pasokan tersebut, sambung dia, antara lain disebabkan kegiatan pemeliharaan fasilitas pemasok. Termasuk ketersediaan infrastruktur gas di wilayah yang memiliki ladang gas yang baru berproduksi sehingga menjadi kendala untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas oleh pelanggan. Namun, di tengah inflasi yang cukup tinggi setelah kenaikan harga BBM di bulan Juni dan depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kata dia, permintaan gas oleh pelanggan perseroan masih cukup stabil.

Dia menyebutkan, usaha transmisi perseroan dan entitas anak, PT Transportasi Gas Indonesia menyalurkan 867 MMSCFD dari 878 MMSCFD pada periode yang sama tahun 2012. Hal ini disebabkan penurunan penyaluran dan penyerapan gas milik pelanggan. Sementara PT Saka Energi Indonesia (Saka) juga mulai mencatatkan pendapatan dari hasil akuisisi Kufpec Indonesia (Pangkah) BV, pemegang 25% participating interest Blok Pangkah. “Pendapatan dicatatkan sejak Juli 2013 dan menyumbang pendapatan sebesar US$ 17 juta terhadap pendapatan konsolidasian perseroan.” ujarnya. (lia)