Laba Bank Jatim Tercatat Rp948,5 Miliar

Kuartal III 2013

Selasa, 29/10/2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) berhasil mencatatkan perolehan laba sebelum pajak sebesar Rp948,5 miliar kuartal III tahun ini. Direktur Utama Bank Jatim, Hadi Sukrianto mengatakan, Ini meningkat sebesar 34,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp704,2 miliar.

Selain itu, Hadi mengatakan, Bank Jatim juga mengalami peningkatan laba bersih sebesar 28,9% year year (yoy). “Tahun ini Bank Jatim mencatatkan laba bersih sebesar Rp681,07 miliar dibandingkana periode yang sama tahun lalu sebesar Rp525,22 miliar,” kata Hadi di Jakarta, Senin (28/10).

Peningkatan laba tersebut, menurut Hadi ditopang oleh penyaluran kredit pada September 2013 yang mencapai Rp21,52 triliun. “Ini tumbuh sebesar 15,34% dibanding tahun lalu,” tambah dia.

Kontribusi terbesar pada penyaluran kredit, tambah Hadi, disumbang oleh Kredit usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui kredit pundi kencana yang mencapai Rp425,7 miliar per September tahun ini, atau melesat sebesar 104,1%. “Sedangkan untuk kredit pemilikan rumah (KPR) meingkat sebesar 83,39% year on year, mencpai Rp941,4 miliar per September 2013,” kata dia.

Sedangkan untuk kredit usaha rakyat (KUR), Bank Jatim mengalami penurunan sekitar 27,12% dari Rp1,9 triliun menjadi Rp1,38 triliun tahun ini. Hadi menjelaskan terdapat masalah pada KUR nya, jadi pihaknya hanya menargetkan sebesar Rp750 miliar. “Biasanya dikisaran Rp1 triliun per tahunnya, sekarang kita mau lihat bagaimana recoverynya, jadi kita pelan pelan untuk KUR ini,” imbuh Hadi.

Kuartal III ini, BPD Jawa Timur ini, mencatatkan tingkat non performing loan (NPL) secara gross meningkat dari 2,72% pada September tahun lalu, menjadi 3,13% di September tahun ini. “Kenaikkan ini utamanya karena NPL KUR yang mencapai 16%, KUR NPL nya kurang bagus, karena masih ada saja masyarakat yang menganggap KUR itu hibah, jadi tak bisa dimungkiri kalau memang ada yang begitu,” ucap dia.

Menurut Hadi, secara keseluruhan, outstanding KUR perseroan yang mencapai Rp1,38 triliun per akhir September 2013, paling besar disalurkan ke sektor pertanian dengan porsi 34%, disusul. Sektor perikanan sebesar 12%.

Hadi menjelaskan, kenaikkan NPL pada KUR ini juga diakibatkan ekspansi kreditnya yang tertahan, sehingga outstanding menurun dan membuat perbandingan dengan NPL semakin besar. “Lalu di pertanian itu ada masalah musim, jadi hasilnya jeblok. Ini kita lakukan restrukturisasi, jangka waktunya diatur kembali. Diharapkan pada akhir tahun NPL turun jadi 10%,” tutur dia.

Untuk meningkatkan ekspansi bisnisnya, Bank Jatim mulai melirik layanan perbankan prioritas terhadap nasabah kaya yang mereka miliki. “Untuk prioritas mungkin pertengahan tahun depan, sedang pemetaan kira kira akan seperti apa,” kata dia.

Menurutnya, sekitar 2,53 juta rekening tabungan dan deposito, sekitar 40% diantaranya, memang memiliki plafon dana setidaknya sebesar Rp250 juta. “Kami berniat membuka layanan priority banking dengan syarat dana sedikitnya Rp250 juta atau Rp500 juta, karena priority banking itu masuk Rencana Bisnis Bank (RBB) 2014,” imbuh dia. [sylke]