Momen Jelang Puasa Belum Pengaruhi Indeks Rebound

NERACA

Jakarta –Selama sepekan mengalami koreksi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali menunjukkan penguatannya. Bahkan pergerakan indeks sempat menyentuh level 4.000 tanpa harus menunggu akhir tahun seperti diprediksi para analis.

Menurut analis Millenium Danatama Sekuritas Abidin, menguatnya indeks saham sebagai respon setelah mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Oleh karena itu, penguatan indeks dinilai wajar. “Pelaku pasar kembali mengambil posisi beli dan mendorong penguatan bursa dalam negeri," katanya di Jakarta, Rabu (13/7).

Kemudian, menurut dia, pelaku pasar asing yang masih mengambil posisi beli akan berdampak positif pada perdagangan saham Rabu. Tak ayal, tekanan terhadap indeks BEI sedikit mereda, memicu penguatan IHSG perdagangan akan menguat di kemudian hari. Asal tahu saja, pergerakan indeks dalam negeri sangat sensitif terhadap berbagai kejadian dan termasuk soal inflasi musiman jelang puasa dan lebaran.

Namun bagi ekonom Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, pergerakan indeks sambut bulan puasa dan lebaran dinilai tidak terlalu banyak berpengaruh besar. Pasalnya, yang mempengaruhi indeks dalam negeri adalah gejolak harga pasar. ”Saya memprediksikan indeks BEI bisa naik lagi ke level lebih tinggi, karena tingkat perekonomian yang makin membaik dan juga stabilitas politik yang aman,”ungkapnya.

Pergerakan indeks di pertengahan tahun ini, banyak diyakini akan terus tembus di level 4.000. Keyakinan indek BEI tembus level 4.000 disemester dua tahun ini, disampaikan analis PT First Asia Capital, Ifan Kurniawan. Dia menurturkan, peluang indeks untuk mencapai angka 4.000 sangat besar, “Indeks BEI akan dapat berada dalam kisaran antara 4.300 sampai 4.400 poin di pertengahan tahun ini,”ujarnya.

Menurut dia, derasnya investasi asing yang masuk ke pasar domestik mendongkrak indek BEI. Bahkan dia menegaskan, investasi asing yang masuk bukan hanya di pasar uang, instrumen SBI maupun obligasi, namun investasi itu sudah masuk ke sektor infrastruktur.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) realisasi penanaman modal asing pada semester pertama 2011 meningkat 12%, karena pelaku asing lebih optimis melakukan investasi di Indonesia ketimbang di Vietnam yang laju inflasinya mencapai 11%.

Respon Serius

Menurut dia, Indonesia akan banyak diminati pelaku asing apabila pemerintah juga mempersiapkan infrastruktur yang lebih baik. Sebagaimana diketahui, pergerakan indeks yang sempat tembus level 4.000 pada penutupan pasar akhir pekan lalu mendapatkan respon serius dari Menteri Keuangan.

Menkeu Agus Martowardojo pernah mengatakan, pergerakan indeks yang melejit sesaat patut diwaspadai, apakah disebabkan pengaruh fundamental yang baik atau hanya derasnya capital inflow yang masuk belakangan ini.

Tapi pengamat pasar modal dari Henan Putihrai Felix Sindhunata mengatakan, apa yang disampaikan Menteri Keuangan perlu mendapatkan perhatian serius tentang dipengaruhi fundamental yang baik atau tidak. Kendati demikian, IHSG yang tembus level 4.000 harus ditanggapi secara positif.

Menurut dia, pergerakan indeks di rekor baru tidak bisa lepas dari fundamental ekonomi yang positif, nilai kurs rupiah yang menguat hingga laporan kinerja emiten yang positif. Maka tidak heran, indeks di akhir tahun akan melewati level 4.400 dengan syarat dari eksternal baik “Pelaku pasar masih khawatir tentang bailout Yunani dan kondisi perekonomian AS yang cenderung melambat. Risiko tetap di pasar,” jelas dia kepada Neraca, pekan ini.

Felix menyoroti bahwa puncak inflasi tinggi jika pemerintah mencabut subsidi BBM yang rencananya akan dilaksanakan pascalebaran tahun ini. “Pelaku pasar melihat strategi pemerintah mengenai kebijakan BBM subsidi. Ini juga kan belum pasti, jadi masih wait and see,” katanya.

Sementara menurut analis Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman, pencapaian IHSG ke posisi 4.003 poin salah satunya dipicu oleh ekspektasi positifnya laba bersih emiten pada semester pertama 2011 yang akan naik signifikan. "Perkiraan laba bersih yang dicatatkan emiten pada semester awal 2011 positif, sehingga memicu pelaku pasar membeli saham-saham emiten,"ujarnya.

Kemudian analis pasar modal dari NISP Sekuritas, Sigit P. Wiryadi, apa yang disampaikan emiten dalam laporan kinerja dan paparan publiknya belum seutuhnya mendongkrak indeks BEI lebih nyaman di area positif. “Apa yang disampaikan emiten tentang aksi korporasinya belum mampu menyelamatkan indeks dari tekanan,”tandasnya.

Menurut dia, indeks saham di pasar modal dalam negeri masih dipengaruhi kuat sentimen negatif bursa global. Khususnya terkait krisis Yunani dan juga keterlambatan pemulihan ekonomi Amerika.

Kendatipun demikian, sentimen global tidak perlu ditakuti untuk berinvestasi dalam mengoleksi saham-saham yang memiliki kinerja yang baik. Pasalnya, kinerja dan perusahaan yang memiliki performance baik masih sangat menjanjikan untuk berinvestasi long term (jangka panjang). iwan/ardi/ bani

BERITA TERKAIT

Masih Ada Perusahaan Yang Belum Bayar THR

      NERACA   Jakarta – Meski hari raya lebaran idul fitri telah usai, namun masih ada perusahaan yang…

Presiden Belum Tentukan Waktu Bertemu KPK

Presiden Belum Tentukan Waktu Bertemu KPK  NERACA Tangerang - Presiden Joko Widodo belum menentukan waktu untuk bertemu dengan KPK terkait…

Pola Puasa Tepat untuk Pasien Diabetes

Meski diperbolehkan untuk tidak berpuasa, seringkali penderita diabetes tetap mencoba untuk berpuasa agar tetap mendapatkan keberkahan dan pahala di bulan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

SETELAH TERTUNDA SEJAK MARET 2018 - Peluncuran OSS Tunggu Putusan Presiden

Jakarta- Setelah tertunda pelaksanaannya sejak Maret hingga kini, Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, rencana peluncuran sistem perizinan terpadu secara…

PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI - IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

BANK DUNIA TURUNKAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI 2018 - Kebijakan “Pre-Emptive” Redam Gejolak Pasar

Jakarta-Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan pre-emptive (menyerang) dengan menaikkan tingkat suku bunga mendahului The Fed ternyata cukup efektif dalam…