Konglomerasi Perbankan ala Grup MNC

SETELAH AKUISISI 30% SAHAM ICB BUMIPUTERA

Selasa, 29/10/2013

NERACA

Jakarta – Kinerja bisnis Grup MNC ternyata tidak hanya agresif di media, tetapi juga merambah di industri keuangan dan bahkan bisnis di sektor ini terus menggurita. Perusahaan milik Harry Tanoesoedibjo ini telah memiliki bank dengan membeli 30% saham PT Bank ICB Bumiputera Tbk senilai investasi Rp 65 miliar.

Menurut pengamat pasar modal dari PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo, agresifnya MNC mengembangkan bisnis di sektor jasa keuangan dengan membeli Bank ICB Bumiputera akan membuka peluang konglomerasi, “Konglomerasi sangat mungkin terbuka bagi MNC, tetapi tidak dalam waktu dekat ini, “ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Senin (28/10).

Namun jika melihat agresifnya pengembangan usaha yang dilakukan grup perusahaan ini, MNC memiliki minat untuk memperkuat bisnisnya di sektor keuangan, “Saat ini perbankan masih didominasi plat merah seperti BRI, BNI, dan Mandiri. Tapi proses yang dilakukan pihak MNC adalah untuk meningkatkan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang selanjutnya menarik pelaku pasar sehingga menguntungkan perseroan.” tuturnya.

Selain itu, dirinya juga menegaskan, sangat mungkin MNC bakal menguasai saham PT Bank ICB Bumiputera Tbk. Alasannya, industri perbankan berada dalam batas normal dibanding industri lainnya. Selain itu, dengan ICB yang belum cukup diminati dan harganya masih relatif murah sehingga menjadi kesempatan pihak MNC untuk mengakuisisi.

Menurut Lucky, hal tersebut membuka peluang untuk kepemilikan kepemilikan mayoritas MNC di ICB Bumi Putera ke depan. Maklum diketahui, untuk menjadi mayoritas saham, pihak-pihak atau perusahaan yang mengakusisi terlebih dahulu akan masuk sebagai pemilik minoritas. Apalagi, kata dia, ICB Bumi Putera memiliki fundamental yang baik. “ICB Bumi Putera memiliki fundamental baik, meski tidak fantastis di industri perbankan, tetapi hal ini jadi peluang MNC karena saat ini bank itu menarik,” ujarnya.

Dia menilai dengan masuknya grup ini di sektor keuangan akan memberikan angin segar bagi MNC dan ICB Bumi Putera untuk menjadikan sahamnya dari posisi netral ke level yang lebih menarik. Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Univ Pancasila Agus S. Irfani, bahwa dengan akuisisi awal MNC grup atas saham Bank Bumiputera, ada kemungkinan menjadi awal bagi grup HT untuk menjadi pemilik saham mayoritas. “Ini awal peluang bagi MNC untuk memiliki saham mayoritas 51%. Namun memang prosesnya lama untuk memiliki 49%-51% saham bank tersebut,”ujarnya.

Selain itu, dia juga menjelaskan proses psikologisnya memerlukan pertimbangan yang lama dari pemilik lama bank. Karena akan ada tarik ulur untuk memperoleh kesepakatan harga. “51% akan membuat HT dapat menjadi pengatur kebijakan pada bank tersebut”, ujarnya.

Dia menambahkan bahwa adanya kepemilikan saham pada Bank Bumiputera nantinya akan memfasilitasi portofolio MNC grup. Dia mengakui bahwa MNC grup sudah memiliki banyak sektor usaha dan di sektor keuangan hanya perbankan yang belum dimiliki. Dia juga menyebutkan bahwa bank menjadi statistik unit penting bagi pemilik MNC grup tersebut. Namun, dalam proses mengakuisisi saham mayoritas, lama tidaknya tergantung pada kesehatan keuangan bank tersebut dan permasalahan internal perseroan.

Menurut dia, jika kesehatan keuangan Bank Bumiputera buruk, proses akuisisi akan semakin mudah.“Kemungkinan untuk memiliki 100% saham atau take over sepertinya tidak. Seperti di TPI, itu karena sudah 5 tahun TPI tdak bagus kesehatan keuangannya. Jadi bisa diambil secara paksa, di Bumiputera akan lebih sulit”, ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa selama kedua belah pihak menyetujui akuisisi tersebut dan tidak melanggar otoritas yaitu Bank Indonesia (BI), menurut dia proses akuisisi hingga 51% merupakan hal yang wajar.

Bagi Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, bukan masalah aksi akuisisi MNC Grup terhadap saham Bank Bumiputera sebanyak 30%. Bahkan dirinya melihat itu sebagai langkah yang baik dari Bank Bumiputera untuk mengembangkan perusahaannya. “Tapi yang juga penting untuk diperhatikan bahwa Bank Bumiputera tidak diakuisisi oleh investor asing melainkan dari dalam negeri. Kalau asing yang akusisi kan kita repot malah nantinya. Uang kita pada keluar semua,”kata dia.

Soal konglomerasi, lanjutnya, hal itu sulit terjadi. Pasalnya peraturan telah menetapkan bahwa akuisisi saham perbankan oleh corporate maksimal 30%. Sedangkan angka 30% belum cukup untuk menguasai dan mengkontrol perusahaan. Lebih jauh, Reza menjelaskan untuk perusahaan perbankan saja untuk mengakusisi suatu bank secara penuh juga terbilang sulit. Bahkan regulator mengaturnya maksimal sebanyak 40%.

Dia mengingatkan, sebenarnya tidak ada yang bisa melakukan konglomerasi pada industri perbankan secara utuh.“Bisa saja sih MNC kuasai Bank Bumiputera, tapi harus punya kendaraan misalnya dengan bikin bank juga lalu tanam investasi sebesar 40%. Tapi itu kan sulit, ini aja MNC tanam investasi di perbankan. Alasannya tentu karena selama ini MNC belum bermain di industri perbankan,” ujarnya. lia/ nurul/lulus/bani