Masih Wait And See, IHSG Bakal Terkoreksi

Rabu, 30/10/2013

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa sore kemarin, ditutup melemah 27,768 (0,60%) ke level 4.562,770. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 6,731 poin (0,87%) ke level 766,088. Belum adanya katalis positif yang bisa membuat IHSG naik akhirnya investor memilih lakukan aksi tunggu, sehingga transaksi perdagangan sepi.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, pelemahan indeks BEI pada Selasa disebabkan oleh pelaku pasar yang sedang mengantisipasi pertemuan FOMC the Fed pada pekan ini,”Menjelang akan diadakannya pertemuan FOMC, pelaku pasar cenderung mengamankan asetnya, diharapkan hasil pertemuan FOMC pekan ini positif bagi pasar keuangan sehingga pasar saham kembali ke area positif," kata dia di Jakarta, Selasa (29/10).

Dia menambahkan, secara teknikal indeks BEI juga cenderung bergerak melemah setelah penguatan indeks BEI dalam beberapa hari terakhir menguat. Hal senada juga disampaikan Head of Research Asia Valbury Securities, Alfiansyah menambahkan, pasar keuangan sedang menantikan sejumlah agenda penting dalam dua hari kedepan, terutama dari luar negeri yakni pada rapat FOMC pada 29-30 Oktober.

Dari dalam negeri, lanjut dia, pemerintah Indonesia dan BI terus berupaya untuk terus menyelesaikan masalah terkait transaksi berjalan Indonesia yang masih defisit.Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, pemerintah melakukan pengetatan fiskal yang dapat dilihat dari angka defisit yang lebih kecil dibandingkan APBN-P 2013."Pengetatan moneter sudah dilakukan oleh BI yang telah menaikkan suku bunga menjadi 7,25%. Dari kebijakan fiskal, pemerintah memperkecil defisit dari 2,4% di tahun 2013 menjadi 1,69% untuk 2014," katanya.

Berikutnya, pada perdagangan Rabu, indeks BEI diproyeksikan akan bergerak melemah lantaran sikap wait and see pelaku pasar menunggu kepastian sentimen global. Pada perdagangan kemarin, hanya dua sektor yang menguat yaitu aneka industri dan infrastruktur dan sisanya melemah. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 118.294 kali pada volume 4,083 miliar lembar saham senilai Rp 4,358 triliun. Sebanyak 84 saham naik, sisanya 162 saham turun, dan 99 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak mixed menutup perdagangan kemarin. Pergerakan bursa regional sangat fluktuatif, banyak terjadi transisi antara zona merah dan hijau. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Pioneerindo (PTSP) naik Rp 400 ke Rp 4.000, Inti Bangun (IBST) naik Rp 350 ke Rp 6.350, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 330 ke Rp 1.680, dan Duta Pertiwi (DUTI) naik Rp 300 ke Rp 4.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 5.000 ke Rp 170.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 31.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 650 ke Rp 37.450, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 500 ke Rp 67.900.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terpangkas 31,909 poin (0,70%) ke level 4.558,629. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 7,834 poin (1,01%) ke level 764,985. Hanya dua indeks sektoral yang masih bertahan di zona hijau, yaitu sektor agrikultur dan infrastruktur. Selebihnya jatuh ke zona merah sehingga indeks tak mampu bertahan positif.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 67.469 kali pada volume 1,957 miliar lembar saham senilai Rp 2,162 triliun. Sebanyak 86 saham naik, sisanya 133 saham turun, dan 90 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia kompak melemah hingga sesi pertama, karena tekanan jual yang mulai muncul. Sentimen negatif ini menyeret IHSG ke teritori negatif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Inti Bangun (IBST) naik Rp 350 ke Rp 6.350, Bank Mayapada (MAYA) naik Rp 310 ke Rp 1.660, Duta Pertiwi (DUTI) naik Rp 300 ke Rp 4.200, dan SMART (SMAR) naik Rp 200 ke Rp 6.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 750 ke Rp 37.350, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 31.050, Mayora (MYOR) turun Rp 300 ke Rp 29.600, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 300 ke Rp 11.100.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 9,44 poin atau 0,21% menjadi 4.581,10 seiring dengan bursa saham Asia, sedangkannya indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,41 poin (0,31%) ke level 770,41,”Bursa Asia pagi dan termasuk indeks BEI bergerak melemah akibat aksi tunggu terhadap pertemuan the Fed pada pekan ini," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia menambahkan, pelaku pasar di dalam negeri juga sedang menunggu terhadap data inflasi Oktober dan neraca perdagangan Indonesia serta hasil kinerja sejumlah emiten berkapitalisasi besar yang akan diumumkan akhir pekan ini."Kami perkirakan IHSG akan bergerak melemah mengikuti pelemahan bursa regional,"ungkapnya.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 101,89 poin (0,45%) ke level 22.908,47, indeks Nikkei-225 turun 9,98 poin (0,07%) ke level 14.385,82, dan Straits Times melemah 0,63 poin (0,02%) ke posisi 3.208,74. (bani)