Penjualan Unilever Tembus Rp 23,03 Triliun

Kamis, 31/10/2013

NERACA

Jakarta – Dikuartal ketiga tahun ini, PT Unilever IndonesiaTbk (UNVR) mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp23,03 triliun atau naik 13,23% dibanding periode yang sama 2012 senilai Rp20,34 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (30/10).

Dijelaskan, naiknya penjualan bersih seiring dengan naiknya beban pokok penjualan menjadi Rp11,2 triliun dari Rp9,98 triliun. Selain itu, beban pemasaran dan penjualan bertambah menjadi Rp4,86 triliun dari Rp4,28 triliun serta beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp1,53 triliun dari Rp1,16 triliun. Namun penghasilan lain-lain berhasil naik menjadi Rp50,31 miliar dari Rp7,72 miliar.

Sementara itu, laba usaha perusahaan naik menjadi Rp5,49 triliun dari Rp4,93 triliun. Kendati demikian, penghasilan keuangan perusahaan menurun menjadi Rp7,72 triliun dari Rp26,13 triliun dan biaya keuangan berhasil dikurangi menjadi Rp29,22 miliar dari Rp53,74 miliar.

Adapun, laba periode berjalan pada akhir kuartal III/2013 tercatat sebesar Rp4,09 triliun atau naik 12,05 persen dibanding kuartal III/2012 senilai Rp3,65 triliun. Laba bersih per saham dasar meningkat menjadi Rp536 dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp479 per saham. Jumlah aset perseroan per akhir September 2013 tercatat sebesar Rp13,34 triliun, bertambah dibanding posisi akhir tahun lalu senilai Rp11,98 triliun, dengan total utang akhir bulan lalu turun menjadi Rp7,83 triliun dari posisi akhir Desember 2012 sebesar Rp8,02 triliun.

Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Sancoyo Antarikso pernah bilang, hampir seluruh produk consumer goods mengalami kenaikan harga sekitar 5%. Kenaikan harga yang disebutkan tersebut merupakan kenaikan harga rata-rata dari seluruh produk. “Per 7 Oktober kami naikkan harga produk 2% karena pelemahan rupiah terhadap dolar," jelasnya.

Selain pelemahan rupiah, sambung dia, terjadinya kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di awal tahun, dan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi pada Juni juga telah membuat beban pokok penjualan perseroan ikut naik. Oleh karena itu, hal tersebut menyebabkan harga produk yang dijual perseroan mengalami kenaikan hingga tiga kali sepanjang tahun ini.

Pihaknya mencatat, jumlah biaya produksi perseroan naik 7% dari Rp 6,575 triliun di Juni 2012 menjadi Rp 7,056 triliun di Juni 2013. Namun, secara over all pada semester pertama tahun ini perseroan mencatatkan kenaikan laba ke pemilik entitas induk naik 21,21% menjadi Rp2,82 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp2,32 triliun. (bani)