2013, PLN Targetkan Realisasi 70% - Proyek 1.000 Megawatt

NERACA

Jakarta - Direktur Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan PLN Nasri Sebayang menyatakan bahwa pihaknya menargetkan proyek percepatan pembangunan pembangkit (fast track program/FTP) tahap pertama selesai sekitar 70% sampai akhir 2013. Ia mengatakan sampai saat ini proyek FTP 1 dengan total kapasitas 9.975 MW yang selesai sebesar 5.707 MW. “Sementara, proyek pembangkit yang sedang komisioning sekarang ini berjumlah 2.115 MW dan konstruksi 2.119 MW,” katanya di Jakarta, Rabu (30/10).

Secara keseluruhan, lanjutnya, proyek 10.000 MW tahap pertama akan selesai 2014. Dari proyek komisioning, menurut Nasri, target operasi pada 2013 sebanyak 1.175 MW dan 2014 970 MW. Proyek yang beroperasi sampai akhir 2013 di antaranya akan mengatasi defisit pasokan listrik di Sumut yakni PLTU Nagan Raya Unit 1 berkapasitas 110 MW di Aceh.

Penyelesaian proyek lainnya juga akan menambah kapasitas daya listrik, sehingga meningkatkan kehandalan pasokan. Di antaranya PLTU Tarahan di Lampung dan PLTU Tenayan di Riau. "Dengan demikian, penyelesaian proyek-proyek ini akan menekan risiko pemadaman listrik," katanya.

Nasri menambahkan, proyek-proyek yang sedang tahap komisioning dan selesai 2013 lainnya adalah Tanjung Awar-Awar (Jatim), Tanjung Balai Karimun (Kepri), Pelabuhan Ratu (Jabar), Kendari (Sultra), Lombok (NTB), Sulteng Kendari, Kupang (NTT), dan Barru (Sulsel). Sementara, proyek komisioning, namun selesai 2014 antara lain Pelabuhan Ratu (Jabar), Tarahan Baru (Lampung), Bangka (Babel), dan Nagan Raya (Aceh).

Ia melanjutkan, proyek yang kini tahap konstruksi di antaranya Adipala (Jateng), Pangkalan Susu (Sumut), Belitung (Babel), Teluk Sirih (Sumbar), Bengkayan (Kalbar), dan Teluk Balikpapan (Kaltim). “Pada 2013 selesai konstruksi 236,5 MW dan 2014 sebanyak 1882,5 MW,” ujarnya. Nasri menambahkan, dari total proyek FTP 1 sebanyak 9.975 MW, sebanyak 34 MW sudah diterminasi. "Masih ada beberapa proyek yang kemungkinan diputus, karena tidak ada kemajuan," ujarnya.

Ia juga mengatakan, proyek 10.000 MW memang mengalami keterlambatan. Dari 29 proyek yang seharusnya beroperasi pada 2013, diperkirakan hanya terealisasi 18 pembangkit, sementara sisanya 2014. Penyebab keterlambatan proyek antara lain, pendanaan, pembebasan lahan, perizinan, dan koordinasi antara kontraktor utama dan sub. Pemerintah sebelumnya menargetkan proyek 10.000 MW tahap pertama yang dimulai 2006 selesai pada 2010.

Banyak Kendala

Sejauh ini, memang PLN agak kesulitan dalam menyelesaikan program tersebut, salah satu kendalanya adalah mengenai komunikasi dengan kontraktor, kendala lahan dan masalah sosial lainnya. “Seperti kontraktor yang tidak perform 100% PLTU 10.000 MW tahap 1 dikerjakan kontraktor dari China, kendala komunikasi bahasa dengan mereka, masalah pembebasan lahan, masalah sosial dan masalah lainnya,” jelas Senior Manager Humas Korporat Bambang Dwiyanto.

Menurut Bambang, proyek 10.000 mw tahap I adalah pengalaman pertama PLN bekerja sama dengan kontraktor dari China. Sebelumnya, untuk proyek-proyek pembangkit seperti itu PLN terbiasa bekerja sama dengan kontraktor dari Jepang, Jerman atau Amerika. "Sebenarnya proyek-proyek tersebut dulu digunakan untuk mengantisipasi pertumbuhan beban listrik yang sangat tinggi akhir-akhir ini," kata Bambang.

Sebagai gambaran, tahun lalu pertumbuhan permintaan listrik mencapai 10%. Ini adalah angka pertumbuhan tertinggi selama lima tahun terakhir. Biasanya pertumbuhan sekitar 7-9% per tahun. Di RKAP 2012 awalnya juga ditargetkan 7,5% namun kenyataannya pertumbuhan 10% dan semua harus dilayani oleh PLN. "Ini tantangan besar bagi PLN untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," tukasnya.

Khusus untuk beberapa daerah di Sumatera khususnya di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau, Bambang mengatakan kondisi pasokan listriknya pas-pasan bahkan di saat tertentu pasokan kurang, sehingga terpaksa dilakukan pengurangan beban atau pemadaman bergilir.

BERITA TERKAIT

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Estimasi Risiko Proyek Infrastruktur

    Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pemerintah memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengejar ketinggalan infrastruktur kita.…

Intiland Anggarkan Capex 2 Triliun - Danai Proyek Eksisting

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan tahun ini sebesar Rp 3,3 triliun, PT Intiland Development Tbk (DILD) masih mengandalkan proyek…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Usaha Kecil - UMKM Diharapkan Punya Kreativitas E-commerce

NERACA Jakarta – Ketua Umum Indonesia E-Commerce Association (Idea) Aulia E Marinto mengatakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus…

Ekspor Industri Alas Kaki Menapak Hingga US$4,7 Miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memprioritaskan pengembangan industri alas kaki nasional agar semakin produktif dan berdaya saing, terlebih lagi karena…

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…