Perkuat Modal, OCBC NISP Gelar Rights Issue

Bidik Dana Rp 3,5 Triliun

Rabu, 30/10/2013

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) untuk melakukan penawaran umum terbatas (rights issue) VII dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk ketujuh kalinya sebesar Rp 3,5 triliun, direstui para pemegang saham. Itu artinya, aksi korporasi perseroan untuk perkuat modal akan berjalan mulus.

Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja mengatakan, tujuan dari right issue kali ini adalah memperkuat struktur permodalan perseroan. Dana yang dihimpun dari right issue akan digunakan untuk mengembangkan bisnis dan memperluas pertumbuhan usaha dalam bentuk pertumbuhan kredit.“Dana yang diperoleh dari hasil right issue ini setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan untuk mengembangkan bisnis dan memperluas pertumbuhan usaha”, katanya di Jakarta (29/10).

Dalam right issue VII ini perseroan menerbitkan saham baru sebanyak 2,92 miliar saham biasa Atas Nama dengan nilai nominal Rp125 per saham, harga Rp1.200 per saham dan total nilai keseluruhan Rp3,5 triliun. Rights issue tersebut memberikan rasio 500:171, dimana setiap pemegang saham yang memiliki 500 saham dengan nilai nominal Rp125 mempunyai 171 HMETD untuk membeli 171 saham baru dengan harga Rp1.200 per saham dan dibayar penuh pada saat pengajuan pemesanan pembelian saham.

Adapun pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham biasa baru yang ditawarkan dalam right issue VII ini sesuai dengan haknya akan mengalami penurunan persentase kepemilikan sahamnya sampai dengan maksimum 25,5%.“Langkah right issue VII ini sudah mendapat persetujuan dari pemegang saham melalui RUPSLB. Sehingga perseroan akan menjalankan rencana right issue dengan sebaik mungkin”, ujarnya.

Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih 28% menjadi Rp838 miliar pada kuartal ketiga 2013 dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp656 miliar. Menurut dia, kinerja positif dan berbagai inisiatif serta pengembangan beragam produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah menjadi cerminan atas komitmen untuk selalu fokus kepada nasabah.

Perseroan juga mencatatkan pendapatan bunga bersih meningkat 23% dalam setahunan dari Rp1,88 triliun menjadi Rp2,3 triliun. Sedangkan pendapatan non bunga naik 7% dari Rp597 miliar menjadi Rp638 miliar. Hasilnya, pendapatan operasional tumbuh 19% dari Rp2,47 triliun menjadi Rp2,94 triliun. Sedangkan beban operasional naik 14% dari Rp1,44 triliun menjadi Rp1,64 triliun.

Dari sisi penyaluran kredit mengalami kenaikan 21% dari Rp50,52 triliun menjadi Rp61,19 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 17% dari Rp53,62 triliun menjadi Rp62,87 triliun. Sementara total aset bertambah 24% dari Rp71,43 triliun menjadi Rp88,55 triliun.

Adapun rasio keuangan lainnya, tercatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 14,9%, marjin bunga bersih (NIM) 4,2%, rasio kredit terhadap DPK (LDR) 97%, rasio kredit bermasalah (NPL) gross 0,7%, return on assets (ROA) 1,8% dan return on equity (ROE) 12,5%. Sementara itu, sektor Unit Usaha Syariah (UUS) perseroan mencatatkan pertumbuhan laba mencapai 343% dari Rp9,5 miliar menjadi Rp42,3 miliar pada periode ini. Selain mencatat pertumbuhan laba, UUS perseroan juga mencatat pertumbuhan aset sebesar 107% (yoy) dari Rp782 miliar menjadi Rp1,62 triliun.

Di samping itu, ada peningkatan pembiayaan mencapai 185% dari Rp431 miliar menjadi Rp1,23 triliun. Adapun DPK yang berhasil dihimpun perseroan mengalami pertumbuhan sebesar 136% dari Rp496 miliar menjadi Rp1,16 triliun hingga September 2013. Hingga saat ini perseroan memiliki 6 kantor cabang dan 217 kantor layanan syariah yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatra Utara. (nurul)