Tahun Depan, OCBC NISP Targetkan Kredit 20%​

Rabu, 30/10/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank OCBC NISP menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20% pada tahun 2014, perseroan mengaku optimis meskipun kondisi perekonomian dalam negeri akan dibayangi Pemilu. “Perseroan akan tetap selalu waspada dalam menghadapi gejolak ekonomi global,” kata Presiden Direktur, OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, di Jakarta, Selasa (29/10)

Dari sisi penyaluran kredit, Parwati juga menjelaskan, OCBC NISP mencatatkan outstanding perseroan mencapai Rp61,19 triliun per akhir September 2013 ini. “Tumbuh 21% dalam setahunan dibanding Rp50,52 triliun pada akhir September tahun lalu. Adapun kualitas kredit terjaga yang terlihat dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross di angka 0,7%,” imbuh Parwati.

Parwati juga menjelaskan, untuk penyaluran kredit ke sektor transportasi, logistik, consumer goods atau barang konsumsi, manufaktur, pihaknya masih meyakini akan tetap baik dengan kondisi saat ini.“Tahun depan perseroan masih tetap optimis dengan perekonomian domestik melalui aktivitas Pemilu yang dinilai akan mendorong konsumsi masyarakat dan mendukung pertumbuhan di sektor consumer goods, konsumer akan tetap berjalan. Konsumer kita mayoritas KPR sampai 80%,” kata dia.

Selain itu, OCBC NISP juga memiliki rencana untuk memberikan modal tambahan sebesar Rp100 miliar ke unit usaha syariah (UUS). Hal ini dilakukan untuk mendukung perkembangan bisnis kedepannya, sebelum dilakukan pemisahan usaha atau spin-off. “Untuk syariah kita saat ini masih dibawah Rp2 triliun, belum spin off, direkomendasikan aset diatas Rp5 trilium, jadi belum dalam waktu dekat lah,” kata Parwati.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan OCBC NISP Hartati mengatakan, sampai saat ini permodalan OCBC NISP syariah masih dari modal awal sebesar Rp100 miliar saat kali pertama diluncurkan pada 12 Oktober 2009. Dia mengatakan, awal tahun 2012 lalu, pihaknya diminta oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjelaskan roadmapp spin-off. “Kita memang sudah memiliki rencana untuk lakukan spin off, kita sudah menuju kesana,” kata Hartati.

Sebelum dilakukan spin off, Hartati mengatakan, dilakukan beberappa persiapan yakni penyediaan produk sesuai aturan syariah pada periode 2009-2011. Selanjutnya, meningkatkan kinerja bisnis, baik dari sisi cabang dan aset pada periode 2012-2014. “Fase ketiga itu baru untuk BUS (bank umum syariah), ada tiga hal yakni sistem IT, sumber daya insani (SDM), dan bisnis model seperti apa. Pokoknya sebelum 2023 (tenggat waktu spin-off dari BI),” katanya.

Perseroan mencatat kinerja pembiayaan bisnis syariah tumbuh 185% secara setahunan dari Rp431 miliar pada September 2012, menjadi Rp1,23 triliun pada September 2013. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) naik 136% dari Rp496 miliar menjadi Rp1,16 triliun. Sementara aset umbuh 107% dari Rp782 miliar menjadi Rp1,62 triliun.

Hartati menambahkan, pembiayaan perseroan masih fokus ke sektor produktif dengan porsi 79% dari total kredit, atau sekitar Rp48,34 triliun. Sementara dari jenis kredit, lanjutnya, 42% merupakan kredit modal kerja, 37% kredit investasi dan 21% kredit konsumsi. (sylke)