Laba Toba Bara Sejahtera US$8,74 Juta

PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) mencatatkan laba bersih pada pada kuartal ketiga 2013 menjadi sebesar US$ 8,74 juta dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 7,74 juta. Kenaikan tersebut didukung meningkatnya penjualan perseroan yang naik 4,98% secara year-on-year (yoy) menjadi US$ 297,49 juta. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (29/10)

Disebutkan, pada periode ini perseroan menekan beban pokok penjualan terhadap pendapatan tahun ini sekitar 82,25%, dari tahun lalu sebesar 85,6%. begitu juga dengan beban umum dan administrasi dari US$ 21,67 juta menjadi US$ 17,95 juta. Sementara keuntungan yang diperoleh perseroan akibat selisih kurs senilai US$ 4,61 juta. Adapun pendapatan lain-lain bersih perusahaan tercatat sebesar US$ 272.236.

Targetnya, sepanjang 2013 ini PT Toba Bara Sejahtra Tbk mengharapkan dapat memproduksi batubara secara konsolidasian sebesar 5,8 - 6,4 juta ton. Diketahui, perseroan menjadi produsen batubara utama yang mengoperasikan tiga konsesi tambang di Kalimantan Timur. Ketiga konsesi tambang yang saling bersebelahan ini dikelola oleh beberapa perusahaan di lokasi yang dinilai menguntungkan karena dekat dengan pelabuhan sungai setempat. Tercatat, luas keseluruhan konsesi Toba Bara sekitar 7.087 hektare.

Dalam kegiatan bisnisnya, entitas anak perseroan anatara lain PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN) dengan kepemilikan 51%, dan PT Indomining (IM) serta PT Trisensa Mineral Utama (TMU) yang masing-masing sebesar 99,99 % dan 99,92%. diperkirakan, jumlah estimasi sumber daya batubara yang dimiliki perseroan secara keseluruhan mencapai 236 juta ton.

Namun, maklum diketahui, merosotnya harga batubara global telah menekan kinerja perseroan. Sepanjang tahun lalu laba bersih yang dicatatkan perseroan turun menjadi US$11,9 juta di tahun 2012 dari pencapaian laba bersih di tahun sebelumnya sebesar US$115,3 juta. Tercatat, harga jual batu bara pada tahun 2012 turun sebesar 21,0%, atau menjadi US$72,2 per ton dari harga jual di tahun sebelumnya yang mencapai US$91,3 per ton di tahun 2011.

Sementara harga rata-rata acuan batu bara Newcastle pada tahun 2012 menjadi US$96,9 per ton, atau mengalami penurunan sebesar 20,4% dibanding tahun sebelumnya sebesar US$121,2 per ton. Meskipun demikian, perseroan mencatatkan volume produksi batu bara sebesar 8,2% dari 5,2 juta ton selama di tahun 2011 menjadi 5,6 juta ton pada tahun 2012. Sementara itu, volume penjualan meningkat sebesar 0,7% dibandingkan tahun 2011 menjadi 5,5 juta ton.

Kenaikan volume penjualan yang lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan produksi ini menjadi strategi perseroan untuk memperbesar persediaan guna mengoptimalkan volume penjualan pada kuartal ketiga 2013. Selain itu, perseroan juga menyiasati penurunan harga batu bara dan menjaga profitabilitas, antara lain dengan menurunkan biaya pada awal kuartal keempat tahun lalu dengan cara menurunkan nisbah pengupasan dan jarak buang lapisan tanah penutup. (lia)

BERITA TERKAIT

PT Inalum Investasikan Dana US$ 60 Juta - Kembangkan Pelabuhan

NERACA Kuala Tanjung – Perusahaan holding BUMN Tambang, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Persero siap mengembangkan pelabuhan di Kuala Tanjung…

UNIC Siapkan Capex US$ 2 Juta di 2018 - Ganti Mesin Baru

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UNIC) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) berkisar US$…

Pan Brothers Siapkan Capex US$ 30 Juta - Permintaan Pasar Meningkat

NERACA Jakarta –Optimisme pasar tahun depan akan jauh lebih baik dari tahun ini, meskipun dibayangi kekhawatiran kondisi politik yang bakal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Buka Kantor Perwakilan di Mataram

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kantor perwakilan di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk memudahkan penyebarluasan informasi dan edukasi mengenai…

Bank Jateng Terbitkan MTN Rp 1 Triliun

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnis di tahun depan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah alias Bank Jateng menerbitkan surat…

LPKR Bidik Dana Rights Issue Rp 600 Miliar

Butuh modal untuk mendanai ekspansi bisnis di 2018, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada…