Peran Whistleblower Dibutuhkan - Kasus Suap ATM Diebold

NERACA

Jakarta – Kasus penerimaan sogokan dari Diebold Inc sebagai salah satu perusahaan penyedia anjungan tunai mandiri (ATM) terbesar di Amerika Serikat (AS) dinilai akan sulit ditelusuri kebenarannya sampai dengan tindak lanjut penangkapan pihak yang terkait didalamnya. Pasalnya praktik pelanggaran hukum itu diduga dilakukan secara individu atau melalui oknum. Sehingga diperlukan whistleblower untuk mengungkap pelakunya.

“Kasus ini akan sulit ditelusuri kalau pemberian hadiah yang digembar-gemborkan itu dilakukan secara langsung kepada individu bukan secara koorporasi. Bahkan angka pemberian hadiah yang sebenarnya juga sulit ditelusuri meskipun jumlahnya besar. Apalagi hingga ke detil-detilnya sejumlah uang itu alirannya untuk apa,” kata Direktur PT ICB Bank Bumiputera, Sinbad R Hardjodipuro usai paparan publik tahunan di Menara ICB Bumiputera, Senin (28/10).

Lanjut, Sinbad menjelaskan jika pemberian hadiah dalam pengadaan mesin ATM itu dilakukan secara korporasi tentu dapat dengan mudah ditelusuri. Pasalnya dalam sistem kerja bank setiap pergerakan keuangan pasti tercatat dengan lengkap. Sehingga sangat tidak mudah hal itu dilakukan. “Kemungkinan besar memang pemberian hadiah itu dilakukan secara individu.”

Di satu sisi sebetulnya bank swasta termasuk Bank Bumiputera juga memiliki potensi untuk melakukan praktik suap pengadaan mesin ATM. Namun fakta mengatakan Bank BUMN lah yang mendapat aliran dana tersebut untuk dinikmati para direksi. Untuk hal itu Sinbad menilai bank-bank berstatus BUMN notabene nya merupakan bank besar. Sehingga wajar Diebold lebih memilih bank-bank tersebut untuk tujuan bisnis pengadaan mesin ATM.

“Bank-bank BUMN itu kan besar dengan jumlah nasabah yang juga sangat besar. Nah hal itu jadi suatu potensi mengapa Diebold Inc lebih memilih bank BUMN ketimbang swasta. Jadi pihak penyuap melihat ada peluang dan kesempatan di situ di banding bank swasta,” ungkap Sinbad.

Untuk itu Sinbad mengaku jika ingin mengungkap para pelaku dan kemana saja uang supa itu dialirkan maka diperlukan kehadiran whistle blower yang mampu dan berani buka kesaksian atas kasus tersebut. "Kalau ada whistle blower itu kasus ini jadi gampang. Kalau tidak ada menurut saya ini sangat susah dibuktikan,” tambahnya.

Pada lain kesempatan, Direktur utama Bank Jatim Hadi Suprianto menanggapi, meskipun sempat terdengar ada bank BUMD yang juga terlibat ia meyakinkan bahwa perusahaan yang dipimpinnya sama sekali bersih dari tuduhan itu. Pasalanya Bank Jatim sendiri dalam pengadaan mesin ATM belum pernah diperoleh dengan hasil beli.

“Kasus pengadaannya itu kan kalau gak salah dengan cara beli. Sedangkan kita di Bank Jatim semua mesin ATM nya sewa. Juga perlu diketahui bahwa harga mesin itu mahal sekali dan kami rasa Bank Jatim belum terlalu perlu untuk membeli,” jelas Hadi. [lulus]

BERITA TERKAIT

TKN: Karakter Jokowi Dibutuhkan Untuk Memimpin Indonesia

TKN: Karakter Jokowi Dibutuhkan Untuk Memimpin Indonesia NERACA Jakarta - Debat kedua Pilpres 2019 pada Minggu (17/2) malam siap digelar.…

Gubernur Sumsel: Peran UMKM Strategis Mengurangi Kemiskinan

Gubernur Sumsel: Peran UMKM Strategis Mengurangi Kemiskinan NERACA Palembang - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengatakan, peran usaha mikro…

Peneliti:Kasus Beras Busuk Karena Distribusi Tidak Baik

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…